
...
Dilain sisi Dika juga merasakan hal yang tak jauh berbeda dari Dara. Galau yang membuat perasaannya tak menentu dan bingung. Tapi Dika berharap itu semua hanya kesalah pahaman dirinya pada sikap gadis itu beberapa hari ini. Dia berharap Dara tak benar-benar ingin menjauh darinya.
Karena entah tanpa dia sadari, Dika sudah merasa nyaman dan selalu ingin melindungi Dara. Hatinya sakit melihat Dara disakiti bahkan dihadapannya langsung. Dan yang membuatnya semakin marah adalah seseorang ayah yang tega berbuat seperti itu pada anaknya.
Kenapa seorang ayah tega melakukan itu semua. Bahkan Dika yang orang lain saja, tak berani menyakiti seorang gadis. Baginya wanita itu sangat perlu dilindungi sekuat dan semandiri apapun wanita itu.
"Woy bengong aja"
"Ngagetin gue aja lu"
"Ya lu lagian tumben tumbenan pake acara bengong. Lagi mikirin apa sih?"
"Bingung gue sama pikiran cewe"
"Waw gue terkejut"
"Apasih, lebay lu"
"Eh ini beneran, karena baru kali ini seorang Mahadika Utama mikirin cewe selain adiknya"
"Gak usah ngeledek"
"Tapi, cewe yang mana nih yang lu maksud? Cewe yang sering lu jemput itu?"
"Iya dia, emang yang mana lagi"
"Ya siapa tau lu punya gebetan banyak kan"
"Ngarang aja lu"
"Eh tapi kenapa nih sama doi?"
"Dia tiba-tiba ngejauhin gue. Dan gur gak tau salah gue dimana"
"Lu bikin dia marah kali tanpa lu sadar"
"Gue hampir mukul bokapnya kemarin"
"Astaga...ya pantes lah kalo dia marah, ampun deh Dika Dika"
"Ya menurut lu, gue harus diam aja liat dia disakitin didepan gue?"
" Ya tapi kan gak harus mukul juga, apalagi itu bokapnya gebetan lu. Bisa bisa gak dapet restu lu nanti"
"Gue gak peduli"
"Tapi gebetan lu peduli"
"Maksud lu?"
"Gini ya Mahadika Utama yang jago balapan. Nih gue kasih tau, cewe lu atau baru jadi gebetan lu itu pasti mikirin gimana kalo nanti bokapnya gak setuju anaknya deket atau punya hubungan sama lu. Dia juga pasti mikir, gimana lu kalo gak diterima sama bokapnya. Cewe tuh selalu pake perasaannya bro, walau itu hal kecil yang bagi kita nih bukan masalah"
__ADS_1
"Gitu ya"
"Yaiyalah, dia pasti gak mau lu jadi bermasalah sama bokapnya setelah kejadian itu. Dia juga pasti gak mau lu atau bokapnya kenapa kenapa"
"Tapi bokapnya udah keterlaluan"
"Sesakit apapun hatinya atau fisiknya. Perempuan itu punya perasaan yang halus. Terkadang nih ya, dia gak peduli udah sesakit apapun kalo dia sayang ya pasti tetap dia bela"
"Terus gue harus gimana"
"Minta maaf, dan coba belajar ngerti sama kondisinya dia. Jangan lu hakimi dia karena tindakan dia yang udah salah ngejauh dari lu. Tapi coba belajar terima sama alasan yang dia pilih"
"Oke, nanti gue coba"
"Dan, se emosi apapun lu nanti, jangan pernah lu bentak dia ya"
"Iya, thanks bang"
"Tumben banget lu manggil gue pake bang"
"Karena hari ini lu lagi cukup waras"
"Sialan lu, eh tapi gue keren juga ya bisa ngomong gitu. Jadi ngerasa ganteng banget gue sekarang"
"Budi tetaplah Budi yang terlalu percaya diri"
"Hahaha"
...
Malam ini, setelah pulang dari bengkel, Dika mengendarai motornya kesuatu tempat. Berhenti didepan toko yang sudah tutup, Dika memarkirkan motornya dan melepas helmnya. Duduk diatas motor dan memperhatikan ke sebrang jalan. Dimana sebuah cafe yang tak telalu ramai pengungjung malam itu.
Dari jarak yang tak terlalu jauh, dirimya bisa melihat bagaimana seorang gadis sedang bekerja melayani pengunjung cafe dengan raut wajah yang tak seceria biasanya. Sesekali Dika melihat bagaimana gadis itu terdiam seolah tak bersemangat.
