
...
"Udah selesai, Dik?"
"Iya bang, ada apa?"
"Bantuin gue cek motor anak-anak yuk"
Mungkin dengan Dika sibuk dirinya bisa sedikit melupakan pikirannya tentang Dara. Tentang bagaimana sikap gadis itu padanya sekarang.
...
Di lain tempat seorang gadis yang sedang melamun didepan westafel cafe. Untung saja gadis itu sudah selesai mencuci piring dan gelas-gelas kotornya. Sampai akhirnya sebuah suara membuatnya kaget.
"Hayo lagi mikirin pacar ya"
"Ya ampun mba Dewi ih bikin aku kaget aja"
"Salah sendiri pake bengong disini"
"Untung aja aku udah selesai cuci piring sama gelasnya. Kalo gak kan bisa pecah karena aku kaget"
"Hahaha iya deh maaf. Lagian kamu kenapa sih, lagi ada pikiran yang rumit nih kayaknya"
"Gak ada apa-apa sih mba"
"Tuh kamu tuh selalu bilang gak ada apa-apa. Kamu tuh gak bisa bohong sama mba ya Dara. Ada apa sih?"
"Hmm... Menurut mba Dewi aku salah gak sih udab jauhin Dika?"
"Dika? Pacar kamu itu?"
"Iihh bukan pacar mba"
"Ya oke belum pacar. Tapi kenapa kamu jauhin dia, emang dia ada salah sama kamu sampai harus kamu jauhin gitu?"
"Beberapa hari yang lalu waktu dia antar aku pulang, dia ketemu sama ayah"
"Oh ya, terus?"
"Dika dipukul sama ayah, mba"
"Hah kok bisa?"
"Iya ayah marah karena Dika coba belain aku"
"Astaga ayah kamu tuh emang udah keterlaluan deh. Terus kenapa kamu jadi jauhin Dika?"
"Aku cuma takut, mba. Aku takut Dika berurusan lagi sama ayah. Aku juga gak mau Dika terlibat masalah-masalah hidup aku. Walau Dika udah sedikit tau tentang hidup aku"
"Mba paham gimana perasaan kamu sekarang. Tapi apa itu pilihan yang paling tepat? Dia juga udah baik loh sama kamu selama ini. Mba yakin dia laki-laki yang baik, walau mba belum kenal betul gimana dia sebenarnya. Tapi yang mba liat dia selalu memperlakukan kamu dengan baik"
"Iya sih mba, aku juga merasa bersalah sekarang"
__ADS_1
"Nah coba deh kamu temuin dia dan kalian omongin pelan-pelan. Kalau emang kamu gak mau dia terlalu jauh masuk ke kehidupan kamu ya kamu bilang aja. Kamu juga bisa membatasi diri kalau sama dia kan"
"Iya mba, terimakasih ya mba"
"Iya sama-sama"
...
Pagi ini Dara datang kesekolah sedikit terlambat. Bukan karena harus bertengkar dulu dengan sang ayah. Tapi karena memang Dara yang terlambat bangun. Tadi malam dia tak bisa tidur, dan baru bisa memejamkan mata sekitar pukul 3 pagi. Setelah pulang dari bekerja Dara terus memikirkan ucapan dari mba Dewi tentang Dika. Tentang bagaimana ucapan mba Dewi jika selama ini Dika sudah bersikap baik padanya. Tentu perasaan bersalah semakin membuat Dara tak nyaman dengan semuanya. Dara semakin merasa bersalah dengan sikapnya beberapa hari ini yang menjauhi laki-laki itu.
Datang dengan wajah yang terlihat lesu karena kurang istirahat. Dara duduk dikursinya yang bersebelahan dengan sahabatnya Arinda. Sang sahabat yang melihat Dara datang dengan keadaan yang lesu itu pun langsung melayangkan pertanyaan sesaat setelah Dara duduk dikursinya.
"Kamu kenapa? Sakit?"
"Nda, aku salah banget ya?"
"Salah kenapa?"
"Selamat pagi anak-anak"
Dara belum sempat menjawab rasa penasaran Arinda karena guru sudah lebih dulu masuk kelas mereka.
Dan kini keduanya sedang melanjutkan pembicaraan ditaman belakang sekolah dijam istirahat ini. Keduanya memilih taman karena tempatnya yang nyaman. Arinda tau Dara butuh tempat yang tenang untuk bercerita. Sepertinya gadis itu memang butuh teman cerita sekaligus masukan untuknya tentang masalahnya kali ini.
"Jadi ada apa sebenarnya?"
