Married To Prince

Married To Prince
Bab 4


__ADS_3

Ellise berjalan gontai disepanjang jalan, tangan kirinya memegang tali kuda, menuntun kuda itu berjalan mengikutinya. Tangan kanannya digunakan untuk memegang jubah yang membantunya menangkal cuaca yang dingin.


Perasaan putus asa mendera seiring jalanan yang semakin sepi. Dia tidak pulang, tidak ingin pulang, setelah 8 tahun lebih, akhirnya ini pertama kali dia dapat menapakkan kakinya keluar dari kediamanannya. Walaupun dia tidak berhasil dengan rencananya, setidaknya dia tidak ingin pulang dengan kegagalan sempurna. Ellise ingin setidaknya dia dapat menikmati malam ini, malam yang belum tentu akan datang lagi padanya.


Ellise melihat toko-toko, restaurant, dan lain-lain, semua telah tutup tanpa adanya aktivitas, jika ini masih siang, mungkin dia akan memasuki setiap bangunan itu.


Ellise terus melangkah, menikmati cahaya bulan yang terang, hingga dia melewati sebuah bangunan yang gelap, namun sepertinya bangunan itu masih memiliki aktivitas dimalam hari. Ellise membaca papan yang terpampang dibangunan itu, SECRET PARTY.


Pesta? Bukannya hanya seorang bangsawan saja yang dapat membuat pesta? Rasa penasaran mengetuk hati Ellise. Ellise mendatangi dua orang penjaga yang sepertinya menjaga pintu masuk. Kedua penjaga itu memberi hormat ketika melihat kedatangan Ellise.


"Nona, ada yang bisa saya bantu untuk anda?" tanya seorang penjaga ramah.


"Bangsawan mana yang mengadakan pesta?" tanya Ellise sopan.


Kedua penjaga itu saling pandang dan tersenyum penuh arti.


"Nona, pesta ini bukan diadakan oleh kaum bangsawan, anda tidak memerlukan undangan atau status untuk masuk. Siapa saja dapat masuk. "


" Jika begitu, aku akan menghormati jika aku dapat memasuki tempat ini. "


" Nona, namun ada syarat yang harus anda ketahui dan patuhi. "


Ellise mengernyitkan keningnya," Syarat apa? "


Seorang penjaga memanggil seorang pria bertopeng, pria bertopeng itu memepersilahkan Ellise memasuki pintu lain dari gedung itu, sedangkan penjaga satu lagi, membantu Ellise menyimpan kudanya.


Ellise memasuki ruangan dengan ukuran sedang, pria bertopeng yang diikutinya berbalik perlahan. Ellise duduk setelah dipersilahkan.

__ADS_1


" Pertama, anda harus memakai topeng yang telah disediakan, tentu saja anda dapat memilihnya sesuai selera anda, kami memiliki banyak koleksi.


Kedua, semua identitas anda atau siapapun di pesta ini adalah rahasia, jika anda membocorkan siapa anda terutama anda membocorkan informasi tentang identitas orang lain, maka kami akan mengejar anda kemanapun untuk mempertanggungjawabkan perbuatan anda.


Ketiga, ingat satu hal, kunci dari persyaratan pertama dan kedua adalah rahasia, segala hal yang ada disini adalah rahasia kecuali kebebasan untuk bertanya jawab antar sesama. "


Ellise menengguk salivanya, ini seperti permainan yang menggiurkan, Ellise sangat tertantang.


" Nona, apakah anda dapat menerima semua persyaratan ini? "


Ellise mengangguk cepat.


"Baiklah, panggil saja saya Zen, tentu itu bukan nama yang sebenarnya." Ujar Zen seraya memberikan pena dan kertas.


"Apa ini? " tanya Ellise heran.


" Ba.. Bagaimana kamu bisa tau jika aku bisa membaca dan menulis? " tanya Ellise tergagap.


Senyum Zen semakin dalam mendengar pertanyaan Ellise, " Nona, dari pakaian anda, prilaku anda, cara anda memandang dan menyikapi ini semua, saya yakin anda seorang bangsawan dengan kedudukan tinggi. Seorang bangsawan rendah sekalipun dapat pelajaran etika dasar yang kuat, apalagi hanya membaca dan menulis. Saya rasa anda mempunyai kemampuan. "


Ellise terkekeh, " Insting anda luar biasa Sir Zen! "


" Saya anggap itu adalah bentuk pujian anda nona. "


"Dan saya anggap juga anda bukan orang sembarang golongan mengingat etika dasar anda sangat sempurna! ." jawab Ellise tidak perduli, dia sibuk mengisi kertas yang diberikan Zen.


***

__ADS_1


Dari ruangan itu, Ellise mengikuti Zen masuk kedalam satu ruangan keruangan lain lanjut keruangan berikutnya. Entah sudah berapa banyak pintu dan lorong yang dilewatinya. Ellise senang, dia berjalan seolah didalam labirin yang penuh misteri. Bangunan ini terlihat sederhana, namun mempunyai banyak pintu rahasia.


"Jadi, apakah anda telah menentukan nama samaran anda nona? " tanya Zen yang terus berjalan dengan kaki jenjangnnya.


" Lisela"


"Nama samaran yang unik. "


" Jika kamu telah membaca tentang identitasku, pasti kamu tau, itu hanyalah singkatan dari namaku dan nama bangsawanku. "


"Tetap saja itu unik, anda adalah nona yang telah hilang, segala tentang anda sangat menarik."


"Aku anggap itu adalah pujian, Sir! "


Zen terkekeh pelan, " Dan topeng yang anda pilih sangat cocok dengan pesona anda nona." puji Zen tulus.


Ellise tersenyum simpul, sejak dia memasuki ruangan yang dipenuhi koleksi topeng, dia langsung tertarik pada sebuah topeng yang berada di rak paling ujung. Rak yang cantik untuk topeng yang sangat indah, hanya saja Ellise menyadari sepertinya topeng itu sepasang, dan yang satunya tidak kelihatan. Ellise penasaran siapa yang memakai pasangan topeng yang dipakainya.


"Sir, sepertinya saya melihat topeng yang saya pakai memiliki pasangan. " ujar Ellise yang tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.


" Ya... Dari beribu-ribu koleksi topeng yang kami miliki, hanya topeng itu yang memiliki pasangan. Topeng itu adalah yang paling spesial dan berharga dibanding topeng manapun. "


Sebenarnya Ellis ingin bertanya, kira-kira siapa yang memilih yang satunya lagi, namun Ellise lebih memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut, karena dia mengingat segala hal yang ada disini adalah sebuah rahasia.


Zen membuka sebuah pintu terakhir, sinar terang menandakan kemewahan pesta terlihat. Ellise terpelongo melihat apa yang didepannya, Pesta ini benar-benar pesta kalangan borjuis...


"Selamat datang ke Secret Party, nona Lisela, pesta dimana sebuah kebebasan ada ditangan anda tanpa memperdulikan siapa anda dan apa yang anda perbuat, silahkan menikmatinya. Malam ini adalah malam anda. " ujar Zen.

__ADS_1


Ellise memasuki lantai, mengagumi segala hal. Kebebasan, biarkan malam ini menjadi miliknya.


__ADS_2