Mahadara

Mahadara
episode 29


__ADS_3

...


Pagi harinya Dara terbangun saat jarum jam menunjukan pukul 8 pagi. Benar saja dugaan Dara jika dirinya akan telat sekolah hari ini. Dara pun sudah menghubungi Arinda tadi malam.


Besok ijinin aku sakit ya, Nda


Setelah mengirimkan pesan itu Dara langsung mematikan ponselnya. Dia tau Arinda akan terus bertanya tentang kondisinya. Tapi Dara benar-benar butuh tenang sekarang.


Setelah mandi dirinya langsung keluar kamar dan menuju dapur. Bagaimana dengan ayahnya, sarapan apa ayahnya tadi pagi. Rasanya Dara ingin egois kali ini.


Saat dirinya melewati meja makan, terlihat ada piring kosong disana. Mungkin ayahnya membuat sarapannya sendiri. Kembali berjalan menuju dapur, Dara bisa melihat dapur yang berantakan. Wajan yang masih diatas kompor, kulit telur yang berceceran, dan hampir saja Dara terjatuh karena tumpahan minyak.


"Huft"


"Bikin roti aja deh"


Dara menikmati makannya dengan diam. Pandangan mata yang kosong dan perlahan meneteskan air mata. Entah apa sekarang yang dirasakan, hatinya kosong, pikirannya pun tak tau kemana. Tapi dadanya terasa sesak.


Tok tok tok


Tiba-tiba ketukan pintu rumah membuatnya kembali dari alam lamunan. Buru buru Dara menghapus air matanya dan berjalan menuju pintu rumah.


"Tumben ada tamu"


"Siap...a"


"Nih sarapan"


"Dika, kok bisa kesini?"


"Aku boleh duduk?"


"Eh iya silahkan masuk"


"Diluar aja, udaranya masih enak"


"Iya"


"Kok bisa disini?"


"Tadi Arinda bilang katanya kamu gak sekolah karna sakit"


"Iya aku telat bangun"


"Tapi kamu chat dia tadi malam"


"Eh ee itu"


"Ada apa?"


"Iya tadi malam aku gak enak badan"


"Sekarang masih gak enak badan?"


"Udah mendingan kok"


"Gak bohong kan?"


"Hah gak"


"Ayah kamu gak apa-apain kamu kan setelah aku pulang?"


"Gak, ayah langsung masuk kamar"


"Bagus lah"


"Makasih ya"

__ADS_1


"Buat apa?"


"Udah mau bela aku tadi malam"


"Sesuai janji"


"Kamu gak ke bengkel?"


"Setelah memastikan bidadari sarapan aku baru kebengkel"


"Bidadari"


"Iya kenapa? Atau mau dipanggil yang lain?"


"Eh gak" pipi Dara rasanya panas, padahal pagi ini cuacanya belum terlalu panas


Dan Dika bisa melihat semburat merah dipipi Dara. Dika suka melihat gadisnya tampak malu-malu seperti itu.


"Yaudah dimakan ya, aku pergi dulu"


"Iya, makasih ya"


"Makasih apa?"


"Ma-makasih pangeran"


Bruk


Belum Dika menjawabnya, gadis itu sudah lebih dulu masuk kedalam rumahnya. Menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah karena malu. Dan juga jantungnya yang hampir saja berhenti.


Entah ada apa dengan laki-laki itu pada Dara pagi ini. Kenapa Dika manis sekali dipagi hari ini. Membuat hatinya yang tadi terasa kosong, kini seolah dipenuhi oleh bunga bunga yang mekar.


"Hahaha lucu banget"


"Jantung aku" ternyata gadis itu masih berdiri dibalik pintu dan tak lama mendengar suara motor Dika pergi meninggalkan rumahnya.


"Tuh anak kesambet apa sih"


"Tadi dia lewat jalan angker kali ya"


"Ini gimana sih normalin detak jantung"


...


Hari ini Dara benar-benar tak ingin melakukan apapun. Bahkan gadis itu juga ijin dari kerjanya, dan tadi juga mba Dewi sempat menelponnya memastikan Dara yang baik-baik saja. Walau tak bisa berbohong tapi Dara berusaha meyakinkan mba Dewi jika dirinya memang baik-baik saja. Arinda juga sempat menghubunginya tadi. Gadis dengan lesung pipi itu cemas dengan kondisi sahabatnya itu. Arinda memang sudah tau apa yang terjadi pada Dara tadi malam setelah memaksa Dika untuk bercerita. Tapi Arinda bersikap seolah dirinya tak tau apapun dihadapan Dara. Arinda hanya akan menunggu sampai Dara mau bercerita sendiri padanya.


