Mahadara

Mahadara
episode 6


__ADS_3

...


Diruangan khusus ini Dika dan Danil sedang bersiap untuk balapan. Lebih tepatnya Danil yang akan balapan malam ini. Danil sedang menunggu Dika ditemani bang Ronald dan sebatang rokok ditangan masing-masing.


"Woy, Dik"


"Baru dateng lu?" sapa Dika yang datang dari balik pintu


"Iya nih. Eh lu ikut gue yuk" ajak Danil yang seolah bersemangat itu


"Kemana?" dengan raut wajah bingung Dika pun mengikuti langkah kaki Danil


"Temuin cewek gue"


"Lu ngajak Arinda?" ya, Dika sudah mengenal Arinda.


Karena memang Danil sudah beberapa kali mengajak kekasihnya itu ketempat ini


"Iya, dan sama sahabatnya"


Kerutan di kening Dika menandakan kebingungannya atas ucapan sahabatnya itu


"Cewe, cantik plus imut. Dan dia itu cerdas"


Tak ada respon apapun dari Dika


"Namanya..."


"Siapa?"


"Hahaha penasaran juga kan lu" tawa dari Danil membuat wajah Dika berubah menjadi kesal


...


"Sayang" sapaan Danil itu membuat dua orang gadis yang sedang berbisik menoleh kearahnya


Tanpa Dika sadari, seorang gadis yang berdiri disebelah kanan Arinda kekasih Danil mengunci pandangannya. Ternyata benar kata Danil gadis itu cantik dan imut. Tapi entah kenapa Dika melihat seolah ada kesakitan yang disembunyikan dalam tatapan matanya.


Ternyata namanya Dara


Entah apa yang dirasakan Dika saat ini. Sejak perkenalannya tadi dengan gadis bernama Dara itu kini hatinya seolah ada angin segar yang sejuk. Dika sebenarnya tau jika sejak tadi Dara memperhatikannya.


Entahlah dia yang terlalu percaya diri atau memang benar jika Dara memperhatikannya disana. Walau jarak diantara mereka cukup jauh, tapi Dika tau kemana arah pandang Dara.


"Kayaknya ada yang gugup karna dipandangin calon pacar nih"


"Hah calon pacar siapa?"

__ADS_1


"Itu bang calon pacarnya si Dika"


"Wih, Dika bisa suka sama cewe juga ternyata hahaha"


"Sialan lu bang"


"Tapi gue penasaran deh. Siapa sih calon pacaranya Dika"


"Ini ngapain jadi ngurusin gue sih"


"Itu bang, sahabatnya cewek gue"


"Oh yang pake baju biru itu tuh"


"Yoi bang"


"Pantes aja dari tadi tuh cewe liatin ke arah sini terus"


Setelah perdebatan atau bisa dibilang aksi meledek Dika. Kini Dika dan banh Ronald sedang membantu Danil untuk bersiap balapan. Danil mungkin memang tak sejago Dika dalam hal balap motor, tapi Danil juga cukup mahil menunggangi kuda besi itu. Terbukti dengan Danil yang menjadi juara 2 balapan malam ini.


"Besok pas lu balapan, gue ajak Dara lagi deh biar lu makin semangat"


Setelah selesai balapan dan berpamitan dengan bang Ronald karena Danil yang tak bisa pulang terlalu larut malam sebab dia harus mengantar Arinda dan Dara pulang. Danil paham tak baik membawa anak gadis pulang terlalu larut malam. Dan dijalan menuju dimana kekasihnya itu berada, Danil masih saja menggoda Dika tentang Dara. Yang Dika tangkap dari ucapan Danil tadi adalah Dara yang pintar dan sering mengikuti olimpiade sains.


...


Setelah pamit dengan teman-teman di bengkel yang memang ada beberapa yang masih bersiap untuk pulang.


"Jadi balapan malam ini Dik?" suara Budi membuat Dika yang sedang memakai helm itu menengok kearah temannya itu


"Jadi, doain gue menang ya"


"Pasti, hati-hati ya lu. Kalo ada apa-apa cepet kabarin gue"


"Iya, siap" dengan senyum tipis dibalik helm Dika menjalankan motornya ke arah tempat balapan malam ini


...


