
"Saya berjanji pangeran..."
Pangeran Addrich berdiri, berjalan kearah Ellise dan mengecup kening Ellise dengan lembut.
"Satu hal lagi Ellise, mulai detik ini pergunakanlah bahasa informal ketika berbicara denganku. Saat ini, statusmu bukan hanya seorang putri duke, melainkan putri mahkota. Aku tidak ingin, hubungan suami istri ini begitu kaku. Walaupun tidak ada perasaan cinta diantara kita, aku harap kita bisa menjadi teman. " ujar Pangeran Addrich yang kemudian berlalu meninggalkan Ellise.
Ellise masih duduk mematung, ciuman yang diberikan Pangeran Addrich memberikan kebahagiaan sendiri dihatinya. Ellise menaikkan kedua kakinya dan menekuknya didadanya, berbagai pikiran mulai mengganggunya.
Benar! Ellise mulai mencintai Pangeran Addrich, Ellise mulai menyadarinya, namun kalimat selanjutnya setelah ciuman itu mampu menyadarkan Ellise bahwa dia tidak mempunyai hak untuk menerima cinta dari pria itu. Ada wanita lain yang memiliki cinta Pangeran Addrich, hubungan mereka hanyalah sebuah perjanjian.
Air mata Ellise mulai mengalir...
"Mengapa? Mengapa aku harus merasakan perasaan cinta ketika aku yang memulai permainan dalam hubungan ini? Keinginanku hanya satu, yaitu kelangsungan hidupku beserta orang-orang disekitarku. Mengapa aku menjadi egois, mengharapkan cinta yang bukan milikku. Suatu saat, aku harus mengembalikan pria itu kembali kehadapan wanita yang dicintainya, tempat dimana pria itu dapat berbahagia tanpa trik ataupun perjanjian. " batin Ellise sebelum matanya terpejam untuk tidur.
***
Ellise mengerjap, matanya perlahan terbuka. Dia masih menggunakan apa yang melekat pada tubuhnya semalam, namun dia tidak lagi berada disofa, melainkan sudah berpindah ke tempat tidur. Siapa yang memindahkannya ketika dia tertidur? Seingatnya kemarin malam, dia tertidur di sofa setelah menangis semalaman.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk.. " perintah Ellise pelan.
" Nona Ellise!!!! " teriak Monicva semangat, dibelakangnya Rose mengikuti.
" Mo.. Monicva, bibi Rose.. " seru Ellise terkejut melihat kehadiran dua orang yang disayanginya. Tubuhnya tanpa perintah secara otomatis memeluk Monicva dan bibi Rose secara bergantian.
" Aku merindukan kalian... " desis Ellise pelan.
__ADS_1
Rose meraih satu tangan Ellise dan mengusap punggung tangannya dengan lembut," Nona Ellise, kami juga merasakan hal yang sama. Kami juga sangat khawatir, apakah anda baik-baik saja disini, nona. "
Ellise merindukan kelembutan Bibi Rose, wanita tua ini selalu menjaganya dan menyayanginya sepenuh hati.
"Aku, tentu baik-baik saja bibi. Bukankah aku berada disini justru untuk keamanan kita semua?"
"Nona Ellise, yang kami harapkan, kehidupanmu bahagia dan baik-baik saja. Jangan pikirkan hal apapun selain hal itu. "
Ellise menampilkan senyum di wajahnya, matanya melihat Bibi Rose dengan penuh kasih sayang, " Bibi, kalian akan selalu baik-baik saja jika kalian mengabaikan keberadaanku. Justru karena diriku, kalian harus berkorban begitu banyak hal selama ini. Sudah sepatutnya, kita harus saling menjaga."
Rose tertawa kecil, sekali lagi dia menempatkan tubuh Ellise dalam pelukannya.
"Baiklah Nona, Sekarang saya akan membantu anda mandi. Setelah itu, Ksatria Linden ingin berbicara dengan mu.. "
Ellise mengangguk cepat, Linden, dia juga merindukan pria itu.
***
"Sir Linden..." Ellise berlari kepelukan Linden.