Cklek


Suara pintu rumah terbuka, jarum jam sudah menunjukan pukul 7 malam.


"Ayah" Dara bergumam melihat sang ayah yang baru saja mamasuki rumah


"Buatkan saya teh hangat" itulah ucapan pertama yang Dara dengar setelah ayahnya sampai dirumah


Tak ada ucapan selamat malam atau ucapan hangat lainnya. Entah kapan Dara akan mendengar suara hangat ayahnya saat berbicara dengannya.


"Ini tehnya yah"


Dara menyuguhkan teh hangat itu dimeja ruang keluarga. Karena setelah membersihkan diri, kini ayahnya sedang duduk disana dengan kaki yang menyilang.


Byurrr


"Kamu tuli!!!"


"Saya bilang teh hangat bukan teh panas"


Prang

__ADS_1


Cangkir teh itu pun pecah mengenai tembok dan pecahannya hampir saja mengenai kaki Dara.


"Tadi Dara bikinnya hangat, yah"


"Banyak alasan kamu, sama seperti ayahmu itu"


"Ayah cukup!!"


"Apa, berani kamu membentak saya hah"


"Dara mohon ayah cukup. Apa selama ini ayah gak puas membenci Dara. Apa ayah kurang puas sudah menyakiti Dara"


"Karena kamu pantas mendapatkannya"


"Kalau boleh memilih, Dara juga gak mau lahir karena hasil dari sebuah kesalahan"


"Iya karena memang ayah kamu yang gak tau diri itu kamu ada didunia ini"


"Ayah juga tak lebih baik dari ayah kandungku"


"Jangan pernah samakan saya dengan pria brengsek itu"


"Lalu kenapa ibu bisa berselingkuh? Aku yakin ibu tak mungkin melakukan itu tanpa alasan"


"Karena ibumu sudah dihasut oleh laki-laki itu"


"Atau karena ibu lebih nyaman dengan ayahku, mantan pacar ibu itu"


"Jaga ucapanmu, istriku itu orang baik"


"Yang aku tau, jika ibu tak pernah mencintai anda. Anda lah yang memaksa untuk menikahi ibu waktu itu"


"Jaga ucapanmu"


Plak


Tamparan pun kembali diterima Dara malam itu.


"Apakah aku benar ayah? Bahkan saat ibu hamil kak Rinjani pun kalian belum melakukan pernikahan. Lalu apa bedanya aku dan kak Rinjani yang sama sama anak diluar pernikahan. Anak haram, begitu anda menyebutnya kan"


"Cukup!!! Jangan pernah kamu menyamakan dengan putri saya Rinjani. Dia tak sama seperti kamu"


"Apa bedanya ayah? Apa bedanya? Apa karena kak Rinjani adalah hasil anda menjebak ibu agar mau anda nikahi?"


"Kurang ajar kamu!!! Kamu gak tau apa-apa tentang saya dan istri saya. Bahkan kamu saja tak pernah bertemu dengannya"


"Ya, dan saya bersyukur ibu sudah lebih dulu pergi, dibandingkan hidup dengan laki-laki egois yang tak ia cintai"


"Cukup!!!"


Plak


Kembali tamparan itu harus diterima Dara.


Brak


Bantingan pintu menandakan jika pertengaran malam itu berhenti, bukan selesai. Dan Dara kembali mendengar lemparan barang-barang dari dalam kamar ayahnya itu.


Untuk segala fakta yang Dara ucapkan tadi adalah fakta yang baru saja Dara ketahui siang tadi. Dimana Dara yang sedang meletakan barang-barang tak terpakai yang baru selesai dibereskannya dari kamar ke ruangan gudang didekat dapur.


Dan tak sengaja Dara melihat tumpukan barang-barang kakaknya. Didekat tumpukan barang-barang kakaknya itu, Dara melihat sebuah buku dengan sampul kulit berwarna coklat yang sudah lusuh.


Dengan rasa penasaran Dara pun membukanya dan menemukan.


Ibu


...

__ADS_1


__ADS_2