Mahadara

Mahadara
episode 32


__ADS_3

...


Hari berganti hari Dika kondisinya sudah semakin membaik. Seperti ucapan bang Ronald kemarin, Dika sudah diperbolehkan pulang hari ini.


Dara pun sudah bersiap ingin menjemput Dika dirumah sakit.


"duh yang mau jemput ayang semangat banget" ucap Arinda yang sedari tadi melihat Dara tersenyum


"hehehe"


"Danil udah didepan nih, yuk"


Iya, Dara akan menjemput dan mengantarkan Dika pulang kerumah bersama dengan Arinda dan juga Danil.


Kekasih sahabatnya itu menawarkan bantuan untuk menjemput Dika dengan mobilnya. Katanya hitung hitung hemat dari pada harus naik taksi online.


Dara pun sudah ijin dengan mba Dewi jika dia akan sedikit terlambat datang ke cafe. Bahkan Dara juga bilang jika tak apa bila gajinya dipotong. Mba Dewi memang mengerti dengan keadaan Dara, tapi bos pemilih cafe tetaplah yang mengambil keputusan. Jadi Dara mencoba sadar diri jika gajinya memang harus terpotong karena keterlambatan dirinya datang diwaktu bekerja.


Mereka bertiga sudah sampai diparkiran rumah sakit dan melihat ada sekita 5 orang teman teman Dika dan Danil yang sedang duduk didepan lobby rumah sakit.


"woy bro" Danil pun menyapa mereka


"lu mau jemput Dika?"


"iya, kalian gak kedalem aja?"


"udah, tadi kita udah gantian kok masuk ke dalem"


"yaudah gue jemput tuh anak satu dulu ya"


"sipp, nanti gue sama anak anak kawal sampe rumah deh"


"hahaha siap"


Sesampainya didepan ruang rawat Dika mereka bertemu dengan suster yang baru saja keluar dari ruangan Dika.


"eh mba Dara" beberapa suster sudah mengenali Dara yang hampir setiap hari datang menemui atau menjaga Dika


"iya sus, gimana kondisi Dika?"


"kondis mas Dika sudah lebih baik kok, ini saya baru aja selesai lepas infusnya"


"makasih ya sus"


"iya sama sama, yaudah kalau gitu saya permisi dulu ya"


"iya sus"


cklek


Pintu terbuka dan langsung memperlihatkan Dika yang berdiri tanpa baju hanya mengenakan celana olahraga panjang.


Dara dan Arinda yang melihat itu pun langsung menutup matanya dengan tangan mereka masing-masing.


"lu kalo mau ganti baju dikamar mandi kek"


"ya lu juga masuk gak pake ketok dulu"


"yah ternodai deh mata cewek gue"


"buka matanya" kini Dika sudah berada dihadapan Dara


"udah dipake belum bajunya?"


"belum, pakein dong"


"gak mauuuu" gadis itu langsung berbalik badan dan berlari keluar ruangan


Sedangkan Arinda sudah dipeluk oleh Danil tapi dengan mata yang perlahan terbuka.


"kan jadi kabur"


"Dara kemana?" tanya Arinda yang sadar sahabatnya itu tak ada disana


"kabur"


"Dika ih, sahabat gue kemana?"


"paling juga didepan"


...

__ADS_1


"ya ampun jantung gue"


"nyebelin banget sih jadi orang"


"duh kan jadi deh deg an gini"


Dara yang tadi setelah berlari keluar dari ruangan Dika langsung duduk dikursi depan ruangan Dika tak sadar jika sedari tadi ada yang memperhatikannya.


"udah belum ngedumelnya?"


"eh" Dara yang medengar itu langsung saja menoleh kesamping ternyata ada Dika yang sudah berdisi disana dengan pakaian yang rapih.


Bahkan laki laki itu kini memakai topi hitam yang entah kenapa bisa membuat Dara terpesona.


"kok malah bengong. Mau anter aku pulang gak?"


"eh iya"


"ayok" menggandeng tangan Dara yang masih setengah sadar itu


"dia kenapa jadi kayak orang kesambet gitu sih hahaha" Danil bersuara yang melihat respon Dara dari tadi


"maklum sayang, kan dia belum pernah pacaran apalagi liat badan bagus kayak Dika tadi" kini Arinda juga merasa lucu dengan tingkah sahabatnya itu


"eh kamu kok jadi muji Dika sih. Badan aku juga gak kalah bagus kok dari Dika"


"masa sih"


"perlu bukti" Danil pun siap mengangkat kaos yang dipakainya


"eh apaan sih kamu" Arinda pun menahan apa yang akan dilakukan pacarnya itu


Didalam mobil terasa sepi, hanya ada suara dari radio mobil Danil itu.