"Nona, anda saat ini adalah putri mahkota, anda tidak boleh sembarang memeluk saya. Ada etika yang harus anda jaga mulai dari anda menikah.. " ujar Linden yang berusaha memisahkan diri dari pelukan Ellise, kebiasaan ini harus secepatnya dihilangkan sebelum orang-orang menjadikan ini sebagai cara untuk menyudutkan Ellise. Namun, Ellise justru semakin erat memeluk Linden.
"Sir, selamanya aku adalah putrimu. Selamanya aku akan bertingkah menjadi gadis kecil bagimu. Jika ada yang berani mempermasalahkan ini, aku akan menggunakan kuasa ku untuk menghukum mereka. Jika aku tidak bisa menggunakan kekuasaanku, aku akan diremehkan oleh orang-orang sebagai putri mahkota yang tidak memiliki kekuatan. "
"Hahahaha, Nona Ellise, anda luar biasa, anda mengubah kelemahan anda menjadi senjata anda.." seru Linden takjub.
"Benar sir! Ini adalah didikan yang kamu berikan sedari kecil agar aku menjadi kuat. Lagipula, apa guna gelarku, jika aku tidak dapat memanfaatkan keuntungan utamanya, memberikan hukuman untuk mereka.. " ujar Ellise sembari tersenyum licik.
__ADS_1
" Ehem... Paman Linden, bisakah kita langsung ke intinya... " ujar Val yang sedari tadi sudah ada disana bersama Ava, Rose dan Monicva.
"Betul paman! Daritadi kami seolah tidak dianggap ada disini!" protes Ava.
Linden dan Ellise mulai memisahkan diri. Mereka mengambil tempat masing-masing. Tujuan mereka berkumpul adalah untuk membahas tentang pembicaraan Pangeran Addric dan Ratu Olivia. Ellise menceritakan semuanya, kecuali hal-hal mesrah yang kadang ditunjukkan Pangeran Addrich.
"Nona Ellise, lebih baik kita mencari jalan untuk keluar dari sini. Dikediaman Duke, bahaya selalu menanti anda. Namun disini, bahaya yang lebih besar ada dihadapan anda. Yang kita hadapi adalah orang-orang yang paling berkuasa di benua ini, di negri ini. " bibir Rose mulai bergetar ketakutan, kekhawatiran tidak dapat disembunyikannya lagi.
Ellise menggeleng cepat, " Tidak bibi, sejak aku memutuskan untuk menikah dengan Pangeran Addrich dengan persyaratan, sejak saat itu juga tidak ada jalan kembali. Bibi, aku bisa melalui ini..."
"Tapi, nona... "
" Bibi, aku mohon, percayalah padaku.. "
" Nona Ellise, lalu bagaimana dengan malam pertama anda?" ujar Monicva tiba-tiba. Saat itu juga sebuah pukulan pelan mendarat dibahunya, bibi Rose memelototinnya.
"Monicva, hal tersebut tidak pantas untuk kamu tanyakan!" tegur Rose pada putrinya.
"Ma, aku hanya mengkhawatirkan Nona Ellise.. " ujar Monicva sedih, kesedihan yang bukan terjadi karena pukulan Rose, melainkan kesedihan yang benar-benar dirasakannya untuk Ellise.
" Tetap saja, bagaimana kamu memberikan pertanyaan lancang seperti itu pada nona Ellise?! "
" Bibi, jangan marah pada Monicva, aku tidak apa-apa. ", Ellise kemudian memandang satu persatu orang yang dihadapannya. Tampak semua juga menginginkan jawaban dari bibir Ellise
Ellise mendesah pelan, " Pangeran Addrich dan aku memiliki perjanjian lain, kami tidak akan melakukan kegiatan suami istri kecuali aku yang menginginkannya."
Ekspresi dari setiap orang diruangan itu tampak berubah antara rasa syukur dan kemuraman. Rasa syukur karena Setidaknya Ellise tidak akan mendapat kemurkaan Pangeran yang mendapati Ellise yang tidak suci lagi. Juga kemuraman akan masa depan Ellise, jika Ellise memutuskan untuk tinggal disini nantinya, maka posisinya akan menjadi lemah tanpa penerus.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan pilihan anda nona Ellise.?" tanya Linden mengalihkan pembicaraan.