Mahadara

Mahadara
episode 27. 1


__ADS_3

...


Hari ini tak seperti hari biasanya. Hari ini Dara bekerja ditemani oleh Dika, laki-laki itu berpakaian sedikit lebih rapih dari biasanya. Kaos putih dengan kemeja flanel dan celana hitam dipadukan dengan sepatu putih. Laki-laki itu duduk dikursi pojok dekat jendela. Tapi dari tempatnya duduk, dia tetap bisa melihat dengan jelas Dara yang sedang bekerja.


Sudah sejak satu jam yang lalu dia duduk disana dengan segelas kopi hitamnya. Tadi, saat ditanya oleh Dara, Dika hanya menjawab mau menunggu sampai gadis itu selesai bekerja. Entah ada apa dengannya hari ini.


Bukan hanya pakaiannya yang lebih rapih, tapi juga tatanan rambutnya pun lebih rapih dari sebelumnya. Sampai beberapa gadis yang ada di cafe itu pun curi curi pandang pada Dika. Dan itu tak luput dari perhatian Dara.


Gadis itu sedikit kesal dengan tatapan para gadis pada Dika. Apalagi terdengar bisik-bisik jika mereka mengagumi ketampanan Dika. Ya memang Dara akui, hari ini Dika terlihat tampan. Mungkin bukan hanya hari ini, tapi memang Dika memiliki wajah yang tampan


.


"Kalian mau kencan ya?" tanya mba Dewi yang melihat Dara sedang memperhatikan para gadis yang mencoba menggoda Dika


"Eh, gak kok mba"


"Terus kenapa dia dateng kesini dengan pakaian rapih gitu?"


"Aku juga gak tau. Ditanya bilangnya cuma mau nunggu aku sampai pulang"


"Duh romantis banget sih dia"


...


"Nih pake helmnya"


"Makasih"


"Udah?"


"Iya udah"


Setelah kurang lebih 15 menit mengendarai motor mereka sampai disuatu tempat.


"Pantai?"


"Iya, sorry ya malam-malam gini gue ngajak lu ke pantai. Soalnya yang sepi cuma pas malem aja sih"


"Iya gak apa-apa"


Udara malam memang cukup dingin. Apalagi mereka berdua yang sedang berada dipinggir pantai. Tapi untung saja Dara membawa jaket seperti biasanya. Memang benar yang dibilang Dika, jika pantai sangat sepi malam hari ini.


"Gue mau tanya sesuatu boleh?"


"Apa?"


"Lu udah nyaman belum sama gue?"


"Eh"


"Hahaha kok lu kaget sih"


"Ya-ya pertanyaan kamu bikin aku kaget"


"Jadi jawabannya?"


"Jujur, iya aku nyaman"


"Sama gue?"


"Iya"


"Makasih"

__ADS_1


"Iya"


"Kok lu jadi gugup gitu sih"


"Hah gak kok, biasa aja"


"Gue suka pantai apalagi malem hari gini, karena disini gue bisa luapin semua perasaan gue. Dan gue suka lu, karena lu bisa membuat gue merasa ada dirumah"


"Hah apa?"


"Apanya yang apa?"


"Tadi yang terakhir kamu bilang apa?"


"Bukan apa-apa kok"


"Padahal aku juga suka sama kamu" Dara bergumam dengan suara yang hampir tak terdengar


"Hari minggu besok lu kerja?"


"Hmm gak, itu jatah aku libur"


"Bagus deh"


"Kenapa?"


"Gue mau ajak lu kesuatu tempat"


"Kemana?"


"Rahasia cantik"


"Ish Dika"


"Hahaha kok merah sih pipinya"


"Hahaha yaudah yuk gue anter lu pulang"


...


Dika mengantarkan Dara sampai depan rumah gadis itu. Setelah turun dari motor dan melepas helmnya Dara bersiap masuk kedalam rumah.


"Makasih ya udah ajak aku kepantai dan anter aku pulang"


"Iya sama-sama"


"Hati-hati bawa motornya"


"Iya siap, nanti gue kabarin kok kalo udah sampe rumah"


"Hah, iya"


"Dara"


"Iya"


"Gue denger ucapan lu tadi...bye"


"Hah"


Dara yang terkejut dengan ucapan Dika dan belum menyadari jika laki-laki itu sudah pergi dari hadapannya. Sampai akhirnya Dara tersadar dan memegang pipinya yang terasa panas. Jujur Dara malu jika Dika benar-benar mendengar ucapannya dipantai tadi. Ah apakah Dara akan sanggup bertemu dengan Dika besok.


