
Ellise berjalan cepat mengikuti Linden, mereka akan melewati semua gerbang utama, karena penjagaan ketat diluar kediamannya tengah dilakukan. Marquess Jack Keirs benar-benar takut Ellise akan memakai kesempatan ini untuk pergi kepesta kerajaan.
Ellise memegang tangan Linden erat, "Sir, apa kamu yakin jika kita dapat melewati ini?" bisiknya.
Linden memberhentikan langkah besarnya, "Nona Ellise, Ava dan Val berhasil menyogok mereka, hanya ini jalan yang kita punya."
"Jika ini tidak berhasil, maka kesempatan kita hilang seluruhnya, lebih baik kita merubuhkan semua penjaga yang disuruh paman untuk berjaga diluar."
"Berkelahi adalah cara terakhir, uang sogokan adalah langkah pertama. "
Linden menarik Ellise dengan lembut, benar saja para penjaga dan pelayan mengabaikam keberadaan mereka sampai akhirnya Ellise dan Linden berhasil keluar.
Diluar telah menunggu kereta kuda keluarga Ellise, walaupun itu hanya kereta kecil, namun ada lambang keluarganya pada kereta itu. Tentu saja, beberapa kereta kuda utamanya telah dipakai Marquess Jack Keirs, istri dan putrinya, juga pelayan mereka.
"Naiklah nona, mari kita ambil kesempatanmu malam ini. " bisik Linden yang membantu Ellise menaiki kereta kuda.
Kereta kuda membawa Ellise melewati hutan, ibukota sampai akhirnya tiba ke kerajaan.
" Megah! " decak Ellise kagum.
" Nona, sewaktu kecil anda sering kesini." ujar Linden tersenyum.
__ADS_1
"Sudah lama aku tidak melihatnya, lihatlah lampu-lampu sangat gemerlap. Kediamanku juga memiliki lampu yang indah walaupun tidak seindah ini, namun itu hanya dimana tempat paman dan keluarganya tinggal, tidak di tempatku yang hanya dipenuhi lilin dan lampu penerang. " ujar Ellise cemberut.
" Nona Ellise, jika malam ini berhasil, peluang kita untuk meloloskan diri dari jeratan akal licik paman anda akan terbuka lebar, saat itu anda dapat menikmati segala kebebasan dan kemewahan yang memang merupakan milik anda. " ujar Jack yang menawarkan lengannya.
Ellise meraih lengan Linden dengan anggun, berjalan beriringan dengan penuh percaya diri.
"Bagus, inilah gaya dari kediaman duke Labird, percaya diri..." bisik Linden.
"Aku sangat percara diri karena aku berjalan dengan ksatria pelindung yang paling hebat dibenua ini, sir! " jawab Ellise dengan semangat.
Jawaban itu cukup menenangkan hati Linden yang sebenarnya sangat gelisah akan keberhasilan rencana mereka. Benar, dia harus menjaga Ellise, Ellise mengandalkannya, tidak ada waktu untuk ragu-ragu.
Pangeran Addrich memandang malas setiap wanita bangsawan yang mencoba menarik perhatiannya. Dia harus berperilaku baik, jika tidak ayahnya akan membunuhnya. Pangeran Addrich sangat tidak menyukai gagasan pesta ini, yang dibuat untuk mencari pendamping dirinya. Namun, gagasan menjijikkan ini justru merupakan idenya, baginya lebih baik memilih daripada dia harus menerima penjodohan yang diberikan ayahnya satu bulan lalu.
"Addrich, mengapa kamu hanya duduk disebelahku. Berjalanlah dan berkenalan dengan para wanita itu, salah satu dari mereka akan menjadi istrimu. Pilih salah satu yang terbaik, daripada aku yang akan memilihkannya untukmu malam ini. " ancam raja Federich.
" Mereka semua sama.. " gumam Pangeran Addrich.
"Bagaimana mungkin sama. Mereka memiliki kecantikan dan pesona masing-masing."
"Kecantikan? Dimataku, mereka tidak ada yang cantik. Pesona? Mereka memiliki pesona yang sama, sangat standart. " jawab Addrich angkuh.
__ADS_1
"Jika menurutmu demikian, mengapa kamu mengusulkan ide ini? Nikahi saja salah satu pilihanku, kalau hasilnya berujung sama."
"Jika ayah tertarik, maka nikahi saja. Aku tidak keberatan akan memanggil wanita pilihan ayah dengan sebutan ibu lagi, lagipula posisi permaisuri masih kosong."
Raja Feserich mendengaus kesal,
"Posisi Permaisuri selamanya adalah milik ibumu, wanita yang sangat aku cintai melebihi apapun juga. Sedangkan posisi ratu telah terisi, dan aku tidak membutuhkan selir. Diumurku, aku hanya ingin menggendong cucu dan memastikan aku memiliki penerusku darimu yang akan menggantikan posisiku kelak. "
Kalimat itu cukup membuat Ratu Olivia geram. Tergambar kemarahan yang nyata diwajahnya. Dia tau, jika kalimat yang Pangeran Addrich hanya untuk memancing jawaban yang dibencinya dari mulut raja. Sudah menjadi rahasia umum, jika raja tidak mencintainya. Pernikahannya dengan raja hanyalah keinginan untuk raja yang tidak tega melihat putra kesayangannya tidak mempunyai ibu lagi. Raja mengharapkan kasih sayangnya sebagai ibu, untuk membesarkan Pangeran Addrich.
Addrich tersenyum sinis melihat perubahan di mimik wajah Ratu Olivia yang merupakan ibu tirinya.
Dari pernikahan raja Federich dan ratu Olivia, terlahirlah pangeran Sean. Namun karena rasa cinta dan sayang baginda raja yang begitu besar pada Addrich, Raja hanya mengakui satu pewaris sah yang ditunjuknya langsung dan merupakan putra mahkota yang akan menjadi penerusnya memimpin kekaisaran ini.
Pangeran Sean hidup seperti bayang-bayang. Walaupun Pangeran Addrich sangat menyayangi adik lelakinya, namun mereka hidup di kubu yang berbeda, cepat atau lambat, mereka akan menjadi musuh. Hal itu yang membuat Pangeran Addrich menjaga jarak kepada Pangeran Sean yang selalu mengaguminya.
Terjadi keributan kecil dipintu aula, itu cukup menyita perhatian semua tamu yang hadir. Pangeran Addric tersenyum, rasa bosan yang sedari tadi dirasakan justru menjadi sukacita karena keributan itu.
Pangeran Addrich berdiri dari kursinya, berjalan ke tempat keributan terjadi.
Addrich langsung berhenti ketika melihat asal keributan, yaitu dari wanita yang begitu mempesona, tampilannya begitu indah dan murni, mata emasnya menampilkan ketajaman yang sangat memikat hati, rambut panjang dengan warna unik berjurai dengan indah seperti sebuah hiasan, juga wangi yang dihasilkan wanita itu begitu lembut. Satu-satunya wanita yang memikat hatinya untuk malam ini adalah wanita itu, wanita yang langsung diputuskannya untuk menjadi pendamping dirinya.
__ADS_1