Bahkan Dika melihat saat ada seorang laki-laki yang berbicara dengan gadis itu. Yang Dika tau dari Arinda, laki-laki itu bernama Awan. Dia salah satu teman Dara dicafe, bahkan bisa dibilang mereka cukup dekat. Tapi yang Dika lihat, sepertinya laki-laki itu memiliki perasaan lebih pada Dara, lebih dari seorang teman. Perasaan tak suka muncul dihatinya, perasaan yang entah apa itu. Yang pasti Dika tak suka jika laki-laki itu dekat-dekat dengan Dara.
Jam ditangan sudah menunjukkan jarum panjang pada angka 11 malam. Gadis itu pulang, dan untungnya dia pulang dengan teman wanitanya. Walau sebelumnya terlihat laki-laki yang bernama Awan itu menawarkan diri. Entah pembicaraan apa diantara keduanya, karena jarak Dika yang disebrang jalan membuatnya tak bisa mendengar.
Tapi setidaknya Dika tenang, karena Dara tak diantar pulang oleh laki-laki itu. Setelah memastikan Dara sampai dirumahnya, Dika kembali menjalankan motornya kesuatu tempat. Dia butuh lebih banyak pencerahan untuk membuka pikirannya.
"Bang"
"Woy, Dik"
"Rame bang yang ikut?"
"Biasa si Reza sama temen-temennya lagi mau seru seruan aja"
"Oh gitu"
"Ada apa nih, lu kayak lagi banyak pikiran"
"Gue boleh ngobrol sama lu sebentar, bang?"
__ADS_1
"Ya boleh lah, kayak sama siapa aja lu. Ayok masuk"
"Iya, bang"
"Jadi, ada apa"
"Cara minta maaf saka cewek tuh gimana sih, bang?"
"Wey tunggu dulu. Cewek mana nih yang lu maksud?"
"Dara"
"Ohh Dara hahahah. Seorang Mahadika yang jago balap ceritanya lagi galau soal cewek nih"
"Gue cuma minta saran lu, bukan ledekan lu"
"Woy woy santai. Gini, cara minta maaf itu ya tergantung lu buat salah apa sama dia"
Dika pun bercerita kejadian malam itu pada bang Ronald, semuanya dia ceritakan. Termasuk yang sebelumnya dia sudah melihat luka-luka diwajah dan tubuh Dara. Dika pun bercerita bagaimana ayah gadis itu yang berkata kasar pada putrinya sendiri.
"Wah gila tuh bapak bapak. Gue kalo jadi lu mungkin bakal ngelakuin hal yang sama atau lebih sih"
"Iya kan, bang"
"Iya, tapi ya kita juga harus menghargai perasaannya Dara, Dik. Karena bagaimana pun itu tetap ayahnya, orangtuanya"
"Tapi itu udah keterlaluan, bang"
"Iya, gue tau. Gue paham lu marah liat dia diperlakukan begitu. Tapi kalo lu nyakitin bokapnya didepan dia itu sama aja lu nyakitin dia juga, bro"
"Terus gue harus gimana,bang. Gue gak bisa liat dia disakitin terus, apalagi dengan luka dan nangisnya dia"
"Coba lu temuin dia dan lu minta maaf karena sikap lu kemarin itu"
"Tapi kan gue gak salah,bang. Gue cuma mau bela dan lindungin dia"
"Salah atau pun gak, bagi dia lu udah coba buat nyakitin orang tuanya. Gua yakin lu tau gimana rasanya itu"
"Iya"
"Minta maaf aja dulu pelan-pelan. Kalo lu mau tau alasan dia menjauh dari lu beberapa hari ini, ya lu coba tanya pelan-pelan. Tanya pakr nada bicara yang lembut yang baik"
"Iya bang"
"Dik, sesalah apapun orangtua, seorang anak pasti akan membelanya. Cuma cara membelanya emang terkadang berbeda-beda. Tugas kita cuma bisa menghargai itu, menghargai pendapat dan pemikiran orang lain. Kalo akhirnya kita gak setuju ya gak apa-apa, tapi jangan sampai memaksakan orang lain untuk gak setuju juga kan. Intinya bicara baik-baik, biar bisa saling mengerti sih itu aja"
"Iya, thanks ya, bang. Gue doain rumah tangga lu langgeng"
"Hahaha aamiin"
Hari ini Dika mendapat energi positif dari teman-temannya. Dan itu membuat Dika bisa berpikir terbuka soaln dirinya dan masalahnya. Sedikit banyak Dika memang setuju dengan apa yang diucapkan teman-temannya itu. Jadi, sudah tidak ada keraguan darinya untuk segera meminta maaf pada Dara.
...
__ADS_1
"Aku udah siap ketemu lu, kangen rasanya"