Married To Prince

Married To Prince
Bab 23


__ADS_3

"Ellise, katakan padaku, bahwa Kesatria mu salah menunjukkan arah padaku." seru Pangeran Addrich tidak percaya.


"Pangeran, memang tempat inilah kediaman dimana saya tinggal selama ini.. " ujar Ellise tenang.


"Ellise, keluarga Labird adalah bangsawan tertinggi dibenua ini dari dahulu kala, walaupun kekayaannya tidak seperti keluargaku, namun diantara semua bangsawan, keluarga Labird memiliki kekayaan terbanyak. Mungkin orang-orang tidak mengetahuinya, namun aku dan keluarga kekerajaan mengetahui fakta itu! Dan kamu, kamu adalah ahli waris satu-satunya dari keluarga Duke Labird, bagaimana mungkin kamu tinggal kastil ini? Kastil ini sungguh kuno dan usang. Bahkan belum memiliki penerangan modern! " cercah Pangeran Addrich marah, dirinya terusik dengan ketenangan Ellise.


Linden, Ava, Val, Monicva, Ros dan kedua pelayan kesayangan Ellise yang berjalan didepan mereka, mengangguk-angguk menyetujui perkataan Pangeran Addrich.


"Pangeran, semua ucapan anda memang benar. Namun saya tidak bisa menerima anda menyebut ini kastil kuno dan usang..." ujar Ellise sedikit tersinggung. Sebenarnya pangeran hanya memberi komentar ringan tentang sebuah kenyataan, namun entah mengapa Ellise tidak terima dengan sebutan yang dikatakan Pangeran Addrich.


"Aku berbicara tentang kenyataan, Ellise." potong Pangeran Addrich.


Ellise tampak menarik nafas pelan, tubuhnya berhenti berjalan...

__ADS_1


"Pangeran, bagaimana jika saya dan anda berjalan berdua ketaman itu?"


Pangeran Addrich menatap taman yang ditunjuk Ellise, tidak jauh dari sana, hanya sebuah taman kecil dengan bermacam bunga yang indah.


Pangeran Addrich mengangguk, memberikan isyarat mata pada Zuich Z bahwa dia ingin berdua dengan Ellise. Pangeran Addrich mengulurkan tangannya untuk menuntun Ellise ketaman tersebut.


Sesampainya disana, Ellise memetik setangkai bunga mawar, duri mawar tersebut melukai tangannya. Belum sempat Pangeran Addrich meraih tangannya yang terluka, Ellise telah menyodorkan bunga itu tanpa memperdulikan luka tersebut. Pangeran Addrich langsung mematung, matanya menatap Ellise dengan dalam, mereka berdiri berhadap-hadapan.


Ellise menggeleng. Dia tetap menahan perih dari jari yang terluka, matanya menatap Pangeran Addrich dengan tatapan sendu..


" Pangeran, bunga ini, apakah bunga ini indah?"


Pangeran Adrrich mengangguk.

__ADS_1


"Namun, keindahannya melukaimu Ellise. "


"Benar, keindahannya melukai saya. "


"Ellise, apa yang ingin kamu sampaikan dengan bunga ini?" tanya Pangeran Addrich akhirnya.


"Pangeran, walaupun anda memang mengatakan kenyataan tentang kekayaan keluarga saya, tentang mengapa saya justru hidup tanpa kekayaan tersebut, namun saya memiliki alasan mengapa saya tidak menerima perkataan anda dengan sebutan kastil kuno dan usang. Sesungguhnya saya sangat menghargai setiap jengkal kediamanan keluarga saya, dimanapun itu. Sebelum kedua orang tua saya meninggal, tidak ada tempat yang tidak kami pijak dan kami beri kenangan. Apalagi setelah mereka sudah tidak ada, ini adalah tempat dimana saya menghabiskan setiap kenangan, baik itu canda, tawa, tangis, kemarahan, kesediahan dalam setiap aktivitas, walaupun ini bukan kediaman utama. Jika anda bertanya, apakah saya rela tinggal disini, dengan jujur saya katakan, sampai beberapa saat yang lalu saya masih mengeluh mengapa disini masih memakai api penerang, bukan sebuah penerangan modern bahkan saya bertekad menunjukkan diri dipesta anda agar saya dapat terbebas dari tempat ini. Namun, sejujurnya tanpa saya sadari, disini jugalah saya tumbuh dewasa, belajar tentang segalanya bersama mereka, orang-orang yang membuktikan diri tidak akan meninggalkan saya dalam kondisi apapun. Karena itu, saya tidak lagi berfikir dan hidup untuk diri saya sendiri, saya hidup untuk mereka juga. Saya tidak takut mati, sudah lama saya terkurung disini, setengah hati saya sudah mati, namun setengahnya lagi berontak meminta kebebasan demi mereka. " ujar Ellise sedih.


" Ellise, lanjutkan... " ujar Pangeran Addrich lebih lembut, suaranya mengisyaratkan kesedihan yang sama.


" Dan bunga ini, bunga ini indah, namun berduri dan durinya menyakiti saya. Begitu juga tentang kehidupan saya, saya lahir dikeluarga yang cukup berkuasa dan kaya raya, namun justru itu semua, karena paman saya ingin memiliki itu semua, saya akhirnya dikurung ditempat ini. Kekuasaan dan kekayaan yang keluarga saya miliki justru menyakiti saya pangeran." ujar Ellise yang mulai menangis, Ellise sudah menahan air matanya sedari tadi.


"Karena itu pangeran, tolong berhenti berkomentar tentang kediaman saya, itu semakin menyakiti saya walaupun anda berbicara tentang fakta. Saya juga tidak ingin tinggal disini, sungguh! Namun saya tidak mempunyai pilihan, namun bukan berarti itu menjadi alasan untuk anda menghina kediaman saya."

__ADS_1


__ADS_2