Mahadara

Mahadara
episode 18


__ADS_3

...


Mungkin hari ini adalah hari yang tak baik untuk Dara. Tadi saat dirinya pulang dari bekerja, ayahnya sudah menunggunya diruang tengah rumah mereka. Saat Dara masuk kedalam rumah, ia melihat sang ayah yang memangdangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Baru saja Dara menutup pintu rumah sang ayah menyambutnya dengan kata-kata yang menyakitkan.


"Selain kerja jadi pelayan, kamu jual diri juga"


"Maksud ayah?" Dara jelas terkejut dengan perkataan sang ayah


"Gak usah jadi perempuan murahan. Saya minta kamu untuk jadi dokter bukan jadi perempuan yang jual diri"


"Aku gak melakukan itu ayah"


Plak


Tamparan itu membuat pipi kiri Dara merah bahkan sudut bibirnya berdarah.


"Lalu apalagi yang kamu lakukan dengan laki-laki yang mengantarmu setiap hari itu"


"Dia teman aku"


"Saya gak yakin ada yang mau berteman dengan perempuan seperti kamu"


"Apa aku sehina itu dimata ayah, sampai ayah berpikir aku tak pantas memiliki teman?"


"Lalu kamu mau saya bagaimana? Saya banggakan? Ingat, kamu itu bukan anak saya"


Bugh


Pukulan diperutnya akibat tendangan dari sang ayah membuatnya terjatuh disudut ruangan. Rasa nyeri disekujur tubuhnya mulai terasa. Bahkan jambakan dirambutnya yang sekarang dilakukan sang ayah juga menambah rasa sakitnya malam ini.


"Ingat, tugas kamu hanya memenuhi janjimu pada saya. Tapi kamu juga harus ingat, jangan membuat saya malu dengan kelakuan rendahan kamu"


...


Entah apa yang ada dipikiran sang ayah dan berpikir jika dirinya berkelakuan yang membuat ayahnya itu malu. Dara tak merasa melakukan perbuatan yang tak baik. Selama ini dia hanya bersekolah dan bekerja di cafe. Dara tak pernah melakukan hal-hal yang terlarang atau pergi ketempat-tempat yang tak baik. Apa sebegitu besarnya rasa benci sang ayah pada dirinya sampai-sampai apapun yang dilakukan Dara terlihat hina dimatanya.


Dara berpikir, sebenarnya apa yang masih membuatnya bertahan. Apa untuk kebahagiaan sang ayah atau kebahagiaan dirinya. Ayah yang selalu berkata jika Dara bukanlah putrinya memang selalu itu yang terucap. Apa kepergian istri membuatnya menjadi pembenci. Lalu apakah Dara salah jika dilahirkan dari istrinya? Apakah kepergian istrinya sepenuhnya salah Dara? Kalau boleh memilih pun, Dara tak mau dilahirkan lalu ditinggalkan ibunya.


Dara tau, jika ibunya meninggal sesaat setelah dirinya lahir. Tapi apa itu memang kesalahan Dara? Kakaknya pernah bercerita, sejak hamil Dara ibunya itu memang sudah mulai sakit-sakitan. Dan sang ayah yang tak terlalu perhatian pada sang ibu. Apakah memang Dara adalah anak yang tak diinginkan oleh ayahnya?


Pertanyaan demi pertanyaan terus ribut dikepalanya. Malam ini Dara tak bisa tidur dengan nyaman. Tubuhnya sakit, hatinya perih dan pikirannya ribut luar biasa. Rasanya Dara ingin melepas jiwa dari tubuhnya itu sebentar saja untuk bisa menghilangkan semua perasaan itu.


Disaat Dara mencoba untuk memejamkan matanya. Suara notif dari ponsel membuatnya harus melihat siapa yang mengiriminya pesan malam-malam begini.


Udah tidur?


Ternyata itu pesan dari Dika. Tak biasanya laki-laki itu mengiriminya pesan malam-malam begini


Belum, ada apa?


Gak apa apa, gue cuma khawatir

__ADS_1


Khawatir?


Iya, tiba tiba aja gue kepikiran lu


Aku? Kok bisa?


Ya mana gue tau. Tp lu baik baik aja kan?


Iya, aku baik baik aja


Beneran? Kalo ada apa apa bilang sama gue


Iya beneran kok. Makasih ya


Untuk?


Untuk perhatian kamu


Iya, sama sama. Ydh sana tidur, udh malem


Iya, kamu jg ya


Selamat malam


...


Pagi ini Dara datang kesekolah dengan masker diwajahnya. Arinda yang melihat sahabatnya itu tentu merasa ada yang tak baik. Dara baru saja memasuki gerbang sekolah disaat Arinda baru saja turun dari motornya di parkiran sekolah. Gadis itu pun langsung berlari mengejar langkah kaki Dara yang terlihat lesu itu.


"Dara" tepukan dipundaknya membuat Dara menghentikan langkah kakinya dan menengok kearah suara itu


"Iya. Kamu kenapa?"


"Apanya yang kenapa?"


