
Ellise telah bersiap dengan gaun indahnya, mata sembab akibat tangisnya semalaman telah ditutupi dengan riasan sempurna.
Pagi ini, dia akan melakukan kunjungan pertama untuk menghadap raja dan ratu sebagai putri mahkota.
Pangeran Addrich mengulurkan lengannya, baju kebesaran sebagai putra mahkota semakin menonjolkan ketampanannya.
"Ellise, apakah kamu siap? "
Ellise mengangguk. Dia telah membereskan kegelisahannya, hanya perasaan menyakitkan yang tidak dapat dipahami yang masih tersisa dibenaknya.
Pelayan membuka pintu, terlihat Raja Federich, Ratu Olivia bahkan Sean menunggu mereka.
" Hormat pada Raja, hormat pada Ratu. " ujar Addrich memberi salam begitu mereka memasuki ruangan itu. Ellise juga melakukan hal yang sama.
" Duduklah Addrich, duduklah Ellise, ini hari pertama kalian menjadi suami istri. " ujar Raja Federich dengan ramah.
Pangeran Adrrich dan Ellise menurutinya. Pelayan menuangkan teh ke cangkir mereka berdua.
Ellise sedikit melirik Ratu Olivia yang mengedarkan tatapan permusuhan padanya secara samar-samar.
" Addrich, semalam aku mendapat laporan bahwa kamu tidak melewati malam pertama dengan Putri Mahkota. " ujar Raja Federich langsung ke intinya.
"Federich, malam pertama tidak harus dilakukan pada malam setelah pernikahan. Lagipula, mereka tidak perlu terlalu terburu-buru untuk seorang keturunan, mereka masih muda." ujar Ratu Olivia seolah membela Pangeran Addrich dan Ellise.
__ADS_1
"Benar ayah, mungkin mereka terlalu lelah malam itu. " ujar Sean polos. Lalu pandangannya beralih pada Ellise, " Kakak ipar, selamat datang dikeluarga ini. Mungkin aku belum sempat memperkenalkan diriku, aku adalah..."
"Dia Sean adik tiriku, Ellise. " potong Pangeran Addrich. Dia dengan tenang meneguk teh.
"Lalu ayah, kemarin malam memang benar aku menghabiskan waktu dengan latihan pedang, karena Ellise terlalu kelelahan." matanya melirik ratu Olivia. Laporan yang sampai ketelinga Raja Federich tentu saja ulah ratu Olivia.
"Baiklah. Wajar jika Ellise lelah. Ellise, apakah kamu telah terbiasa dengan kehidupan disini?" tanya raja Federich.
"Sebenarnya belum paduka raja. Namun saya akan berusaha untuk menyesuaikan diri." jawab Ellise hormat.
Raja Federich tertawa, "Ellise, kamu adalah keluargaku sekarang. Panggil aku dengan sebutan Ayah seperti Addrich dan Sean."
Ellise memandang Pangeran Adrrich yang memberikan anggukan padanya.
Melihat Ellise meminta persetujuan dari Pangeran Addrich membuat Raja Federich puas akan hubungan mereka yang saling menghormati.
" Baiklah, aku tidak akan mencampuri kehidupan pribadi kalian. Namun, aku tetap mengharapkan kehadiran penerus sebelum aku wafat. "
"Ayah, anda akan panjang umur." jawab Ellise cepat-cepat.
Raja Federich mengangguk-angguk bahagia.
"Ellise, sebaiknya kamu ikut denganku. Para pria akan membahas perihal politik dikerajaan, sebaiknya kita tidak perlu mengganggu mereka. " ujar Olivia seraya bangkit dari tempat duduknya, berjalan dengan diikuti pelayan dan menghilang diambang pintu.
__ADS_1
Ellise permisi pada raja Federich, namun ketika dia hendak pergi, Pangeran Addrich mengikutinya dari belakang dan menahan tangannya, lalu menariknya menjauh dari yang lain termasuk para pelayan. .
" Ellise, hati-hati dengan ibu tiriku. Apapun katanya, jawablah dengan bijak, jangan terikut permainannya. Jika kamu kewalahan, panggillah aku melalui pelayanmu, aku akan segera datang. " bisik Pangeran Addrich.
" Pangeran, jangan khawatir. Ratu Olivia bukanlah lawanku. " bisik Ellise tenang.
"Ellise, jangan meremehkannya. Jika dia gampang untuk disingkirkan, sedari dulu aku menyingkirkannya." balas Pangeran Addrich masih berbisik.
"Pangeran, anda membuat saya disisi anda, bukankah untuk melawan Ratu Olivia? Maka berikan saya kesempatan tanpa rasa khawatir agar saya menunaikan tugas saya. " bisik Ellise kembali.
" Ellise, aku percaya padamu. " jawab Pangeran Addrich akhirnya.
" Terima kasih pangeran. "
" Kakak, kakak ipar hanya bersama ibu. Mengapa kamu menampilkan wajah khawatir? " tanya Sean begitu Pangeran Addrich kembali duduk,dia heran mengapa kakaknya yang begitu kaku dan tidak perduli justru bisa menampilkan ekspresi wajah yang lain.
" Sean, begitulah pengantin baru. Mereka akan selalu menempel kemanapun, jika terpisah sedikit saja, maka mereka tidak akan rela. "ejek Raja Federich bercanda.
Pangeran Adrdrich mengabaikan itu semua, perasaannya hanya berpusat pada Ellise. Perasaan khawatir yang membuatnya tidak tenang. Dia kembali berdiri, keluar memanggil Zuich.
" Zuich, panggil Ksatria pengawal Ellise, mereka harus tetap disamping Ellise apapun yang terjadi. Lalu, kirimkan orang untuk membawa Sir Linden, dan orang-orang Ellise dari kediaman Labird. Tempatkan mereka dikamar dekat kamarku. " perintah Pangeran Addrich
Zuich Z menerima perintah dan langsung menghilang untuk tugasnya.
__ADS_1