
"Ellise..." panggil Ava disepanjang perjalanan ketika mereka kembali.
"Jangan katakan atau pertanyakan apapun saat ini, aku akan menjelaskannya nanti. Banyak mata dan telinga disini. " bisik Ellise.
Ava akhirnya mengalah.
" Ellise.. " kali ini Val yang memanggil.
Ellise langsung menghentikan langkahnya, berbalik kearah Ava dan Val.
" Ya.. " jawab Ellise, dia tau betul perangai mereka berdua. Val lebih dewasa ketimbang Ava, Val selalu berfikir sebelum berbicara dan bertindak. Lain halnya dengan Ava yang melakukan segala sesuatu dengan emosi yang dirasakannya saat itu.
"Sebelum bertemu dengamu, aku telah mengantongi ijin dari pangeran Addrich untuk membawamu berkuda. Kita akan kesuatu tempat, kamu bisa bebas berlatih pedang disana tanpa ada mata yang memperhatikanmu. Aku percaya kamu merindukan saat-saat seperti itu. "
Mata emas Ellise langsung bercahaya, akhirnya dia mempunyai waktu sejenak untuk melepaskan topeng ini dan menjadi Ellise yang sesungguhnya. Ellise yang tidak memperdulikan setiap tindakannya harus sesuai dengan seorang Lady.
" Pastikan, tidak ada yang mengikuti dan mengawasi kita.. " bisik Ellise.
" Apa kamu meragukan kemampuanku Ellise?"
"Tidak, tentu saja tidak. Lalu apa kamu membawa tali cambukku? "
" Ellise, kamu memang seorang berandalan kecil. Hanya kamu yang bisa memakai cambuk dan pedang disaat bersamaan. " bisik Val, bibirnya mengukir sebuah senyum hangat.
***
Ellise menghabiskan harinya dengan kepuasan yang hakiki, senyum mengambang jelas dibibir kecilnya.
Dengan santai dia terus berjalan kembali kekamar , tanpa peduli pandangan orang yang melihatnya dalam kondisi yang berantakan.
Ava dan Val telah diperintahkan Ellise untuk beristirahat.
__ADS_1
"Nona, saya akan menyiapkan air mandi untuk anda. " ujar pelayan didepan pintu kamar begitu melihat kedatangan Ellise.
"Tidak, tidak perlu. Aku akan menyiapkannya sendiri, namun, antarlah makanan 3 jam lagi kekamarku."
"Baik nona. "
Ellise memasuki kamarnya, gelap dan tidak terlihat berpenghuni. Dengan santai Ellise melepaskan sepatunya setelah menutup pintu. Sembari berjalan, Ellise mulai melepaskan jubah berkudanya, lalu dimulai melepaskan tali gaunnya, dengan satu sentakan Ellise melepaskan gaunnya.
Ditubuh Ellise hanya tersisa gaun dalam yang sedikit transparan. Saat Ellise hendak membuka gaun dalamnya, tiba-tiba terdengar suara rendah yang begitu menggoda.
"Jika lebih dari itu, mungkin aku tidak akan bisa menahan diriku. Ellise, jangan memancing diriku untuk melakukan sesuatu yang akan menjadi penyesalan diantara kita berdua. "
" Pa.. Pangeran, apa yang anda lakukan dalam kegelapan? "
" Pertama, pakai kain ini untuk menutupi tubuhmu. " ujar Pangeran Addrich menyerahkan kain yang disambut cepat oleh Ellise.
Ellise yang sudah menutup tubuhnya, mencoba membuat kamar tampak terang, tindakan itu langsung dicegah Pangeran Addrich.
" Ellise, aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu dan aku lebih nyaman dengan kegelapan ini. "
" Aku akan membukakannya untukmu Ellise. " ujar pangeran Addrich menawarkan diri.
Sinar rembulan perlahan menerangi ruangan tersebut, hal itu sedikit mengingatkan tentang malam pertemuan pertamanya dengan Aricer. Rona merah membasuh wajahnya perlahan.
" Ellise, apakah kamu sakit? " tanya Pangeran Addrich yang tidak melewatkan perubahan rona di wajah Ellise.
Ellise menggeleng dengan cepat, dia berusaha untuk mengatur sikap juga pemikirannya untuk kembali berpusat pada orang yang berada dihadapannya saat ini.
" Kalau begitu, duduklah. "
Ellise menyanggupi perintah tersebut, perlahan dia mengambil posisi duduk yang nyaman.
__ADS_1
Baik pangeran Addrich dan Ellise hanya saling memandang dalam diam. Pangeran Addrich masih tetap mempertahankan pandangan penuh selidik, begitupun Ellise masih mempertahankan ketenangannya.
"Bagaimana kunjunganmu pertamamu dengan Ratu Viola. Apakah dia menyulitkanmu? "
"Jika harus jujur, ratu sedikit menyulitkan saya. Apakah anda ingin saya menceritakan isi dari kunjungan itu?"
"Tidak perlu, rubah itu pasti akan mencoba menggertakmu pada awalnya, jika tidak berhasil, dia akan memberikanmu pilihan untuk bergabung dengannya atau menjadi musuhnya. "
"Apakah saya harus menjawab tentang pilihan itu Pangeran?"
"Ellise, aku tidak perduli ratu memberikanmu berapa banyak pilihan. Namun dihadapanku, kamu tidak mempunyai pilihan apapun kecuali menyelesaikan sumpah kita. Kamu harus tetap disisiku. "
"Saya rasa anda telah mengetahui, disisi mana saya berada."
"Tentu saja, untuk itu aku mencarimu saat ini, kehadiranku bukan untuk meragukan pilihanmu, melainkan aku ingin memberitahu bahwa aku akan selalu disisimu juga Ellise. Aku akan selalu melindungimu, jadi aku harap cari aku ketika kamu merasa kesulitan. Tidak perduli dimanapun kamu, tidak perduli apapun itu, ketika kamu memerlukanku, maka aku akan selalu ada untukmu. Aku akan mempertaruhkan apapun untuk melindungimu. "
Ketenangan Ellise mulai goyah, kalimat yang diucapkan Pangeran Addrich berhasil membuat getaran besar didada nya. Kalimat yang mampu membuat Ellise sangat bahagia namun juga menyakitkan disaat bersamaan. Sekilas, perasaan cemburu merasuki hatinya, cemburu pada wanita yang dicintai Pangeran Addrich. Andai wanita itu adalah dirinya, mungkin Ellise akan sangat bahagia saat ini. Ellise mulai tidak memahami perasaannya.
"Ellise, apakah kamu bisa berjanji satu hal lagi padaku? "
Ellise hanya menatap pangeran Addrich tanpa berniat untuk menjawabnya.
" Ellise, berjanjilah padaku. Jika sesuatu yang tidak benar terjadi, panggillah aku segera, karena aku akan meninggalkan hal apapun untuk dirimu. Jika aku sedikit terlambat, aku mohon untuk baik-baik saja sampai aku tiba. Lakukan apapun asal kamu tetap baik-baik saja. "
***Catatan Penulis :
Maaf untuk keterlambatan UpDate.
Bukan penulis ingin mengecewakan readers, namun ponsel lagi rusak. Saat ini juga masih belum bagus. T_T
Namun penulis akan mencoba mencari jalan keluar secepatnya.
__ADS_1
Penulis juga akan berusaha untuk update tidap hari lagi.
Terima kasih***.