Married To Prince

Married To Prince
Bab 7


__ADS_3

Ini pertama kalinya bagi Ellise, bahkan bersentuhan dengan pria asing juga merupakan pertama kalinya. Sejak kecil, dia menghabiskan waktunya dengan ibu dan ayahnya juga beberapa pelayan dan ksatria yang kini hidup bersamanya, dia tidak pernah mengikuti pesta seperti wanita lainnya dan bertemu orang luar sejak pamannya mengurungnya.


Kini dia begitu berani bersentuhan, bahkan menerima ciuman yang manis dari pria yang dihadapannya, insting membawanya mengikuti permainan lidah pria itu, dia tidak merasa jijik sejak pertama kali pria itu menjilat bibirnya dan lidah pria itu masuk kedalam mulutnya. Aroma wine sedikit tercium dari mulut pria itu, Ellise begitu menikmatinya. Tubuhnya panas, Ellise marasa mabuk, namun ini bukan karena wine yang diminumnya, melainkan karena panas tubuh pria yang memeluknya, ciuman dan rangsangan kecil juga karena panas tubuhnya sendiri.


Aricer semakin berani, tangannya akhirnya menjalar ke sekitar dada Ellise dan meremasnya pelan, kesadaran kembali berdiri dihati Ellise.


Ellise menggigit bibir pria itu, karena ketika Ellise berusaha menyudahi ciuman yang memabukkan tersebut, pria itu semakin intens menciumnya. Pria itu berhasil berhenti, Ellise memandang sedikit memar dibagian yang telah dia gigit tadi.


"Tuan, apakah kamu tau, kalau kita, terutama kamu telah melakukan pelanggaran etikat serius?! Tolong lepaskan aku! "


Aricer mengeram pelan, merasa tidak senang karena gairahnya terganggu, saat ini dia hanya ingin memiliki Ellise seutuhnya, mengelus dan mendamba setiap lekuk tubuh Ellise, medorong gairahnya ketubuh wanita itu agar Ellise merasakan gairah yang sama dengannya, agar Ellise memohon padanya untuk menuntaskan keinginan satu sama lain diantara mereka, agar Ellise menjadi miliknya.


Aricer dapat memilih wanita manapun pada dirinya, tidak perlu kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya, hanya berjalan dengan wajah tampannya dan pesonanya saja, dengan mudah dia membawa wanita manapun keranjangnya. Masalahnya, Aricer tidak pernah tertarik dengan wanita manapun, tidak tergoda bagaimana sexy nya wanita-wanita yang telah dijumpainya, tidak merasakan respon apapun ketika wanita-wanita itu mendekatinya. Aricer tidak pernah mencium wanita manapun, apalagi menginginkan mereka ada disatu ranjang yang sama dengannya. Bahkan sejujurnya Aricer selalu menolak untuk berdansa dengan siapapun dan tidak pernah mengajak siapapun.


Kini, semua kekakuan, ketidaksukaan, dan jarak yang diterapkannya pada wanita manapun terpatahkan oleh sihir pesona yang berasal dari Ellise, wanita itu sanggup menggodanya hanya dengan memandang satu kali saja.


"Seseorang tidak seharusnya bersikap bijaksana disepanjang waktu, tentunya ada beberapa waktu ketika ia bisa menyerah pada dorongan hati tanpa berfikir panjang, terbawa spontanitas saat itu, menikmati semua yang dihadapannya dengan baik. Nona, bukankah kita tidak harus selalu berjalan pada etika yang ada? " ujar Aricer membela dirinya sendiri.


"Apakah kamu pernah bersikap bijaksana? Mengingat sedari awal kamu melanggar setiap etika yang ada?"

__ADS_1


" Nona, biasanya aku selalu dituntut untuk bijaksana, tetapi dengan keberadaan diriku disini dan aku tergoda denganmu, itu menunjukkan aku memutuskan menyingkirkan itu semua saat ini. Dan kamu, seharusnya sadar, sejak kamu menginjakkan kaki kegedung ini, harusnya kamu menyingkirkan setiap etika yang ada, karena itulah alasan semua orang disini, menyingkirkan etika yang membebani dikehidupan sehari-hari. Para bangsawan jelas mengatakan ini pesta terkutuk dan paling tidak beradap disepanjang sejarah, namun banyak dari nya yang justru diam-diam masuk kesini dan kembali lagi setiap malam. Nona, aku penasaran, etika apa yang kamu terapkan sehari - hari sehingga saat seperti inipun, kamu masih selalu saja mempermasalahkan pelanggaran etika? "


Ellise terdiam, dia mengingat bagaimana setiap saatnya Monicva dan beberapa pelayannya yang selalu memarahinya karena tidak pernah berprilaku sebagai lady yang terhormat. Sedikit ironis, setiap harinya dia menentang untuk bersikap sesuai etika, namun disaat kebebasan bersama dirinya, malah dia mengingat hal itu semua.


"Bagaimanapun, aku seorang Lady, aku bahkan belum melewati hari kedewasaanku, aku harus menjaga diriku dengan baik. Bukankah seharusnya memang seperti itu? "


Jawab Ellise, masih berusaha menegakkan kesopanan didalam dirinya.


" Itu hanya peraturan dikalangan Lady, namun sayangku, aku bukanlah seorang lady, aku tidak memiliki peraturan seperti itu. "


" Apa peraturan yang berlaku padamu? "


Ellise hanya diam, melihat itu, Aricer tidak mau menerima sebuah jawaban lagi, wajahnya semakin mendekat pada Ellise, memerengkan sedikit, dan bibirnya mulai menyentuh bibir Ellise, dia melakukannya dengan lebih lembut dan sabar daripada tadi, berharap ini mempengaruhi keputusan penolakan Ellise. Sial! Dia benar-benar telah jatuh sangat dalam untuk wanita satu ini!


