Mahadara

Mahadara
episode 28


__ADS_3

...


Baru saja Dara membuka pintu rumahnya, ia suda dikagetkan dengan suara sang ayah yang duduk disofa ruang tamu. Dara tau apa yang akan terjadi, sehingga gadis itu sepertinya sudah siap dengan apa yang akan diucapkan ayahnya malam ini.


"Sudah berani pulang larut malam terus ya kamu"


"Ayah, ayah belum tidur"


"Darimana kamu?"


"Habis ada urusan, yah"


"Halah, kamu pasti pergi dengan laki-laki itu kan!!!"


Plak


Tamparan itu harus diterima Dara dipipi sebelah kirinya. Tak hanya sekali tapi dua kali ayahnya menampar Dara. Sampai ujung bibir gadis itu mengeluarkan darah.


"Saya sudah menanggung malu karena kelakuan ayah kamu pada istri saya. Jangan sampai kamu membuat saya malu juga sekarang dengan kelakuan kamu"


"Aku buat ayah malu apa?"


"Dengan kelakuan kamu yang selalu pulang malam apa itu menurut kamu tidak membuat saya malu"


"Bukankah ayah bilang ayah gak peduli sama aku"


"Berani kamu membantah saya"


Tangan sang ayah sudah kembali terangkat dan Dara pun sudah menutup matanya bersiap menerima kembali tamparan itu. Tapi Dara tak merasakan apapun dipipinya. Dan betapa terkejutnya Dara melihat siapa yang sedang berdiri dihadapannya saat ini dan memegang tangan sang ayah.


"Cukup om"


"Sialan kamu, berani sekali kamu masuk rumah saya"


"Maaf kalau saya lancang masuk rumah om tanpa ijin. Tapi om juga tak lebih baik dari saya"


"Apa maksud kamu"


Dengan melepaskan tangan ayah Dara, Dika berusaha melindungi Dara yang ada dibalik punggungnya. Dika bisa merasakan Dara menangis, karena terdengar isakan tangis dibalik punggungnya.


"Dihadapan saya saat ini tak lebih adalah seorang pengecut yang hanya berani melukai seorang gadis. Apalagi gadis itu adalah putrinya sendiri"


"Dia bukan putri saya"


"Lalu apa pantas anda melukai anak orang lain dengan tangan kotor anda?"


"Kurang ajar ya kamu" pukulan hampir saja mengenai Dika. Tapi untung laki-laki itu sudah bisa mengantisipasinya


"Jika Dara bisa memilih, saya yakin dia pun tak mau dilahirkan dengan keadaan yang seperti ini. Dia tak bisa memilih siapa orang tuanya dan dengan keadaan seperti apa dia dilahirkan"


"Jangan mengajari saya"

__ADS_1


"Kenapa saya tak boleh mengajari anda. Bagi saja anda hanyalah laki-laki yang tua bukan laki-laki yang dewasa. Anda terlalu egois karena sebuah rasa kecewa. Bahkan ada terlalu pengecut dengan tidak berani kecewa pada istri anda"


"Dika cukup" dengan suara yang lirih Dara mencoba menghentikan Dika


"Gak bisa. Dia sudah keterlaluan"


"Tau apa kamu tentang keluarga saya?"


"Gak penting saya tau tentang cerita keluarga anda. Yang perlu saya tau adalah Dara yang harus saya lindungi dari manusia seperti anda"


"Hahaha sudah diberi apa kamu sama gadis ini? Tubuhnya?"


Bugh


Sebuah pukulan Dika berikan pada laki-laki tua dihadapannya ini. Sudah habis kesabarannya dengan hinaan pria tua itu pada Dara.


"Dika"


"Saya tau anda marah dan benci dengan kelakuan istri anda dimasa lalu yang membuat Dara hadir didunia ini. Tapi anda sama sekali tidak pantas menghina seorang putri yang selalu menyayangi anda dengan tulus. Walau anda tak pernah mau melihat kearahnya"


"Kurang aja kamu"


"Saya justru berpikir, pantas saja dulu istri anda selingkuh. Apa karena kelakuan anda yang seperti ini yang menjadi alasan istri anda mencari nyaman dengan orang lain"


"Kurang aja ya kamu!!!"


"Apa?"


