
Ellise hanya bisa memandang pangeran Addrich dengan mata emasnya. Awalnya, dia sangat ketakutan jika Pangeran Addrich akan menuntut haknya sebagai suami, takut jika pangeran akan kecewa padanya. Namun ketika Pangeran Addrich justru mengatakan tidak ingin melakukan hubungan suami istri dengannya, Ellise malah terluka dan kecewa. Mengapa dia begitu sakit hati? Bukankah keadaan ini justru menguntungkan baginya.
"Ellise.. " panggil Pangeran Addrich.
" Pangeran, mengapa? Apakah anda sakit hati atau tersinggung karena saya menangis saat anda memeluk saya malam hari itu? "
Pangeran Addrich menggeleng.
" Ellise, waktu itu, ketika kamu bertanya padaku. Apakah aku menginginkanmu menikah denganku karena aku mencintaimu, aku tidak mengatakan apapun. Kenyataannya, aku memang mencintai wanita lain. "
" Lalu mengapa anda menikahi saya? Katakan alasannya sesungguhnya pangeran."
"Karena Aku membutuhkanmu, aku membutuhkan statusmu, baik statusmu saat ini sebagai putri mahkota yang mempunyai kekuasaan tersendiri, atau statusmu sebagai putri keluarga Labird. Saat itu aku berfikir, aku dapat membuatmu menjadi sekutuku untuk memperbesar kekuasaan yang aku miliki. "
" Karena itu, anda dengan cepat memulihkan status saya dikeluarga Labird? Hanya untuk memanfatkan saya? "
" Memanfaatkan? Itu kata yang tidak tepat. Kita sekutu yang saling menguntungkan Ellise. "
" Lalu, mengapa anda tidak menikahi wanita yang anda cintai juga? "
" Aku akan menikahinya, dengan cara yang paling layak. Tentu saja setelah aku mendapatkan kekuasaan mutlak nanti. Aku membutuhkan mu untuk melawan ratu Olivia."
Ellise kembali diam, sebulir air mata mengalir di pipinya.
Pangeran Addrich bangkit, bersimpuh didepan Ellise, mencium tangannya, dan memandang Ellise dengan pandangan sayang,
__ADS_1
"Ellise, janjiku akan aku penuhi. Aku akan melindungimu dan orang-orangmu. Statusmu, kedudukanmu, tidak akan pernah terganggu, itu milikmu. Aku berjanji. "
Ellise semakin larut dalam tangisnya.
Pangeran Addrich bangkit, dan berjalan menuju pintu, sebelum keluar dia kembali berbicara," Untuk sekarang, tenangkan dirimu. Tetaplah kuat, karena aku benar-benar tidak ingin menyakitimu. Aku akan melindungimu, dan mulai besok, aku akan mengajarimu untuk mengerti, kehidupan kerajaan tidak seindah bayangan orang selama ini. Kerajaan bukanlah sesederhana itu, begitu banyak intrik, kejahatan dan kemunafikan disini. Aku akan mengajarimu untuk mengenal watak, perangai juga melawan semua itu. Tetaplah disisiku Ellise, percayalah padaku, aku akan melindungimu. Percayalah hanya padaku, seperti aku mempercayaimu. "
Kemudian Pangeran Addrich menghilang dalam malam.
***
" Pangeran, apa yang anda lakukan disini? " tanya Zuich Z menyadari keberadaan Pangeran Addrich.
" Apa kamu tidak dapat melihatku? Aku sedang berlatih pedang." jawab Pangeran Addrich, peluh keringat membajiri seluruh tubuhnya.
Pangeran Addrich menghentikan gerakannya, menyarungkan kembali pedangnya dan duduk disamping Zuich Z.
" Aku tidak bisa. "
"Tapi mengapa? Satau saya, anda mencintai Ellise. "
Zuich Z ikut duduk disamping Pangeran Addrich.
"Malam tempo hari, hanya memeluknya saja, dia sudah menangis."
"Apakah karena Ellise telah menyinggung hati pangeran saat itu? "
__ADS_1
" Tidak, apapun itu, selama itu Ellise, maka aku bisa menerima perlakuannya. Aku mencintainya, ingat itu. "
" Kalau begitu, kembali lah kekamar anda. "
" Zuich, tadi dia gemetar ketakutan saat aku mendekat padanya. Dia istriku saat ini, tetapi dia ketakutan padaku. "
" Itu wajar saja. Wanita berbeda dengan pria, apalagi nona Ellise itu polos, dia pasti akan merasa resah juga takut. "
" Zuich, ada hal yang tidak kamu pahami. Sepanjang pernikahan berlangsung, Ellise tampak diam dan muram. Jika keyakinanku tidak salah, dia pasti memikirkan malam pertama ini, dia ketakutan. Jika waktunya telah tepat, setelah dia mulai dapat menerima kehadiranku, setelah dia mulai terbiasa dan bersedia, maka aku akan melakukannya. Aku tidak ingin menakutinya, sampai kapanpun akan aku tunggu. Dia istriku, selamanya akan begitu. Aku tidak akan pernah melepaskannya, karena itu aku akan bersabar. "
Zuich Z mulai terheran, melihat pangeran tidak sabarannya menjadi tenang untuk menunggu Ellise.
" Apa yang anda katakan padanya malam ini?"
"Aku mencintai wanita lain, aku akan menikahi wanita itu dengan cara yang layak. "
"Pangeran, perkataan itu pasti menyakitinya."
"Aku tau, namun aku ingin yang terbaik untuknya. Suatu saat nanti, aku akan bersimpuh, mengatakan bahwa wanita itu adalah dirinya, memohon padanya untuk mencintaiku. Suatu saat, aku akan menikahinya secara layak, bukan seperti saat ini, membuat alasan menikahinya karena ingin memanfaatkannya. Ellise, wanita itu, hanya dia satu-satunya yang membuatku memiliki hati ditengah pertarungan menjijikkan dikerajaan ini. Aku membuatnya disisiku untuk melindunginya, jika dia jauh, aku takut aku tidak sempat melakukan sesuatu jika bahaya mengancamnya. "
" Pangeran, sebaiknya anda jujur saja pada nona Ellise. "
" Zuich, keadaan saat ini, tidak mungkin untuk itu. Dia harus menjadi kuat jika menjadi istriku. Dia tidak boleh ragu akan apapun, perasaannya tidak boleh terganggu akan apapun. Aku ingin dia fokus pada tujuannya, yaitu untuk melindungi diri sendiri dan orang-orangnya. Hanya itu yang aku harapkan, selebihnya aku akan berjuang melindunginya, berjuang untuk menyelesaikan segala permasalahan yang membelengguku selama ini."
Zuich menghela nafas, dia mengerti akan kecemasan pangeran Addrich, namun disaat yang bersamaan, dia tidak mengerti akan keputusan Pangeran Addrich. Yang hanya bisa dilakukannya adalah menjalani setiap tugas yang diberikan Pangeran Addrich dengan sesunghuh hati.
__ADS_1