Ellise merasa jantungnya berdegup tak karuan, rasa manis dan gairah kembali menghampirinya. Hati nurani dan keinginan bertarung dalam hatinya. Dia masih mencoba peringatan Monicva tadi ketika dia menolak membawa seorang pelayan untuk menjadi pendampingnya.


"Nona, karena tidak memiliki pendamping yang bisa mengawasi, seorang lady terutama seorang lady muda harus memasang standart kepantasan yang paling tepat untuk sikapnya sendiri, kalau tidak pria akan melakukan pendekatan yang paling tidak pantas untuk anda. Itu adalah nasihat ibu anda yang pernah saya dengar untuk semua pelayan ketika beliau masih hidup, walaupun jelas semua orang tau, bahwa kami bukanlah lady, tetapi ibu anda memandang kami tetap terhormat. Sangat senang jika saya dapat mengingatkan anda saat ini, melihat anda menolak mebawa pelayan. "


Ellise dapat mengingat setiap kata pesan yang disampaikan Monicva, sayangnya, sedari awal dia mengikuti Aricer, dia sudah melanggar standart kepantasan yang diterapkannya.

__ADS_1


Ellise merasa ciuman Aricer semakin dalam dan menggoda, gairah yang dirasakan Ellise semakin besar, begitupun pertarungan hati nurani dan keinginan semakin begitu besar. Namun hati nurani Ellise kalah, keinginan besar dari sebuah gairahnya yang menang. Ellise merangkul tangannya keleher Aricer membuat Aricer mengeram pelan karena gairah, Aricer menganggap rangkuan itu adalah izin Ellise atas dirinya.


Aricer mulai menggendong Ellise, membawa wanita yang menaklukkan hatinya keranjang yang ada disana. Ranjang itu juga masih dalam kawasan terkena sinar rembulan. Aricer terus memberikan Ellise ciuman, cumbuan dan godaan agar Ellise tidak berubah pikiran.


Tanpa Ellise sadari, gaunnya telah terlepas dari tubuhnya, dia telah telanjang bulat dibawah tubuh pria asing yang menggodanya. Pria itu masih memakai topeng diwajahnya, tidak melepas, namun Ellise melihat dengan jelas sorot mata Aricer yang memandang setiap lekuk tubuhnya dan Ellise merasa sangat malu untuk itu.


Ellise berusaha menutup area sensitif dirinya, namun Aricer menahan tangannya, "Ellise tubuhmu begitu indah..." ujar Aricer parau...


Tangan kokoh Aricer membuka topeng Ellise secara perlahan, tubuh Aricer menegang dan terkejut, sungguh dia sudah membayangkan kecantikan Ellise, namun kali ini dengan sialnya dia terjatuh semakin dalam dengan pesona Ellise yang jauh melampaui bayangannya.


Bola mata Ellise terlihat seperti adanya ribuan butir emas yang berkilauan, didukung oleh rembulan cahaya rembulan yang menyinari, bibir merahnya begitu sensual, hidung mancung dan kecil menegaskan kecantikan Ellise, leher dan bahu Ellise yang kecil sangat menggoda, seluruh tubuh Ellise sangat putih dan halus, Ellise memiliki buah dada yabg ranum, tidak terlalu besar dan kecil, sangat menggoda dan pas untuk tangga Aricer. Seluruh tubuh telanjang Ellise dan kecantikannya seolah sedang dimandikan sinar rembulan, begitu bercahaya, memukau, dan indah. Aricer meneguk salivanya yang tidak basah, mengutuk dirinya sendiri, seharusnya dia meminta Ellise dengan etika yang tinggi, sekarang rasa bersalah bersemayam didalam dirinya. Ellise yang begitu rupawan dan sanggup membuatnya jatuh cinta sejak dia memandang Ellise, membuatnya menginginkan Ellise seutuhnya, Ellise harus menjadi miliknya, baik malam ini dan seterusnya, hanya Ellise dan tidak akan ada wanita lain dalam hidupnya. Itu adalah sumpah Aricer. Dia akan menjadikan Ellise secara hukum dan akan menghancurkan siapapun yang menghalangi keinginannya tersebut, bahkan raja sekalipun akan dilawannya.


Aricer mencium sekujur tubuh Ellise, tangannya memainkan area sensitif Ellise, Ellise mendesah, desahan yang membuat Aricer menggila. Aricer **** puncak dada Ellise membuat Ellise bergetar kuat, gelisah dan mendesah semakin parah. Sampai akhirnya Aricer berusaha memasukkan miliknya kepusat Ellise, membuat Ellise semakin mendesah, dengan satu sentakan Aricer menjadikan tubuh mereka menjadi satu, Aricer menyadari Ellise masih perawan, akhirnya dia berhasil menjadikan Ellise miliknya, hanya miliknya.


Ellise melotot ketika sentakan yang dirasakannya membuatnya sakit, airmata tanpa sadar menetes dari matanya.


Aricer menyadari kesakitan Ellise, tangannya mengelus airmata Ellise, dan berbisik,


"Nona,maafkan aku jika itu menyakitimu, maafkan aku. Namun, jujur aku tidak menyesal dan aku berharap hal yang sama dengan dirimu. Karena mulai detik ini, kamu adalah milikku, hanya milikku, kamanapun kamu, kamu hanyalah milikku. Aku akan mencintaimu, akan selalu mencintaimu, hanya dirimu. "

__ADS_1


Mereka melanjutkan malam indah mereka, dibawah sinar rembulan, tidak memperdulikan etika, tidak memperdulikan siapa mereka, hanya perasaan cinta dan gairah saling terpadu tanpa mereka sadari sampai mereka mencapai klimaks diri mereka sendiri.


__ADS_2