"Jangan sembarangan ngomong ya kamu. Laki-laki itulah yang sudah merayu istri saya, laki-laki brengsek itu yang sudah menghasut istri saya"


"Oh ya, lalu kenapa istri anda mau dirayu jika kasih sayang dari suaminya saja sudah cukup"


"Cukup!!!"


"Kenapa? Anda merasa tersinggung?"


"Diam kamu, kamu gak tau apa-apa"


"Ya mungkin saya memang tak tau apapun. Karena yang saya tau, anda hanyalah seorang pria egois yang tak pernah mau mengakui kesalahan anda. Anda terlalu munafik"


"Pergi kamu dari rumah saya"


"Ingat tuan, saya gak peduli seberapa Dara sayang pada anda. Tapi jika anda melukai Dara lagi, saya yang akan membalasnya"


"Berani kamu mengancam saya!!"


"Ini bukan ancaman, tapi ini sebuah peringatan"


"Pergi kamu!!!"


Dika lalu membalikan tubuhnya dan mendapati Dara yang menangis. Terlihat gadis itu menangis sampai sesak didadanya. Dan Dika langsung menarik gadis itu keluar dari rumah.

__ADS_1


"Duduk dulu ya"


Dika berjalan kearah motornya yang masih terparkir didepan rumah gadis itu. Dara ia dudukan dikursi teras rumahnya.


"Sini aku obatin lukanya. Jangan nangis lagi"


"Auh"


"Maaf"


"Hiks"


"Udah selesai. Udah sekarang lu masuk ya, istirahat"


"Dika"


"Hmm"


"Makasih ya"


"Aku cuma ngebuktiin janji aku sama kamu untuk selalu lindungi kamu. Maaf juga ya udah ngomong kasar sama ayah kamu" usapan lembut itu Dika berikan pada puncak kepala Dara


"Iya"


"Kamu harus janji, kalau ayah kamu sampe nyakitin kamu lagi, kamu harus bilang sama aku"


"Kamu mau apa?"


"Bawa kamu pergi"


...


Dan malam itu Dara tak bisa tidur dengan tenang. Suara amarah dan barang-barang yang terbanting atau mengenai tembok Dara dengar dari kamar sang ayah. Dara tak tau harus bagaimana setelah ini. Mungkin semua yang diucapkan Dika benar, ayahnya memang egois dengan menumpuk semua rasa kecewa bahkan amarahnya pada Dara yang tak mengerti tentang kesalahan orang tuanya dimasa lalu.


Kepalanya pusing, tubuhnya pun lemas. Dara tak bisa berpikir apapun saat ini. Dia hanya mau istirahat yang tenang. Mungkin untuk malam ini Dara harus melakukannya lagi.


Gadis itu mengambil sebuah botol kecil dilaci meja belajarnya. Mengeluarkan isinya sedikit dan meminumnya. Dia tak peduli jika besok akan bolos sekolah. Yang penting dia butuh istirahat sekarang.


...


Sudah cukup lama Dara tak melakukan itu lagi. Obat itu pun sudah tak pernah ia sentuh lagi. Semenjak ada Dika, dirinya merasa punya tempat cerita yang bisa mengurangi sedikit beban pikirannya.


Tapi malam ini, Dara melalukan itu lagi. Jika Dika tau, mungkin laki-laki itu juga akan marah padanya.


Dulu setelah kakaknya meninggal, hampir setiap malam Dara meminum obat tidur itu. Karena setiap malam ayahnya selalu saja mengamuk setelah pulang dari bekerja. Dan tentu Dara yang menjadi sasarannya. Bahkan dulu gadis itu pernah mencoba untuk bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya.


Arinda sempat marah waktu itu. Marah kenapa Dara bisa sampai berpikir untuk menyerah dengan hidupnya. Tapi Arinda pun cukup mengerti beban apa yang sahabatnya itu rasakan. Sejak saat itulah Arinda mencoba membujuk Dara untuk keluar dari rumahnya bahkan tinggal bersamanya. Ayah dan ibu Arinda tentu tak keberatan dengan itu, hitung-hitung sebagai teman Arinda dirumah yang memang seorang anak tunggal.


Dara memang sudah berjanji pada sang kakak untuk mewujudkan keinginan sang ayah dan menjaga ayahnya itu. Tapi sampai kapan Dara sanggup bertahan dengan semuanya. Bahkan semakin hari perkataan ayahnya itu semakin menyakitkan.


...

__ADS_1


"Aku gak main-main sama ucapanku"


__ADS_2