
...
Semalaman Dara tak pulang kerumah. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Dika. Apalagi laki-laki itu belum juga sadarkan diri. Sang ayah yang tak peduli padanya juga tak menanyakan kemana putrinya sampai tak pulang. Dan Dara tak perduli juga dengan itu, hatinya sudah cukup lelah memikirkan ayahnya.
Hari ini juga Dara ijin untuk tak masuk sekolah. Selain dirinya yang ingin menjaga Dika. Dara juga terlihat lelah karena belum istirahat sejak semalam. Padahal semua yang ada disana sudah meminta gadis itu pulang untuk istirahat. Apalagi mba Dewi dan Arinda yang tak berhenti meminta Dara untuk sekedar memejamkan matanya yang sudah terliha lelah.
Tepat pukul 9 pagi, Selly datang bersama Budi. Ya, Dara pernah bertemu dengan Budi beberapa kali. Jadi Dara cukup tau siapa yang kini datang bersama dengan Selly.
"Dara" sapa Budi ketika melihar Dara berdiri dari duduknya
"Mas Budi, Selly"
"Kak Dara" Dara yang melihat Selly menangis pun langsung memeluk gadis itu
"Kita berdoa aja ya yang terbaik untuk kakak kamu"
"Gimana kondisi Dika, Ra?"
"Dika sudah berhasil melewati masa kritisnya mas. Gak ada luka yang terlalu fatal juga. Jadi kita hanya tunggu Dika sadar aja"
"Syukurlah. Tapi semalem gue dapet kabar dari yang lain Dika sempat kekurangan darah?"
"Iya, karena stok di sini gak terlalu banyak. Tapi syukurnya teman-teman yang ikut kesini ada beberapa yang golongan darahnya sama. Jadi bisa langsung cepat dapat pendonornya"
"Syukurlah, kebaikan dibalas dengan kebaikan. Gue yakin pertolongan itu balasan dari kebaikannya Dika selama ini"
"Aamiin, semoga semuanya dipermudah ya mas"
"Aamiin"
...
Dara menunggu dirumah sakit berdua dengan Selly. Budi sudah lebih dulu pamit balik ke bengkel karena tadi hanya ijin sebentar untuk menjemput Selly dan juga menjenguk Dika. Teman-teman didepan rumah sakit juga sudah pulang setelah adzan subuh.
Arinda tadi juga mengiriminya pesan, jika gadis itu baru bisa kesana sore hari setelah pulang sekolah. Ponselnya tak berhenti berdering sejak tadi. Entah itu Arinda yang terus menanyakan kondisi Dara atau mba Dewi yang juga tak kalah khawatirnya.
Mba Dewi juga bilang jika Dara bisa ijin tak masuk kerja dulu, nanti mba Dewi yang ijin ke bos mereka di cafe. Tadi pagi juga bang Ronald sempat mampir dan membawakannya sarapan yang dimasak oleh mba Dewi. Dara masih tak menyangka ternyata mba Dewi adalah istri dari bang Ronald, dan terlebih lagi mba Dewi sudah mengenal Dika sebelum dirinya.
"kak Dara"
"iya"
"mas Dika kapan sadarnya?"
"kita berdoa aja ya, semoga mas Dika cepat sadar"
"aku takut kak. Aku udah gak punya siapa-siapa lagi selain mas Dika"
Dara pun langsung memeluk Selly penuh sayang.
__ADS_1
Kakak pun sama Selly, sama seperti kamu yang gak punya siapa-siapa dihidup ini. Tapi kamu masih beruntung punya kakak sehebat Dika
"kamu percaya kan kalau kakak kamu orang yang kuat?"
"iya kak"
"nah jadi kita juga harus percaya, kalau kakak kamu akan sembuh ya"
"iya"
...
Hari sudah menjelang malam, adzan magrib baru saja berkumandang. Dan kini disebuah masjid rumah sakit ada seorang gadis yang tengah menjalankan ibadahnya.
