
...
Selama beberapa hari ini sebenarnya Dika menyadari jika Dara sedang menghindari dirinya. Tapi yang Dika tak paham, apa alasan Dara menjauhi dirinya itu. Apa karena pertengkaran antara dirinya dan ayah Dara malam itu.
Malam itu Dika memang terbawa emosi saat menghadapi ayah Dara. Apalagi Arinda yang bercerita padanya kalau Dara yang sering sekali dipukuli oleh sang ayah. Dan Dika yang melihat langsung seperti apa luka dari pukulan itu.
Kemarahannya bertambah disaat Dika mengantar Dara pulang dan menyaksikan sendiri bagaimana seorang ayah yang berkata sangat menyakitkan pada putrinya sendiri itu. Sebenarnya dendam apa yang membuat seorang ayah bisa jadi setega itu pada putrinya.
Dika memang tak mau terlalu ikut campur masalah pribadi Dara. Tapi setelah melihat bagaimana sikap ayah Dara pada gadis it membuatnya merasa harus melindungi Dara. Dia ingin selalu menjaga Dara seperti dirinya yang menjaga sang adik, Selly.
Jika dibilang marah, Dika jelas marah. Selain marah pada ayah Dara, Dika juga marah pada Dara yang terlihat lemah tak mau melawan. Ya dia tau, Dara pasti tak mau melawan karena itu adalah ayahnya. Tapi menurut Dika sikap sang ayah sudah sangat keterlaluan.
"Lu gak jemput, Dik?" ucap Budi yang melihat Dika sedang sibuk dengan kerjaannya
Karena biasanya jam segini adalah jam dimana Dika ijin untuk pergi menjemput Dara disekolahnya. Tapi hari ini laki-laki itu terlihat masih saja berkutat dengan mesin mobil dan peralatan bengkelnya.
"Gak"
"Lah ini kan bukan hari libur" sepertinya Budi masih penasaran kenapa laki-laki itu tak pergi menjemput Dara
Ya, Budi sedikit tau tentang Dara. Mereka memang belum pernah bertemu, tapi Dika sudah sedikit bercerita tentang gadis yang selalu ia antar jemput itu pada Budi temannya dibengkel.
"Dia lagi ngehindarin gue"
"Wah lu bikin salah apa?"
"Gue hampir mukul bapaknya"
"Hah, wah gila lu"
"Bapaknya yang gila"
"Emang kenapa sih bisa lu sampe mau mukul gitu? Gue tau lu gak mungkin main pukul sembarangan aja kayak gitu"
__ADS_1
"Dara sering dipukulin sama bapaknya"
"Astaga. Kok bisa?"
"Ya mana gue tau. Yang gue tau kemarin Dara lebam-lebam dan gue gak bisa terima itu" raut kemarahan terlihat diwajah Dika
Bahkan tangannya sudah menggenggam dengan kencang alat bengkel ditangannya itu. Budi tau, Dika bukanlah orang yang mudah emosi. Tapi kali ini mungkin masalahnya sudah keterlaluan sampai Dika bisa sampai semarah ini.
"Ya tapi lu gak bisa main pukul gitu aja. Inget, jangan sampe lu ngulang masa lalu, Dik"
Budi adalah salah satu temannya yang tau tentang cerita hidup Dika dimasa lalu. Tapi Budi adalah satu satunya teman bengkel yang tau bagaimana Dika dulu. Budi jelas tak mau Dika harus mengulang kejadian masa lalu itu.
"Gak, tapi gue rasanya mau kasih sedikit pelajaran aja buat bapaknya Dara"
"Iya tapi lu juga jangan sampe bertindak ceroboh, Dik"
"Lu tenang aja"
"Dik, gue tau niat lu mau lindungin cewek itu. Tapi lu juga harus hati-hati jangan sampe berurusan sama polisi lagi. Gue gak mau lu harus berurusan sama polisi dan ninggalin adik lu lagi"
...
Dari kejauhan Dika melihat Dara yang sedang melayani pengunjung dicafe. Laki-laki itu sedang duduk dengan segelas kopi hitam ditangannya dan dikursi kecil yang disediakan sang penjual. Dika tak berniat menjemput Dara, dia hanya ingin mengawasi gadis itu dari jauh. Dia hanya ingin memastikan gadis itu baik-baik saja.
