
"Tentu saja, aku akan memilih berada dipihak Ibu Ratu, yang memiliki kekuatan besar."
"Ellise, lalu bagaimana perjanjianmu dengan Pangeran Addrich?" tanya Ava, intonasi suaranya meninggi.
"Ah.. Aku akan memenuhi setiap janjiku padanya.. "
" Ellise, kamu tidak bisa berdiri dikedua pihak!" ujar Ava mulai kesal.
"Ava, perhatikan bahasamu.. " Linden memberikan peringatan.
" Paman, ini bukan saatnya untuk menegur bagaimana aku harus berbicara dengan Ellise, disaat dia memilih jalan yang membingungkan! "
"Berhenti bertengkar." cegah Ellise.
"Kita bertengkar juga karena kamu Ellise! " cercah Ava.
Brukkkk!
Pukulan sempurna mendarat dengan sempurna juga dipipi Ava, Val memukulnya dengan keras.
" Bisakah tahan emosimu saat ini, jangan pernah ragukan Ellise. Kita harus mempercayai dan tidak berhak meragukan apapun keputusannya! " ujar Val, matanya penuh dengan peringatan.
Ava mendengus kesal, " Bukankah kamu yang emosi dan memukulku saat ini?!"
Val mengacuhkan umpatan Ava, matanya beralih pada Ellise kembali, menuntut sebuah penjelasan atas keputusan Ellise.
"Aku hanya berpura-pura berada disisi ibu ratu, namun sampai akhir, aku akan berada disisi Pangeran Addrich, berada dipihaknya apapun yang terjadi. "
__ADS_1
" Walaupun kekuatan Ratu Olivia sangat besar? "
" Tetap saja, aku tidak menyukainya. Dia hanya akan memanfaatkanku untuk semua ambisinya, setelahnya jika aku tidak mempunyai manfaat lagi atau tidak diperlukan lagi, mungkin saja aku akan dibuangnya. "
" Nona Ellise, apa bedanya dengan Pangeran Addrich? Dia juga memanfaatkan anda. " ujar Linden.
" Beda! Jelas beda! Aku mempercayai Pangeran Linden, setidaknya dia tidak membuatku menjadi bonekanya. Untuk beberapa hal, dia juga memperlakukan dan mengkhawatirkanku dengan tulus. Paman, dia adalah pria baik, aku percaya, dia akan menepati janjinya padaku. "
" Apakah kamu yakin dapat melawan Ratu Olivia? Pengaruh dan pengikutnya sangat besar. " tanya Ava tiba-tiba.
"Lalu bagaimana dengan pengaruh akan statusku sebagai putri mahkota, first Lady, juga seorang putri Duke Labird? Kalau aku tidak memliki kekuatan, mereka tidak akan memperebutkan keberpihakanku. Lagipula, aku merasa kekuasaan Pangeran Addrich tidak terlalu lemah. Bagaimanapun, dia calon raja saat ini. "
Ava tersenyum nakal, " Daritadi yang kudengar, kamu terus membela suamimu.."
Wajah Ellise berubah merah, "Dia sekutu dan pelindungku, tentu saja aku harus membelanya."
"oh? Benarkah? " ledek Ava lagi.
" Paman, apakah aku boleh menghajar bocah ini?! " tanya Val meminta izin.
" Kamu mendapatkan Izinku sepenuhnya. " jawab Linden terkekeh. Val langsung melesat kearas Ava, dan memukulinya dengan semangat.
" Paman, mengapa kamu memberikan izin pada Val untuk mengintimidasiku?! " jerit Ava ditengah-tengah pukulan yang diterimanya.
" Karena memang daritadi aku ingin menghajarmu bocah! Sekarang, tanganku tetap bersih dan tujuanku tercapai. "
Ellise, Monicva dan Rose ikut tertawa.
__ADS_1
***
" Zuich.. " panggil Pangeran Addrich diruang kerjanya.
Zuich Z yang sedang mengelap pedangnya disudut ruangan langsung datang kehadapan Addrich.
"Katakan.."
Zuich Z mengangguk, "Pengawal yang mengawasi Putri Ellise melaporkan bahwa Putri Ellise berada dipihak anda, namun Putri akan berpura-pura berada di pihak Ratu Olivia."
"Benarkah?"
"Benar, bahkan Pengawal melaporkan jika Putri Ellise begitu membela anda."
Addrich tersenyum puas. Awalnya Adrrich merasa cemas jika Ellise akan berpindah untuk berada dipihak Ratu. Bukan karena dia tidak mempercayai Ellise, melainkan dia hanya takut jika Ellise akan berada dipihak lawan, bagaimana dia sanggup menyakiti Ellise jika Ellise adalah musuhnya?
"Pangeran, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua akan sesuai dengan rencana. Putri Ellise adalah orang yang pintar juga baik, dia tidak akan muda masuk dalam perangkap Ratu Olivia juga tidak akan memilih orang yang kejam. "
" Tentu saja! Dia adalah Ellise ku! Zuich, tetap awasi keselamatannya."
Zuich Z mengangguk, namun dia tetap berdiri diposisinya.
"Ada apa? " tanya Addrich yang mengerti bahwa ada yang ingin disampaikan pengikutnya.
"Kesatria pengawal Ellise, Tuan Linden, pemuda Ava dan Val itu bukanlah bocah yang lemah. Mereka menyadari pengawal kita yang mengikuti Ellise. Kemarin sore, saat Ellise keluar dari istana, mereka dengan muda mengelabuhi pengawal terlatih dan mereka kabur. Namun, saat pengawal sedang menguping pembicaraan Nona Ellise tadi, mereka berpura-pura tidak mengetahui keberadaan pengawal. "
Addrich tertawa kecil, " Tentu saja! Karena mereka memang ingin kita mendangarnya, dan ingin memberitahu ku, mereka ada dipihak ku. Mereka ingin mengambil kepercayaanku. "
__ADS_1
" Namun, bisa saja Nona Ellise mengatakan hal sebaliknya, bukankah itu justru akan membahayakan mereka. "
" Zuich, kepercayaan dan rasa mengenal diantara mereka sangat besar tanpa celah. Mereka tau Ellise seperti apa, mereka bisa memprediksi Ellise ada dipihak mana. Namun, jika Ellise justru menghancurkan itu, kamu pikir mereka siapa? Mereka tidak takut apapun, kecuali hal yang menyangkut keselamatan Ellise. Soal keselamatan Ellise, tetap saja pihak manapun Ellise, Ellise akan aman sementara waktu, mereka juga akan menjaga Ellise. "