"kok jadi diem semua gini sih" tanya Arinda yang tak suka dengan suasana sepi itu


"temen kamu masih salting tuh"


"kenapa sih?" Dika pun mencoba mengajak bicara Dara yang sedari tadi hanya diam


"hah apa?"


"cewek lu beneran kesambet tuh hahaha, aduh" cubitan manja didapatkan Danil dari Arinda


"gak apa-apa"


"beneran?"


"iya"


"hari ini kerja?"


"iya" sedari tadi pandangan Dara hanya lurus kedepan, entah gadis itu sedang memikirkan apa


"aku anter ya"


"iya"


"sayang aku?"


"iya"


"mau jadi istri aku?"


"iya"


"punya anak banyak ya?"


"iya"


"nikahnya besok?"


"iya...eh" seolah tersadar Dara pun kaget dengan jawaban dari mulutnya


"oke"


"apanya yang oke?"


"ya jawaban kamu tadi"


"emang aku jawab apa?"

__ADS_1


Dika tak menjawab, tapi laki-laki itu tersenyum dan mengelus puncak kepala Dara.


"udah sampe nih"


"cepet banget?"


"keasikan pacaran sampe gak sadar kalo dari tadi kita dikawal sama anak-anak, makanya bisa cepet sampe"


"masa sih"


...


Setelah mengantarkan Dika sampai kerumah dan memastikan kondisi Dika yang aman. Dara langsung berangkat menuju cafe untuk bekerja.


Tadi Dara sempat diantar oleh Danil dan Arinda sampai ke cafe. Sebenarnya Dara tak enak jika diantar Danil, karena arah cafe dan arah rumah Arinda berbeda arah. Sedangkan Danil harus mengantar Arinda sampai kerumah.


Tapi jika tak diantar oleh Danil, Dika memaksa Dara harus diantar oleh salah satu dari temannya yang tadi ikut mengantar Dika pulang.


Karena Dara yang merasa tak enak akhirnya terpaksan mau diantar oleh Danil. Tapi tetap saja Dika meminta salah satu temannya itu untuk menjemput Dara nanti malam.


"*oke gak apa-apa kalo sekarang kamu sama Danil. Tapi nanti malam dijemput sama Abim ya"


"ihh gak mau, biasanya kan juga aku pulang sendiri"


"mau dijemput Abim atau aku yang jemput?"


"kamu kan baru sembuh"


"oke aku yang jemput nanti malam"


"gak mau ih"


"oh gak mau aku jemput?"


"ya mau, tapi kalo kamu udah sehat"


"yaudah berarti sama Abim ya"


"huft iya deh"


"nah gitu nurut, kan jadi makin sayang*"


...


Suasana cafe tak terlalu ramai, jadi kerjaan Dara pun tak terlalu banyak. Seperti sekarang Dara yang sedang berbincang dengan teman-temannya.


"pacar kamu udah sembuh, Ra?" tanya salah satu pegawai


"udah kok, tadi juga udah pulang dari rumah sakit"


"syukurlah"


"oh yang tadi kamu telat dateng ya?"


"iya, maaf ya semuanya"


"iya gak apa-apa kok, Ra. Untung juga cafe gak terlalu rame"


Dara beruntung sekali, teman-temannya di cafe baik padanya. Tak hanya mba Dewi tapi semuanya juga sudah menganggap Dara seperti adik kecil mereka.


"kamu semenjak kenal cowok itu jadi sering mengabaikan kerjaan deh, Ra" tiba-tiba Awan bersuara dari arah belakang mereka


"kok lu ngomong gitu sih, Wan?" jawab salah satu karyawan yang tak suka dengan nada bicara Awan barusan


"emang bener kan, Dara jadi sering cuti dan bahkan kayak tadi tuh dateng telat"


"kalo gak ada perlunya juga Dara gak akan lakuin itu kali, Wan" jawab karyawan yang lain


"iya, lagian juga selama ini Dara kerjanya tetap baik kan" bela yang lainnya


"tau nih, lu gak boleh ngomong gitu"


"kok kalian jadi belain cowo itu sih" setelah bicara, Awan langsung pergi meninggalkan mereka semua


"si Awan tuh sekarang kayak cewek lagi pms, ngedumel uring-uringan mulu"


"masa sih" jawab Dara yang tak mengerti dengan temannya itu


"iya, Ra. Semenjak kamu punya pacar tuh dia jadi gak se-asik dulu"


"kayaknya karena dia patah hati sama kamu deh, Ra"

__ADS_1


...


__ADS_2