Jujur Dika masih khawatir dengan kondisi Dara. Dia takut Dara disakiti lagi oleh ayahnya. Sejak kemarin malam Dika sudah tak lagi mencoba menghubungi Dara. Dia ingin mencoba mengikuti apa yang diinginkan oleh Dara. Jika gadis itu ingin menjau darinya, maka ia akan lakukan. Tapi dia akan tetap mencoba mengawasi gadis itu dari jarak jauh.
Dari jarak yang tak terlalu jauh Dika masih bisa melihat bagaimana Dara yang bekerja tak seperti biasanya. Tak ada senyum diwajah gadis itu. Bahkan Dika bisa melihat bagaimana Dara yang tak merespon saat teman laki-laki yang Dika tau bernama Awan itu mencoba mengajak Dara berbicara. Tapi respon gadis itu terkesan cuek. Dara hanya merespon ketika seorang wanita yang terlihat sedikit lebih tua dari mereka itu mengajaknya berbicara.
Dika masih bingung sebenarnya apa yang terjadi pada gadis itu. Apakah setelah Dika pulang dari rumah Dara pada malam itu, Dara kembali mendapat pukulan dari ayahnya. Apa gadis itu kembali disiksa oleh ayahnya. Memikirkan itu rasanya Dika ingin lari menghampiri Dara sekarang juga dan memeluk gadis itu. Sumpah Dika tak bisa terus melihat Dara diperlakukan seperti itu.
...
Malam ini Dika cukup tenang melihat Dara yang pulang bersama teman perempuan gadis itu yang juga bekerja di cafe. Setelah membayar kopi Dika segera menyalakan motornya dan mengikuti Dara yang sudah jalan lebih dulu bersama temannya itu menggunakan motor.
__ADS_1
Dika mengendarai motornya dengan jarak yang sedikit lebih jauh dari motor yang dikendarai Dara dan temannya. Dika tak mau Dara tau jika dirinya mengikuti gadis itu.
Seperti biasa, Dara turun didepan gang rumahnya. Dika tak mengikuti gadis itu sampai kerumahnya, tapi dia masih memantau dari depan gang. Dika memantau Dara yang berjalan menuju rumahnya dan memastikan gadis itu sampai dirumah dengan selamat.
Dika tak mau melihat Dara yang memasuki rumahnya. Karena dirinya takut melihat lagi ayah Dara yang menyakiti putrinya. Dia takut melakukan hal yang tidak-tidak.
Setelah memastikan Dara memasuki rumahnya barulah Dika kembali menjalankan motornya kesuatu tempat. Dika butuh tenang, rasanya pikiran dan hatinya sedang tak baik-baik saja.
...
Sesampainya Dika tiba ditempat yang sekarang sedang ramai oleh para anak muda itu. Dika langsung menuju seorang laki-laki yang sedang memegang rokoknya dan baru saja keluar dari sebuah ruangan.
"Bang"
"Woy Dika, ada apa lu kesini?" karena biasanya Dika hanya datang disaat laki-laki itu akan balapan saja
"Cuma mau liat anak-anak aja"
"Lagi ada masalah?"
"Sedikit"
"Yaudah masuk gih, tenangin pikiran lu. Jangan disini, yang ada nanti lu makin pusing"
"Thanks bang, gue masuk dulu ya"
...
Disebuah ruangan dengan cahaya lampu yang sedikit redup. Dika mencoba membaringkan dirinya disebuah sofa. Pikirannya masih melayang memikirkan Dara. Dengan mata terpejam, dia mencoba untuk menenangkan pikirannya.
Diluar ruangan terdengar ramai sorak sorai para muda mudi yang sedang menonton balapan. Lain halnya dengan Dika yang didalam ruangan sunyi. Hanya didalam kepalanya saja yang terasa ramai. Jika pemuda lain menenangkan pikiran dengan cara pergi ke club atau minum-minuman beralkohol. Beda dengan Dika yang lebih memilih diam.
Dika memang tak pernah menyentuh alkohol dan rokok. Bukannya sok alim, tapi memang sejak kecil Dika tak bisa akrab dengan asap. Sedangkan untuk alkohol, bagi Dika bukanlah minuman yang enak untuk dinikmati. Itulah sebabnya dia tak penah menyentuh itu semua.
__ADS_1
Pikiran Dika belum juga bisa tenang. Sampai akhirnya laki-laki itu beranjak menuju toilet yang berada diujung ruangan. Keluar dengan rambut yang basah, Dika menggelar sajadahnya. Dia lupa belum sholat isya sejak pulang dari bengkel.
Entah doa apa yang dipanjatkan laki-laki itu sampai tak sadar ada seseorang yang masuk kedalam ruangan.