Mahadara

Mahadara
episode 7


__ADS_3

...


Pov Dara


Nanti malam aku diajak oleh Arinda sahabatku untuk nonton balapan motor. Yang Arinda bilang kalau kali ini Dika yang akan ikut balapan itu. Sebenarnya aku masih penasaran dengan laki-laki bernama Dika itu. Entah kenapa aku merasa dia tak seperti laki-laki seumurnya yang lain. Ditambah kata-kata Arind waktu itu, kalau Danil kekasih Arinda punya hutang nyawa pada Dika.


"Nanti malam aku jemput kamu ya Dir" suara Arinda membuatku tersadar dari lamunan


"Hmm gimana ya Nda" sebenarnya aku ragu bisa ikut Arinda nanti malam


"Kenapa sih emangnya? Ayah kamu udah pulang ya"


"Iya, baru aja tadi pagi ayah sampe rumah. Lagi pula aku kan hari ini kerja,Nda"


"Emang kamu ga bisa cuti. Ijin cuti dong Ra, hari ini aja. Soalnya nanti malem tuh yang balapan itu Dika. Dan aku yakin dia pasti makin semangat buat menang kalo ada kamu"


Mendengar nama laki-laki itu disebut entah kenapa ada perasaan bahagia yang aku rasakan. Dan apa tadi yang sahabatnya itu bilang, kalau Dika akan balapan. Ah, aku penasaran seperti apa Dika ketika sedang balapan. Sepertinya juga saran dari sahabatku ini juga tak terlalu buruk.


"Iya deh, nanti aku usahain ijin sama mas Sakti"


"Oke, nanti kabarin aku ya. Aku sama Danil siap jemput kamu"


...


Setelah mendapat ijin cuti dari atasan ku di cafe kini aku sedang mencoba menghubungi Arinda untuk memastikan nanti malam.


"Gimana Ra, dikasih ijin kan sama bos kamu?"


"Iya, mas Sakti udah kasih ijin kok. Jadi hari ini aku cuti kerja"


"Yess, yaudah nanti aku jemput jam 7 ya dirumah"


"Jangan dirumah Nda. Kamu jemput aku di halte depan komplek aja ya"


"Huft, oke deh" walau terpaksa tapi Arinda seolah tau apa maksudku


...


Flashback

__ADS_1


"Halo selamat sore mas Sakti"


"Iya sore Dara. Ada apa nih tumben telpon mas"


"Mas, Dara hari ini mau ijin boleh ga?"


"Loh ada apa Ra? Kamu sakit" ada nada khawatir disana


"Ga kok mas, Dara sehat"


"Terus kenapa?"


"Ada keperluan mas hehe"


"Gayanya kayak orang sibuk ya"


"Hehehe, jadi gimana mas? Boleh ga"


"Iya iya boleh kok. Lagian kamu kan selama ini ga pernah ambil jatah cuti kamu"


"Wah makasih banyak ya mas Sakti yang paling ganteng di cafe"


Untung saja mas Sakti memberiku ijin tanpa banyak bertanya kenapa aku harus ijin hari ini. Yang dibilang mas Sakti benar, aku memang tak pernah mengambil jatah cuti kerjaku selama ini. Ya karena aku yang yak punya keperluan diluar sekolah.


Alasanku juga karena aku menghindari terlalu banyak waktu dirumah karena tak mau terlalu sering bertemu ayah. Dan mas Sakti cukup tau bagaimana kondisi ku dan juga ayah.


Flashback end


"Mau kemana kamu?"


Suara bariton itu membuat langkah kakiku terhenti dan melihat kearah suara itu berasal. Disana, disofa dengan televisi yang menayangkan berita pembunuhan dan secangkir kopi diatas meja yang tadi aku buatkan, ayah berbicara padaku tanpa melihat kearahku.


"Aku mau pergi sebentar yah"


"Udah mulai berani keluar malem kamu. Mau jadi apa? ******?"


Seperti sambaran petir ucapan yang ayah lontarkan sungguh menyakitkan. Tak menyangka apa yang ayah ucapkan barusan padaku. Logika ku masih menyangkal jika ucapan menyakitkan itu datang dari seorang ayah pada anaknya.