Setelah selesai berdoa, kakinya membawa dirinya kembali ke depan pintu ruang rawat. Dimana sudah ada Danil, Arinda, dan juga bang Ronald. Arinda dan Danil sudah datang sejak sore tadi, sedangkan bang Ronald baru saja sampai. Jika bertanya dimana Selly, gadis itu sudah pulang tadi dijemput oleh mas Budi. Walau sebetulnya Selly ingin sekali menemani sang kakak. Tapi Dara berhasil meyakinkan Selly jika ada kabar tentang Dika, Dara akan segera menghubunginya.
"kamu makan dulu ya, Ra"
"gak laper, Nda"
"kamu harus makan, Ra. Dika kalau tau kamu gak mau makan gini pasti marah deh" kini bang Ronald yang bersuara
"iya, sedikit aja gak apa-apa. Yang penting kamu makan, Ra" Danil pun ikut membujuk sahabat kekasihnya itu
"yaudah deh"
...
"kamu pulang aja, Ra"
"gak bang"
"biar abang yang jaga disini. Kamu kan gak istirahat dari kemarin. Gak enak juga sama orang tua kamu" walau sebenarnya bang Ronald sedikit tau cerita hidup Dara
"gak apa-apa kok bang"
"kamu juga harus jaga kesehatan. Masa nanti Dika sembuh gantian kamu yang sakit"
"..."
"pulang ya? Nanti abang suruh salah satu antar kamu pulang"
"gak usah bang, aku pulang sendiri aja"
"ini udah malam, gak baik anak gadis pulang sendirian. Dika aja selalu antar kamu sampai rumah kan. Nanti abang yang diomelin sama Dika kalau biarin kamu pulang sendiri"
"tapi nanti kalau Dika sadar, bang Ronald kabarin aku ya"
"iya, pasti kok"
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan Dika, Dara akhirnya setuju untuk pulang diantar oleh salah satu teman Dika yang berjaga diluar rumah sakit.
Ya, beberapa dari mereka memang datang dan berjaga lagi di luar rumah sakit seperti kemarin malam.
"terimakasih ya"
"iya, sama sama"
Dara masuk kedalam rumah denga keadaan rumah yang gelap. Mungkin karena sekarang sudah hampir jam 12 malam sehingga ayahnya sudah tidur.
cklek
Lampu tiba-tiba menyala dan ayahnya berdiri didepan sana dengan tatapan dingin lebih dingin dari biasanya.
"masih ingat jalan kerumah ini ternyata kamu"
"maaf, yah"
"sudah berani tak pulang kerumah, dan sekarang pulang hampir tengah malam. Luar biasa"
"..."
"darimana kamu?"
"menjaga teman yang sakit dirumah sakit, yah"
"teman atau preman itu?"
Dara langsung melihat ayahnya. Bisa Dara lihat ada tatapan meremehkan disana.
"apa saya benar?"
"..."
"sebenarnya saya tak peduli apa yang kamu lakukan diluar sana. Hanya saja saya tak suka jika nama saya menjadi buruk karena ulah kamu"
"tapi aku gak melakukan apapun yang membuat ayah malu"
"lalu menurut kamu, menunggu seorang laki-laki dirumah sakit semalaman sedangkan dia bukan siapa-siapa kamu, apa itu tidak membuat saya malu!!!" sedikit berteriak
"ayah tau dari mana?"
"tak perlu tau. Yang perlu kamu tau, kamu sudah membuat saya semakin malu. Dan satu hal lagi, kamu juga sudah membuat malu nama istri saya karena punya anak yang kelakuannya kamu"
Brak
Dara menangis lagi, tapi kali ini dia menangis dalam diam. Air matanya pun tak terlalu banyak, badannya pun masih tegap.
Dara pun berjalan memasuki kamarnya. Setelah bersih bersih Dara membaringkan badannya yang sakit karena tidur dengan duduk sejak semalam.
__ADS_1
Bayangan bagaimana Dika kecelakaan terus berputar dikepalanya. Rasanya tubuhnya benar-benar butuh istirahat. Tapi untuk malam ini, Dara juga butuh istirahat untuk segala penatnya isi kepala.
Kita ketemu dimimpi ya. Good nite