Married To Prince

Married To Prince
Bab 36


__ADS_3

Kreettt...


Pintu terbuka, Ellise menoleh kearah asal suara, terlihat Addrich muncul.


"Pangeran, apakah anda baru selesai latihan sampai larut malam ini? " tanya Ellise seraya menyodorkan sebuah handuk kecil.


Addrich menaikkan sebelah alisnya, namun tangannya tetap menerima handuk tersebut.


"Apakah aku dapat mengartikan handuk ini adalah sebuah bentuk perhatianmu, Ellise?"


"Sebenarnya itu adalah ungkapan terima kasih saya karena anda menempatkan keluarga saya di sini, tepat disekitar saya. Jika anda mengartikan itu sebagai bentuk perhatian, maka saya tidak akan membantah.. "


Addrich kembali menyodorkan handuk tersebut pada Ellise.


Ellise memandang handuk itu, kemudian pandangannya beralih ke wajah Addrich yang juga menatapnya," Pangeran, apakah anda menolak ungkapan terima kasih saya? "


Addrich menggeleng, " Bantu aku mengeringkan keringatku, aku ingin mandi sebentar lagi."


"Pa..pangeran, anda dapat melakukannya sendiri, S... Saya yang akan menyiapkan air mandi anda.. " Ellise memutar tubuhnya dengan cepat, tidak secepat Addrich yang langsung memeluknya ketika dia berhasil berbalik.


Jantung Ellise berdebar, tubuh mereka terlalu dekat, bahkan sudah saling menempel, Ellise juga dapat mencium keringat Addrich, merasakan debaran jantung pria itu.


"Pa.. Pangeran, lepaskan saya. Anda masih berkeringat. "


" Oh? Apakah kamu merasa jijik padaku Ellise.? "


" Tentu saja tidak, tetapi saya mencium keringat anda dari jarak sedekat ini.. "


" Apakah aku bau? " tanya Addrich tidak percaya bermaksud untuk menggoda..


" Tidak! Keringat anda wangi... " jawab Ellise gelagapan.


" Hahahahaha.. Ellise, sejak kapan keringat menjadi teman baik untuk kata wangi? " Addrich tertawa geli.


Pertanyaan tersebut berhasil membuat Ellise menyadari kebodohannya, dia terlalu panik, jantungnya terlalu berdebar, akhirnya dia menyadari kalau Pangeran Addrich sedang bercanda.


" Pangeran, apakah anda sedang menggoda saya? " tanya Ellise berpura-pura cemberut.


" Tidak, aku hanya ingin memgganggumu sebentar. Tetapi, kata menggoda bukanlah ide yang buruk."

__ADS_1


Perlahan tapi pasti, Addrich langsung menggendong Ellise dan melempar dengan pelan tubuh Ellise ketempat tidur. Belum sempat Ellise tersadar dengan situasi yang terjadi karena dia terlalu syok, Pangeran Addrich sudah berada diatasnya, memandangnya dengan tajam. Nyali Ellise perlahan menciut mendapati tatapan itu, tatapan yang membuat sekujur tubuhnya merinding karena terlalu mendamba.


"Pangeran, apa yang anda lakukan? " seru Ellise pelan..


"Menggodamu Ellise..."


"Berhenti bercanda Pangeran.. "


"Ellise, tidak ada candaan jika itu menyangkut tentangmu.."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Pangeran Addrich langsung mencium bibir Ellise dengan lembut sampai Ellise tidak menyadari bahwa dia telah membalas ciuman tersebut. Ellise bukanlah wanita nakal, dia tidak mengerti akan hal-hal antara pria dan wanita diatas ranjang, namun nalurinya menggerakkan bibirnya untuk membalas ciuman itu, tangannya merangkul punggung Ellise, naluri yang sama seperti ketika dia bercinta dengan Sir Aricer, pria bertopeng itu.


Addrich menggeram rendah menyadari Ellise membalasnya.


