Married To Prince

Married To Prince
Bab 19


__ADS_3

Ellise dan Linden memasang muka yang sangat gelap. Benar! Kegelapan melingkupi hati dan pikiran mereka.


Pintu terbuka, Pangeran Addrich masuk dan langsung duduk sebrang bangku Ellise. Ketika Ellise dan Linden hendak memberikan hormat, Pangeran Addrich memberikan Isyarat tidak perlu.


Menatap Ellise sebentar, kemudian tatapannya beralih kepada kesatria yang berdiri disamping Ellise.


"Keluarlah.." perintahnya.


"Maaf pangeran, saya adalah kesatria pelindung Nona Ellise, saya tidak akan meninggalkannya. " tolak Linden dengan sopan.


Itu cukup menghidupkan kekesalan pangeran Addrich.


" Jadi, menurutmu, perlindunganmu lebih berguna kepada calon istriku daripada perlindunganku? Tuan kesatria, apakah kamu meragukan kekuatanku, kekuasaan ku juga perlindunganku pada nonamu? " tanya Pangeran Addrich tajam.


Melihat itu, Linden langsung bersujud,


" Maafkan saya pangeran, maafkan atas ketidaksopanan saya, bukan saya meragukan anda. Selama ini, saya yang menjaga nona Ellise, disinilah fungsi saya. Saya hanya menjalankan kewajiban saya dan tugas saya sebagai kesatria pelindung. "


Ellise langsung berdiri dan ikut bersujud disamping Linden, " Pangeran, maafkan sir Linden. Selama ini saya sangat bergantung kepadanya, karena perlindungannya maka saya dapat hidup sampai saat ini. Jika pangeran merasa kesatria saya melukai harga diri anda, anda dapat menghukum saya yang tidak dapat mengajarkan kesatria saya dengan baik. "


Pangeran Addrich mendesah berat, suaranya mulai melunak.


" Ellise, dihadapan raja, dihadapan para bangsawan, kamu mengatakan ingin berbicara berdua denganku. Aku telah mengusir kesatriaku, maka kamu harus melakukan hal yang sama. Jangan membuat reputasimu hancur karena kamu tidak dapat memegang ucapan sendiri. "


Ellise menyadari maksud pangeran Addrich, ini semua untuknya!


" Sir Linden, keluarlah dan tunggu aku didepan pintu. "


" Tapi nona Ellise, saya tidak mungkin meninggalkan anda. " tolak Linden keras kepala.


" Kamu tidak meninggalkanku sir, kamu hanya menungguku diluar ruangan ini. Aku berjanji, aku akan baik-baik saja. " bujuk Ellise lembut.


"Baiklah nona, namun jika terjadi sesuatu pada anda, siapapun itu, aku tidak akan diam. Nona, keselamatan anda adalah nyawa saya yang paling berarti." bisik Linden, namun bisikan itu cukup terdengar oleh pangeran Addrich.

__ADS_1


Setelah Linden keluar, Pangeran Addrich menyuruh Ellise kembali duduk, Ellise mematuhinya.


"Ellise, aku tidak menyangka, betapa setianya kesatria pengawalmu.. " ujar Pangeran Addrich memulai percakapan.


" Itu karena dia sudah seperti ayah bagi saya, dan Sir Linden menyayangi saya seperti putrinya sendiri, kami saling menyayangi dan menjaga selama ini seperti keluarga. "


Pangeran Addrich menatap pintu dengan pandangan aneh, dimana Linden sedang berdiri dibaliknya.


"Lalu, apa tujuan kamu ingin berbicara denganku berdua?"


"Pangeran Addrich, apakah anda mencintai saya? " tanya Ellise terus terang.


Pangeran Addrich terkejut, dirinya hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Ellise.


" Karena anda diam, bolehkah saya mengartikan itu dengan arti tidak? Anda idak mencintai saya. "


Pangeran Addrich masih diam.


" Jika anda tetap diam, maka saya tidak bermaksud tidak sopan untuk mengartikan bahwa anda tidak mencintai saya. " ujar Ellise menarik kesimpulan.


"Karena kamu cantik, kamu mempesona, kamu memukau.. "


Wajah Ellise bersemu merah, pangeran Addrich sangat menikmati pemandangan itu.


" Ehem.. " Ellise berdehem pelan.


" Pangeran, bolehkah saya berbicara jujur tanpa mendapat hukuman dari anda? "


" Katakan.. "


"Saya merasa anda bukanlah pangeran yang berfikiran sempit, yang akan tersentuh hanya karena sebuah keindahan."


Pengeran Addrich tersenyum mendengar perkataan Ellise.

__ADS_1


"Ellise, telah aku duga, bahwa kamu sangatlah pintar.. "


" Terima kasih atas pujian anda, pangeran. "


"Ellise, katakan tujuannmu sebenarnya?" tanya Pangeran Addrich dengan lebih lembut.


Alih-alih menjawab, Ellise kembali bertanya.


"Pangeran, apakah tujuan anda menikahi saya? "


Senyum pangeran Addrich semakin mengembang.


" Apa maksudmu bertanya tentang tujuanku?"


"Pangeran, langsung saja ke intinya. Apakah anda memerlukan saya untuk bekerja sama menghadapi ratu Olivia? "


Pangeran Addrich tertawa kagum melihat kepintaran Ellise, wanita yang dihadapannya tidak salah menerka, walaupun terkaan itu tidak benar seluruhnya.


" Mengapa kamu merasa aku akan melawan ratu Olivia? Dia adalah ibuku saat ini. "


"Serangan anda secara terbuka tadi kepada Ratu Olivia menunjukkan bahwa anda tidak mengakuinya sebagai ibu."


Pangeran Addrich mengetuk-ngetuk jarinya pada pahanya sendiri.


" Apakah kamu bisa menghadapi ratu Olivia? "


" Tentu saja. "


" Kamu begitu yakin? "


Ellise mengangguk pasti.


"Apa yang membuatmu begitu yakin?"

__ADS_1


"Karena anda akan ada dibelakang saya, anda tidak akan membiarkan istri anda yang akan menjadi sekutu anda mendapat masalah. Setidaknya, itu pasti selama anda membutuhkan saya. Yang terpenting, dengan kekuatan saya sebagai istri anda, sebagai first lady, dengan segala kekuasaan yang anda berikan ditangan saya, saya yakin dapat menghadapinya. "


__ADS_2