Tempat balapan sudah cukup ramai dengan anak-anak muda yang mau melihat aksi balapan motor malam ini. Tak terkecuali Dara yang malam ini kembali diajak oleh Arinda dan juga kekasihnya Danil. Dara yang seharusnya malam itu bekerja di cafe akhirnya harus mengajukan cuti atas permintaan Arinda. Tak enak hati menolak permintaan sahabatnya itu yang selama ini sudah terlalu banyak membantunya, akhirnya disinilah Dara berada.


Dika yang baru sampai pun melihat Danil dan kekasihnya keluar dari mobil. Sedikit aneh melihat Danil yang membawa mobil karena Dika tau, Danil lebih suka membawa motor. Tapi, Dika akhirnya mengerti kenapa Danil membawa mobil setelah melihat gadis manis yang turun dari pintu belakan mobil Danil. Dara, gadis itu benar-benar dibawa Danil malam ini.


"Woy bro, baru dateng lu"


"Iya"


"Yaudah yuk masuk"

__ADS_1


...


"Kalian tunggu disini dulu ya sebentar"


Danil dan Dika meninggalkan Arinda dan Dara disebuah ruangan dengan sofa panjang berwana hitam disudut ruang dan meja penuh piala disampingnya. Salah satu sisi tembok penuh dengan piagam penghargaan.


"Nih minum dulu"


Danil kembali dengan dua buah botol air mineral untuk kedua gadis itu


"Dika kemana?"


"Ciee Dara udah kangen aja sama Dika" ledek Danil yang membuat pipi Dara bersemu merah


"Gak usah ngeledek deh"


"Ada, lagi sholat isya dulu dia"


"Sholat?" ada perasaan sejuk dihati Dara mendengar ucapan Danil


"Iya, katanya belum sempat sholat isya tadi"


"Rajin ibadah juga ya tuh anak. Aku pikir lupa sama ibadah" suara Arinda yang tak percaya dengan ucapan kekasihnya itu


"Beuuh beb. Dika itu ibadahnya rajin, cuma ya orang suka pada gak percaya aja karna gak pernah liat tuh anak sholat"


"Eh tapi aku juga gak pernah liat Dika ngerokok deh beb"


"Dika tuh gak ngerokok dan minum beb. Anti dia tuh sama yang begituan, ya walaupun lingkungan aku sama dia begini. Tapi dia tetep bisa jaga batasan dia buat gak terpengaruh hal-hal negatif. Kalo kata dia tuh, disini dia cuma nyari uang bukan buat senang-senang"


Ucapan Danil seolah membuat pikiran Dara tentang Dika semakin terbuka. Dimana Dara tak boleh menilai orang lain hanya dari apa yang dia lihat.


"Udah selesai bro?" suara Danil menyambut kedatangan Dika dari balik pintu


"Iya udah"


"Dika udah siap?" suara bang Ronald yang baru saja datang membuat Dara tersadar dari lamunannya


"Udah bang"


...


Disini, bersama para penonton Dara melihat Dika yang sedang bersiap dengan motornya. Entah ini sudah dipersiapkan oleh Danil atau tidak. Tapi Dara merasa tempat dia berdiri sekarang membuat Dika mudah melihat kearahnya. Dan Dara tau Dika sesekali melirik kearahnya sejak tadi. Dara tak lagi menyimak apa yang diucapkan sahabatnya itu kini. Karna sejak keluar dari ruangan tadi pikiran dan bibir Dara seolah sedang merapalkan doa untuk Dika. Walau gerakan bibir itu kecil sehingga tak terlihat oleh Arinda.


Dan kini, tatapan mereka kembali bertemu. Dika yang melihat kearah Dara seolah mendapat energi positif dan merasa jika Dara saat ini sedang memberinya semangat. Tentu dengan bibir yang terus tersenyum dibalik helmnya itu Dika bertekad untuk menang malam ini. Selain untuk mendapat hadian uang, dia juga ingin menang untuk Dara.


Aku akan menang untuk kamu

__ADS_1


...


__ADS_2