"Baru pulang kamu"

__ADS_1


"Ayah"


"Kerja di cafe atau jual diri kamu jam segini baru pulang?"


"Cukup ayah. Ayah boleh benci aku karena aku bukan anak kandung ayah, tapi kenapa ayah selalu menghina aku seperti itu"


"Ya karena kamu sama seperti ayah kandung kamu yang menjijikan"


"Ayah cukup!!!"


"Berani kamu bentak saya"


"Mungkin yang dilakukan ayah dan ibuku adalah sebuah kesalahan. Tapi kenapa hanya ayah aku yang ayah benci, kenapa ayah gak benci juga sama ibu?"


"Dia istri saya, dan dia gak akan mungkin melakukan hal hina itu jika bukan karena rayuan busuk ayahmu"


"Ayah egois, ayah bahkan gak mau menerima kenyataan jika itu juga salah ibu"


"Berani sekali kamu menghina istri saya. Ingat, kalau bukan istri saya yang memohon pada saya untuk merawat kamu, saya pun tak akan sudi merawat anak haram seperti kamu. Dan satu lagi, jangan pernah bawa-bawa istri saya dengan kelakuan murahan kamu itu"


Brak


Sang ayah yang langsung pergi ke kamarnya dengan membanting pintu. Meninggalkan Dara yang terisak dengan tangisnya. Merasakan sakit dihatinya lagi, walau ini sudah kesekian kalinya.


Apa benar semua yang dibilang ayahnya itu. Jika ibunya hanyalah korban dari rayuan ayah kandungnya. Tapi, bukannya ayahnya itu bilang jika ibunya berselingkuh dengan mantan pacarnya. Itu berarti sudah ada hubungan sebelum ibunya hamil dirinya. Lalu bukankah yang namanya perselingkuhan itu ada karena rasa suka keduanya.


Perselingkuhan ada karena keduanya yang saling memiliki perasaan, dan bukan karena paksaan.


Lalu kenapa ayahnya itu hanya membenci ayah kandung Dara, tapi tidak marah pada sang ibu. Dan kenapa ibunya bisa sampai berselingkuh, ada apa sebenarnya dengan rumah tangga mereka. Dara percaya tak mungkin ibunya selingkuh tanpa alasan. Apakah ayahnya itu membuat kesalahan sampai membuat ibunya mencari kenyamanan pada laki-laki lain.


Gue udh sampe rumah


Getaran diponselnya membuat Dara melihat siapa yang mengiriminya pesan. Dan ternyata itu adalah Dika yang memberinya kabar jika laki-laki itu sudah sampai rumah. Sesuai dengan janjinya tadi.


Terimakasih ya buat hari ini


Iya sama sama


Ydh kamu istirahat


Lu jg ya. Slamt mlm


Selamat malam jg Dika


...


Pagi ini Dara berangkat lebih cepat. Setelah menyiapkan sarapan, gadis itu langsung bergegas memakai sepatunya. Dia berniat sarapan disekolah saja dengan bekal yang sudah dia bawa. Dara hanya berniat menghindari ayahnya itu. Rasanya masih cukup sakit mendengar ucapan ayahnya tadi malam.


Saat Dara bersiap untuk berangkat, sang ayah memang sedang mandi dikamarnya. Terdengar dari suara air dari dalam kamar itu. Dara bersyukur tak bertemu dengan ayahnya sampai ia keluar dari rumah.


Angkot yang ia tumpangi belum terlalu banyak penumpangnya. Dan saat sampai disekolah pun masih terlihat sepi.


"Neng Dara udah sampe aja"


"Iya pak, mau dateng lebih cepat aja"


Sapaan dari satpam penjaga sekolah yang melihat Dara datang cukup pagi selain anak-anak yang bertugas piket hari ini.


Dara tak langsung menuju kelas, tapi gadis itu melangkahkan kakinya menuju taman belakang sekolah. Dara berniat memakan bekalnya yang ia bawa tadi. Nasi goreng dengan telur diatasnya adalah menu sarapan favoritnya. Dulu waktu kakanya masih ada mereka sering memasak sarapan itu bersama. Bahkan mereka punya bumbu racikan sendiri untuk masakannya itu.


"Aku kangen kak Rinjani"


Tes

__ADS_1


Setetes air mata itu jatuh dipipinya. Memakan sarapan dengan air mata yang terus menetes membuat hatinya sesak. Kenapa harus dirinya yang merasakan sakit ini. Apakah dia bisa mendapatkan maaf dan kasih sayang dari ayahnya. Walaupun Dara tau dia bukanlah anak kandung dari ayahnya itu. Tapi Dara tetap menyayanginya sebagai ayahnya.


...


__ADS_2