"Aku salah banget ya, Nda?"
"Salah apa sih,Ra. Kamu dari tadi pagi selalu bilang salah. Apanya yang salah, coba cerita"
"Oalah masalah Dika. Emangnya kamu kenapa sih jadi jauhin Dika gitu. Dika ada salah sama kamu?"
"Gak ada, Nda. Cuma aku aja yang berlebihan"
"Sebenarnya ada apa sih diantara kalian?"
"Beberapa hari lalu Dika antar aku pulang sampai rumah waktu pulang kerja"
"Iya, terus?"
"Dia ketemu sama ayah"
"Hah, serius? Terus gimana,Ra?"
"Dika dipukul sama ayah"
"Astaga, kok bisa?"
"Dia coba buat bela aku didepan ayah. Dan ayah marah makanya sampai dipukul. Malah Dika sempat mau balas mukul ayah juga, tapi aku tahan"
"Ya ampun"
"Aku takut, Nda. Takut kalo Dika berurusan sama ayah atau terlibat terlalu jauh dimasalah hidup aku"
__ADS_1
"Jadi itu alasannya kamu jauhin Dika?"
"Iya, tapi aku merasa bersalah sekarang"
"Kenapa?"
"Gak seharusnya aku jauhin dia kayak gini. Apalagi dia udah baik sama aku selama ini"
"Ra, aku gak tau apa yang ada dipikiran kamu dan gimana perasaan kamu tentang Dika sekarang. Tapi yang aku tau, Dika itu tulus sama kamu, Ra. Dia tulus baik sama kamu, dia tulus mau melindungi kamu. Dan yang aku tau dari Danil, kalau Dika itu rela ngelakuin apa aja demi orang yang dia sayang"
"Orang yang dia sayang?"
"Iya, aku gak tau sih gimana perasaan Dika sama kamu. Tapi menurut aku dia anggap kamu lebih dari seorang teman. Karena sikapnya dia tuh beda banget, Ra, kalau sama kamu. Dia rela anter jemput kamu sekolah bahkan pulang dari cafe malem-malem. Dia baik, Ra"
"Iya sih, dia emang baik banget. Makanya aku ngerasa bersalah sekarang. Apalagi dia juga udah gak hubungin aku lagi sekarang"
"Ciee merasa kehilangan ya"
"Iihh Arinda"
"Ya lagian kamu, kemarin pas masih ada aja dicuekin sampe dijauhin gitu. Sekarang giliran dia ikutan ngejauh ngerasa kehilangan"
"Ya kan kemarin aku belum sadar"
"Terus sekarang udah sadar?"
"Iya udah kok, makasih ya. Aku sedikit lebih tenang sekarang"
"Iya sama-sama. Eh tapi sebenarnya perasaan kamu gimana sih sama Dika?"
"Hah perasaan apa?"
"Ya suka atau udah cinta belum sama Dika?"
"Ihh Arinda apa sih"
"Hahaha pipi kamu merah. Tapi kalau kamu emang udah nyaman sama Dika juga gak apa-apa sih, Ra. Aku dukung kok, karena aku merasa Dika tuh emang orang yang tulus"
"Iya aku setuju kalau dia tuh baik. Dan aku juga bisa merasakan kalau dia itu tulus baik sama aku selama ini"
"Nah kan, jadi kamu akan jadi jahat kalau ngejauhin orang setulus dia tanpa dia tau salahnya dia apa"
"Aaaa Arinda aku jadi makin ngerasa bersalah nih"
...
Setelah mendengar nasihat dari mba Dewi kemarin dan juga dari sahabatnya Arinda hari ini. Pikiran Dara semakin terbuka tentang sikapnya pada Dika yang salah. Dia akui dirinya salah sudah menjauhi laki-laki itu tanpa alasan jelas yang laki-laki itu tau.
Dia takut Dika salah paham dengan sikapnya itu. Dia takut Dika malah balik menjauhinya. Jujur, selain mba Dewi dan Arinda, Dika termasuk salah satu orang yang nyaman untuk dirinya ajak bercerita. Terlebih lagi cara bagaimana laki-laki itu berpikir tentang suatu hal. Sikap dan sifatnya yang semakin lama membuatnya semakin kagum walau dari hal-hal kecil.
Setidaknya, Dara bisa tau bagaimana pandangan laki-laki tentang ceritanya selain para wanita yang selama ini jadi tempat curhatnya. Dara butuh perbandingan untuk bisa lebih terbuka lagi pemikirannya.
...
__ADS_1
"Kangen sama kamu"