"Itu masker. Aku yakin kamu gak lagi batuk atau flu" tunjuk Arinda pada masker yang dipakai Dara


"Oh gak apa-apa, cuma lagi mau pake aja"


"Ayok kekelas, kamu harus cerita semuanya"


Arinda tau ada yang tak beres. Jadi dia lebih memilih langsung mengajak Dara kekelasnya untuk bercerita. Karena Arinda tau, Dara tak akan berbicara jika terus ditanya seperti itu.


"Sekarang kamu buka"


Dara yang paham maksud Arinda pun langsung membuka maskernya. Tapi tak lama, setelah Arinda melihat wajahnya, Dara kembali memakai maskernya lagi.


"Astaga Dara, kamu kenapa lagi? Ayah kamu lagi?" Arinda jelas terkejut dengan keadaan wajah sahabatnya itu


Walau Arinda bukan pertama kali melihat luka ditubuh Dara. Tapi rasanya luka kali ini cukup parah. Pipi yang merah dan sudut bibir yang membiru membuatnya berpikir apa yang dilakukan ayah dari sahabatnya itu sudah keterlaluan.


"Dia bilang aku jual diri" dengan wajah yang menunduk itu Dara mencoba menahan tangisnya

__ADS_1


"Ya ampun, keterlaluan"


"Dia bilang, aku gak boleh bikin dia malu dengan kelakuan aku. Emang kelakuan aku buat malu ya, Nda?" dengan mata yang berkaca-kaca itu Dara mencoba menatap Arinda


"Gak, kamu itu baik, Ra. Kamu cewe yang baik banget, jadi plis jangam dengerin omongan ayah kamu itu. Kan kamu tau sendiri gimana gak sukanya dia sama kamu. Aku dan semua yang kenal sama kamu pasti setuju sama aku kalo kamu itu baik banget, kamu itu luar biasa, Ra"


"Tapi kenapa ayah benci banget sama aku, Nda"


Pelukan hangat dan elusan ringan dipunggung Dara diberikan oleh Arinda.


Suasana kelas belum begitu ramai, jadi kedua sahabat ini tak merasa terganggu untuk. Apalagi Dara yang bisa merasa lebih baik untuk bercerita.


"Apalagi yang dilakuin sama ayah kamu?"


Dara tak menjawab pertanyaan sahabatnya itu, tapi dia menunjuk perutnya. Dengan perasaan takut dan penasaran Arinda menyentuh perut Dara dibagian kanan. Ada rintihan dari bibir Dara ketika dirinya menyentuh perut itu.


"Pelan-pelan, Nda"


"Kita ketoilet"


Bel sekolah memang masih 15 menit lagi. Dan kelas sudah mulai ramai oleh siswa yang datang. Jadi Arinda memilih untuk ketoilet untuk memastikan apa yang ia sentuh tadi.


"Astaga Dara" Arinda terkejut melihat luka lebam diperut sahabatnya itu


Arinda lemas melihat kondisi sahabatnya itu. Ia pun langsung memeluk Dara dan menangis.


"Jangan nangis, Nda. Aku gak apa-apa kok"


"Jangan pernah bilang gitu sama aku disaat kondisi kamu kayak gini, Ra. Jangan bohong, kalo kamu sakit ya bilang sakit. Jangan terus bohong dan pura-pura kuat terus. Ayah kamu udah keterlaluan"


...


Sepulang sekolah Dara sedang menunggu Dika dihalte depan sekolah. Awalnya gadis itu menolak tawaran Dika yang mau menjemputnya. Tapi, Dika berhasil mengancam Dara jika dirinya tak mau dijemput oleh Dika maka gadis itu tak boleh lagi bertemu dengan Selly. Tentu Dara tak mau itu terjadi. Dara sudah merasa cocok dengan Selly. Dan Dara juga sudah berjanji untuk jadi teman Selly. Jadi, Dara tak mau Dika melarangnya untuk bertemu dengan adik laki-laki itu.


"Tumben pake masker" sesampainya dihalte Dika langsung merasa aneh dengan Dara yang tak biasanya memakai masker


"Iya, lagi flu"


"Ayok naik"


...


Dika tak langsung mengantar Dara ke cafe. Gadis itu bilang dia sedang ijin tak bekerja hari ini dengan alasan kurang sehat. Tapi anehnya saat Dika ingin mengantarnya pulang. Dara meminta untuk mampir kesebuah taman.


"Lu yakin lagi flu?"


"Humm, iya"


"Liat gue. Coba lu buka"


Dengan perlahan Dara membuka maskernya. Dan betapa terkejutnya Dika melihat luka diwajah gadis itu. Tangannya mengepal dan raut wajahnya langsung memerah seperti menahan amarah. Matanya terlihat marah tapi juga khawatir. Dika bingung harus bereaksi seperti apa setelah melihat kondisi Dara. Tapi yang Dika tau, Dara sedang tak baik-baik saja.

__ADS_1


...


"Gue gak terima lu diperlakukan kayak gini"


__ADS_2