"Aku cuma mau main sama teman, yah"

__ADS_1


"Ke klub terus mabuk"


"Aku tau ayah benci sama aku karena ibu. Tapi haruskah ayah seperti ini terus sama aku, aku ini anak ayah juga sama seperti ka Rinjani"


"Cukup !! Berani sekali kamu menyamakan dirimu dengan anak saya. Jangan pernah sekalipun merasa sama seperti Rinjani. Dia anak yang sangat saya banggakan, sedangkan kamu adalah anak pembawa sial. Kamu hanyalah pembunuh istri saya"


Tatapan mataku dan ayah bertemu. Ayah menatapku dengan amarah, terlebih aku menyebut nama ka Rinjani. Bagi ayah hanya ka Rinjani anaknya, anak yang selalu dibanggakan ayah didepan semua orang. Dan hanya ka Rinjani anaknya dan ibu. Ditambah aku melihat ayah mengepalkan tangannya tanda ayah sedang menahan emosinya.


"Kapan, yah. Kapan ayah bisa menganggap Dira juga anak ayah?"


Suara isakan itu tanpa sadar lolos dari bibirku. Seolah tak kuat lagi memahan sesaknya hati ini


"Ga akan. Ga akan pernah saya menganggap kamu sebagai anak. Ingat baik-baik kamu itu hanyalah seorang pembunuh" dengan jari telunjuk yang diarahkannya kearah ku itu menambah rasa sesak didadaku


"Bukan aku yah. Bukan aku yang membuat ibu pergi, bukan aku juga yang membuat ka Rinjani pergi hiks" tanpa sadar pipiku sudah basah dengan air mata


"Sekali saya bilang kamu pembunuh ya tetap pembunuh"


"Hiks hiks" tak tau lagi aku harus bicara apa pada ayahku.


Perasaan sesak itu memenuhi rongga dadaku yang membuaku tak lagi sanggup berbicara


"Sana pergi. Terserah mau kemana kamu pergi, menjadi ****** pun saya tak peduli !"


Ayah meninggalkanku dan masuk ke kamarnya. Aku berusaha menghentikan tangisku, menghentikan sesaknya dadaku.


Dan menghapus air mataku, agar Arinda dan Danil tak curiga padaku. Entah kenapa aku masih saja gampang menangis, padahal kejadian seperti ini sudah sering aku rasakan. Kata-kata menyakitkan ayah, hinaan dan cacian dari ayah, bahkan sampai kekerasan fisik yang ayah berikan juga sudah aku terima. Tapi kenapa aku masih saja menangis jika itu semua terulang.


Setelah memastikan wajahku sudah cukup baik, maka aku segera keluar rumah untuk menemui Arinda ditempat janjian kita. Dijalan menuju halte depan komplek rumahku. Aku berjalan dengan tangan yang terus memegang dadaku.


Ucapan-ucapan ayah tadi seakan masih bisa aku dengar dengan jelas ditelinga. Dan tatapan marah ayah ketika aku membahas tentang ka Rinjani dan ibu sembat membuatku takut. Entah harus berapa kali lagi aku menjelaskan pada ayah kalau bukan aku yang membuat ibu dan ka Rinjani pergi. Bahkan tanpa ayah sadar, jika ka Rinjani pergi karena ayah sendiri.


...


Untung saja Arinda dan Danil tak menyadari aku yang habis menangis. Mungkin juga karena malam sehingga membuat pandangan mereka padaku tak terlalu jelas. Tapi syukurlah, jadi aku tak perlu susah payah menjelaskan pada mereka, terlebih pada Arinda yang aku tau pasti akan khawatir. Aku tak mau membuatnya tak nyaman menikmati malam ini.


Disinilah aku sekarang, diparkiran tempat Danil balapan seminggu yang lalu. Dan disini juga aku bertemu laki-laki bernama Dika itu. Laki-laki yang sosoknya kini tak jauh dariku, dia baru saja turun dari motornya dan melepas helmnya. Dengan kaos hitam bertuliskan "mine" dilapisi dengan jaket jeans berwarna hijau tua, ditambah celana jeans dengan bagian lutut yang robek, belum lagi sepatu hitam itu dia melangkah mendekat ke arahku. Ah mungkin lebih tepatnya ke arah Danil, kekasih Arinda itu.


Ternyata Dika ganteng juga

__ADS_1


...


__ADS_2