Saat itu juga, ingatan saat percintaan dengan sir Aricer muncul dengan jelas dalam benak Ellise, ingatan itu sangat mengganggu Ellise. Ellise berusaha menghentikan ciuman itu. Tetapi, Addrich yang telah kalah oleh nafsunya sendiri tetap memaksa kehendaknya ke Ellise. Karena tidak ada jalan keluar, Ellise menggigit bibir Addrich dengan kuat, memaksa pria itu berhenti dan langsung bangkit dari tubuh Ellise.


"Apa yang salah denganmu Ellise?! " tanya Addrich, awalnya dia ingin marah, namun begitu melihat airmata Ellise mengalir, dia sangat terkejut.


" Pangeran, ini tidak benar.. "


" Bagian mana yang tidak benar?! Aku hanya menggoda istriku sendiri, apakah itu dosa? "


" Apa aku harus menarik kembali ucapanku?"


"Pangeran, apakah anda sadar, anda memiliki wanita yang anda cintai, anda bahkan ingin menikahinya setelah semua ini selesai. "


"Apakah kamu harus mengungkit masalah itu saat ini?!"


"Karena itu alasan mengapa anda tidak menyentuh saya pada malam pertama pernikahan kita. "


" Ellise, jujurlah, bukan ini satu-satunya alasan kamu menghentikan ciuman kita bukan?" tanya Addrich, instingnya menyatakan bahwa Ellise sebenarnya dengan senang hati menerima segala perlakuannya, namun tidak terlewatkan juga olehnya, tiba-tiba pandangan Ellise berubah seolah terganggu oleh sesuatu hal.


"Tidak ada alasan lain." ujar Ellise berbohong.


Pangeran Addrich tentu saja tidak percaya,


"Aku paling benci untuk dibohongi, Ellise! "


Ellise memalingkan wajahnya kearah lain, dengan lemah dia berkata, " Terlepas saya berbohong atau tidak kepada anda perkara satu ini, bukankah hubungan kita hanya sebatas hubungan kerja sama yang saling menguntungkan. Hubungan pribadi tidak diperkenankan ada diantara kita, saya tidak ingin segala emosi mempengaruhi tujuan utama mengapa kita bersama."

__ADS_1


Ellise kembali menatap Pangeran Addrich,


"Lagipula, anda bukanlah sesuatu hal yang saya ingin miliki. Pengeran, tidak ada cinta diantara kita, jika kita terjatuh terlalu dalam, saya tidak ingin mempunyai luka dengan alasan keberadaan anda. Anda juga tahu, saya ingin hidup nyaman dan aman bersama orang-orang saya."


Pangeran Addrich meneguk salivanya, rasa marah dan kecewa mulai membakar pikirannya, namun dia menahan itu semua.


Dia bangkit berdiri, "Baiklah Ellise, aku mengerti keinginanmu, mulai dari detik ini, kita hanyalah dua orang yang terpaut hubungan kerjasama yang saling menguntungkan tanpa adanya perasaan pribadi."


Pangeran Addrich menekankan setiap kata dalam kalimatnya, kemudian dia berlalu meninggalkan ruangan tersebut, tanpa sadar meninggalkan Ellise yang kembali meneteskan airmatanya.


Ellise sungguh tidak paham akan perasaannya, ada debaran jantung yang sangat kuat ketika dia bersama Pangeran, debaran yang mungkin dapat diartikan sebagai debaran cinta. Benar, Ellise menyukai Pangeran secara perlahan, Ellise juga menduga dia telah mencintai pria itu. Namun, setiap kali pria itu mulai bersikap mesra padanya, setiap kali itu juga terlintas pria bertopeng itu, awalnya bayangan Sir Aricer hanya bayangan samar-samar, namun semakin mesra tindakan Pangeran Addrich, semakin kuat juga bayangan Sir Aricer.


Jika hendak jujur, memikirkan suatu saat Ellise harus mengembalikan Pangeran Addrich kepada wanita yang dicintainya saja sudah membuat Ellise sakit hati dan takut terjatuh terlalu dalam, namun disisi lain, bayangan Sir Aricer juga sangat mengganggunya. Pria yang telah merebut kesuciannya, juga berhasil menghantuinya. Ellise membenci perasaan ini.


***


Pinggiran Air Terjun.


