Married To Prince

Married To Prince
Bab 25


__ADS_3

Sebulan telah berlalu. Sampai hari dimana Ellise harus berangkat ke kerajaan karena pesta pernikahannya akan terjadi beberapa hari lagi. Benar, Pangeran Addrich memenuhi ucapannya tempo hari, akan melaksanakan pernikahan dalam waktu 1 bulan.


Setelah malam dimana Pangeran Addrich menginap di kediaman Labird, dipagi hari Pangeran Addrich telah kembali tanpa menunggu Ellise bangun. Sejak saat itu juga, Ellise tidak bertemu dengan pangeran Addrich. Hanya Zuich Z yang muncul sekitar lima belas hari yang lalu, menjumpai Ellise untuk membantu pengurusan pengalihan kekayaan Keluarga Labird kembali menjadi miliknya kembali. Zuich Z membawa banyak profesional keuangan kerajaan, untuk mengecek jalan kekayaan keluarga Labird sejak sang Duke meninggal. Benar saja, banyak aliran dana yang tidak jelas dan jumlah kekayaan Labird berkurang sangat banyak tanpa tau kemana arahnya.


Melalui kedatangan Zuich Z kemarin malam jugalah, Pangeran Addrich memberikan perintah bahwa jumlah Kekayaan keluarga Labird harus sesuai dengan semestinya dalam waktu 3 bulan setelah hari pernikahan. Jelas saja, Marquess Jack Keirs serta keluarganya mulai panik.


"Ellise, aku akan mengawalmu sampai ke istana.. " ujar Ava san Val bersamaan.


"Dimana Sir Linden?" Tanya Ellise sedih.


"Paman tidak sanggup mengantarmu. Seolah dia harus mengantar kepergian putrinya saja." ejek Ava.


"Aku memang putrinya! "


Val tersenyum, memeluk dan mengelus kepala Ellise, terlihat Ellise mulai menangis.

__ADS_1


"Benar, kamu putrinya, Ellise, jadi kamu harus paham perasaan seorang ayah yang harus melepaskan putri yang telah dibesarkannya dalam ikatan pernikahan. Betapa sedihnya paman Linden saat ini. Untuk itu, kamu harus kuat. Aku dan Ava adalah saudaramu.Jika kamu melakukan kesalahan nantinya, berdirilah dibelakang kami, maka kami akan melindungimu. Jika kamu merasa resah dan tidak berdaya, peganglah tangan kami dan kita akan menghadapinya bersama-sama. Ellise, kamu tidak sendiri, kami akan selalu bersamamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Aku hanya takut " gumam Ellise lirih, sesungguhnya dia tidak mengerti ketakutan apa yang dirasakannya.


Ava mulai mendekati Ellise dan menggenggam satu tangan Ellise yang masih dalam pelukan Val, "Ellise, kita telah sampai disini. Kita berhasil melewati satu masalah yang membelenggu kita selama ini, yaitu pamanmu. Selama ini kita bisa dan seterusnya akan selalu seperti itu. Berjalanlah yang tegak sebagai Lady Labird. Ellise, kamu cantik, kamu berkuasa, dan yang terpenting kamu tidak sendirian. Tidak perduli, berapa banyak yang tidak menyukaimu, faktanya kami menyayangimu dan mendukungmu. Setelah pesta pernikahanmu, Paman Linden dan yang lainnya akan menyusul. Karena itu, tolong jangan bersedih ataupun takut, Ellise.."


Ellise berusaha menghentikan tangisnya.


" Ellise, yang aku harapkan darimu adalah jangan bersedih, bukan jangan menangis. Didepan kami, jangan tahan apapun perasaanmu, kamu bisa menangis sepuasnya jika kamu lelah. Kami akan selalu menghapus air matamu semampu kami." lanjut Ava lembut.


Mendengar itu, Ellise justru semakin larut dengan tangisnya. Rasa takut perlahan hilang digantikan perasaan lega.


Dari kejauhan Aricer dan Zen memperhatikan Ellise, Ava dan Val yang sedang berpelukan, kemudian meninggalkan kediaman Duke Labird dengan kereta kuda kerajaan yang telah dipersiapkan.


Dengan sorot mata yang dipenuhi amarah, Aricer terus memperhatikan Ellise sampai Ellise hilang dari penglihatannya.

__ADS_1


"Tuan Aricer, nona Ellise akan segera berangkat ke istana. Apakah anda tidak ingin melakukan sesuatu? "


Aricer hanya diam, pikirannya dipenuhi oleh bayangan Ellise dan rasa takutnya akan kehilangan Ellise.


" Tuan Aricer.. " panggil Zen sedikit menyentuh bahu Aricer.


Aricer akhirnya tersadar dari lamunannya, tubuhnya berbalik dan memandang Zen.


" Apa aku harus menghancurkan kerajaan Allaine? " tanya Aricer pada akhirnya.


" Tuan, bukan itu maksud saya." jawab Zen merasa bersalah.


Aricer menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Kita tidak dapat berbuat apa-apa saat ini, yang hanya bisa kita lakukan hanyalah memperhatikan Ellise dan melindunginya secara diam-diam. Bagiku, keselamatannya yang terpenting saat ini."


"Namun aku selalu berharap, Ellise mendapatkan kebahagiaannya juga. "

__ADS_1


Batin Aricer dalam hati.


"Baiklah Tuan, saya akan mempersiapkan semua hal jika sewaktu-waktu Ellise membutuhkan kita." ujar Zen.


__ADS_2