
Ellise memilih satu gaun, gaun putih yang sangat sederhana.
Monicva terlihat memberikan protes berat akan pilihan Ellise, namun Ellise tidak perduli.
***
Malam hari.
Veran dan Lucy memasuki kamar Ellise dengan mengendap-endap.
"Nona Ellise, apakah anda telah mandi? Tanya Veran sopan.
"Hmmm... Apakah paman, bibi dan sepupuku telah pergi kepesta? "
" Sudah nona, baru saja mereka berangkat. Nona, kita harus cepat sebelum terlambat." jawab Veran, matanya mencari-cari gaun yang akan dikenakan Ellise, "Nona, gaun anda dimana, saya akan membantu anda memakainya."
"Ehemmm!! " terdengar deheman Monicva, Veran dan Lucy memandang Monicva, Monicva menunjuk satu gaun disudut ranjang.
Veran langsung berlari meraih gaun tersebut, "Nona Ellise, apakah anda tidak salah?!" tanya Veran terkejut.
Lucy hanya diam mematung, tampaknya dia masih syok.
__ADS_1
"Tidak salah, bantu aku memakainya. Malam ini, siputih adalah pilihanku. "
Tanpa banyak bicara, Veran dan Lucy bahkan Monicva menyerah untuk menyuarakan keberatan mereka, mereka sangat mengenali sifat keras kepala Ellise.
Hasil yang dtunggu tampak jauh dari penalaran siapapun, sedari tadi gaun putih itu begitu sederhana, sangat jelek, sangat tidak cocok untuk sebuah pesta. Namun ketika Ellise memakainya, gaun itu berubah menjadi gaun yang sempurna yang dapat menonjolkan tubuh Ellise yang indah. Memang tampak sederhana, namun sangat dapat memperlihatkan karakter Ellise yang begitu murni, polos dan lugu. Betul-betul menampilkan pesona seorang gadis yang sangat baik. Ellise bagaikan seorang peri yang baru turun kebumi.
Ellise tersenyum puas akan pilihannya, gaun itu adalah gaun yang dipakai ibunya ketika mendapat lamaran dari ayahnya. Ibunya menyimpan gaun itu seperti harta yang berharga. Ketika ibunya meninggal, dia diusir dari kediaman utama dan dikurung dikediaman tempat dia sekarang, hal pertama yang dilakukannya adalah mengambil gaun ini dan beberapa barang lainnya yang selama ini sangat disayangi kedua orang tuanya. Karena dimata Marquess Jack, semua barang yang dibawa Ellise adalah barang biasa yang tidak mempunyai nilai, maka dia membiarkan saja Ellise membawanya.
"Monicva, bantu aku menata rambutku." perintah Ellise.
"Model apa yang anda inginkan? " tanya Monicva sigap.
Monicva tampak terkejut, "Itu sama saja dengan tidak menata rambut anda nona..."
"Lakukan saja apa yang aku inginkan. Aku mempunyai gambaran sendiri untuk penampilanku. "
Melihat keyakinan Ellise, monicva menuruti apa yang diinginkan Ellise.
" Varen, untuk wajahku, berikan saja riasan sederhana, juga aku mau bibirku tampak merah dibagian dalamnya, namun pucat diseluruh pinggiran bibir. Dan aku mau riasanmu dapat menonjolkan setiap garis pada wajahku dan sedikit kilatan dibeberapa bagian. "
Varen mengangguk dan mulai mengerjakan apa yang disuruh Ellise.
__ADS_1
"Lucy, tolong bantu aku memakai sarung tangan putih yang ada di mejaku."
Lucy mengambil sarung tangan itu, sarung tangan putih sederhana namun memiliki pita-pita kecil dan bordiran yang sangat indah, diujung-ujung pita tampak banyak berlian yang menghiasinya, tampak silau karena pantulan sinar.
Sentuhan terakhir, Ellise menambahkan perhiasan mutiara berlapis emas putih di telinga, leher, lengan dan jarinya. Juga mainan kepala yang mempunyai mata jambrud merah dikening Ellise.
Jika tadi Ellise bagai seorang peri, sekarang, dengan segala riasan dan perhiasan yang mendukung penampilan Ellise, Ellise lebih terlihat seperti malaikat yang menyamar menjadi putri raja.
Ellise keluar dari kamarnya, disana telah menunggu Linden, Val dan Ava yang terhipnotis penampilan Ellise.
"Paman, dengan penampilan seperti ini, dengan kecantikannya yang sangat luar biasa, aku merasa malam ini Ellise tidak lagi hanya mengambil perhatian orang untuk memberantas rumor tentang penyakitnya, melainkan dia akan menjadi pusat perhatian dan mungkin saja pesonanya dapat menaklukkan hati pangeran. Aku merasa, yang akan terpilih menjadi putri mahkota adalah Ellise." bisik Ava pada Linden.
"Tidak mungkin, aku tau jika pesona Ellise luar biasa, jika tidak mengingat bahwa dia adalah Ellise, aku bahkan akan merayu nya malam ini. Namun, pangeran terkenal mempunyai hati sekeras besi. Kemungkinannya akan kecil. " ujar Val yang ikutan berbisik karena mendengar bisikian Ava.
Linden berdiri kaku, wajahnya memucat. Akhir-akhir ini pikirannya hanya berpusat untuk bagaimana cara agar Ellise berhasil kepesta itu dan menunjukkan dirinya. Linden lupa akan fakta lainnya, pesta itu adalah pesta untuk pemilihan putri mahkota, pasangan untuk pangeran, siapapun, jika dia adalah wanita bangsawan yang belum menikah, jika datang kepesta itu, maka selalu mempunyai kesempatan menjadi First Lady yanh akan dipilih oleh pangeran.
"Paman justru berharap, pangeran tidak tertarik padanya, nona Ellise bukan lagi seorang gadis, dia adalah wanita. Dengan kondisi nona saat ini, jika dia datang kepesta itu, maka dia telah melakukan dosa besar karena sama saja menghina keluarga kerajaan yang ingin mencari putri mahkota yang layak. "
Ava dan Val ikut memucat, " Apakah rencana ini kita batalin saja paman? " tanya Val cemas.
" Tidak, hanya ini satu-satunya harapan kita untuk memperlihatkan keberadaan nona Ellise, kita hanya perlu memperingatkan Nona Ellise agar selalu menghindar dari pandangam pangeran dan semoga saja hati pangeran benar-benar sekeras besi. "
__ADS_1