"Pangeran, apa yang anda lakukan disini, saya mencari anda daritadi. "


" Zuich, bukankah kamu daritadi mengikutiku diam-diam. Jangan berpura-pura kamu mencariku. " ujar Addrich tanpa menoleh.


"Eheemmm. Maafkan saya Pangeran, saya hanya khawatir terhadap anda."


"Tidak perlu khawatir, aku hanya ingin sendiri."


"Baik Pangeran." ujar Zuich Z yang perlahan pergi menjauh dari Pangeran Addrich, dia tidak benar-benar pergi, dia hanya memantau pangerannya dari kejauhan, memastikan keselamatan tuannya.


"Terlepas saya berbohong atau tidak kepada anda perkara satu ini, bukankah hubungan kita hanya sebatas hubungan kerja sama yang saling menguntungkan. Hubungan pribadi tidak diperkenankan ada diantara kita, saya tidak ingin segala emosi mempengaruhi tujuan utama mengapa kita bersama."


Pangeran Addrich mengingat kembali ucapan Ellise. Adrrich merasakan sakit hati. Benar! Ini adalah permintaannya pada malam pernikahan mereka, namun Tuhan juga tahu bahwa dia bukan tidak menginginkan Ellise. Dia mencintai wanita itu! Namun, dia terpaksa melakukan itu, tidak memperlihatkan seluruh cinta yang dimilikinya, agar wanita itu tidak menjadi kelemahannya untuk melawan musuhnya. Dia tidak takut mati, dia hanya takut wanita itu terluka. Menjadikan wanita itu sebagai teman kerjasama saja sudah membuat wanita itu menjadi sasaran, apalagi membuat orang-orang tau bahwa dia sangat mencintai wanita itu. Pangeran Adrrich berkeringat dingin membayangkan hal tersebut. Lagipula, dia ingin menempatkan wanita itu dalam pernikahan yang pantas, dalam kehidupan yang sesungguhnya, dalam kesucian kehidupan berumah tangga, bukan hubungan yang penuh trik dan manfaat juga ambigu. .


"Lagipula, anda bukanlah sesuatu hal yang saya ingin miliki. Pengeran, tidak ada cinta diantara kita, jika kita terjatuh terlalu dalam, saya tidak ingin mempunyai luka dengan alasan keberadaan anda. Anda juga tahu, saya ingin hidup nyaman dan aman bersama orang-orang saya."


Kalimat Ellise berikutnya semakin membuat Pangeran Addrich sakit hati dan kecewa, andai saja alasan Ellise hanya karena tidak ingin merebutnya dari wanita yang dicintainya, mungkin dirinya lebih bisa menerima itu. Apalagi jika wanita itu cemburu, hal itu dapat membuat kesenangan tersendiri dalam hatinya. Namun, wanita itu justru mengatakan tidak ada cinta diantara mereka. Jika wanita itu tidak menyadari rasa cintanya, Pangeran Addrich dapat memakluminya karena dia memang tidak memperlihatkan itu dengan jelas. Namun perasaan wanita itu yang menyakitinya. Tidak bisakah wanita itu menyukainya sedikit saja sebagai seorang pria, bukan sebagai teman kerjasama? Pangeran Addrich tau itu permintaan yang egois, namun dia tidak mau peduli, jika itu tentang Ellise. Bahkan dia memang ingin menjadi sosok serakah yang ingin memiliki wanita itu dari tubuh dan segala perasaannya.


Pangeran Addrich dari awal menyetujui permintaan Ellise untuk menjadikannya Alat pelindung Ellise, karena memang dia ingin menempatkan Ellise disisinya dalam perlindungannya. Dia merasa terhormat untuk melindungi wanita yang dicintainya. Pangeran juga berfikir, dalam kurun waktu itu juga, dia berharap membuat Ellise mengenal dirinya, membangun hubungan baik dengannya, membuat wanita itu mencintainya, suatu saat, ketika semua badai telah berlalu, wanita itu secara sukarela datang kesisinya, membalas cintanya, melahirkan penerus untuknya dan menemaninya hingga kematian datang kepada mereka.


Apakah itu terlalu berat???

__ADS_1


__ADS_2