Married To Prince

Married To Prince
Bab 24


__ADS_3

Pangeran Addrich perlahan mengambil bunga yang ditangan Ellise, memastikan bahwa tidak ada duri yang menyangkut ditangan Ellise. Pangeran Addrich meraih belati kecil yang ada dipinggangnya, mengoyak sedikit jubahnya dan membalut luka Ellise.


Dengan pelan, dia juga menghapus air mata Ellise.


"Ellise, aku tidak bermaksud menghinamu. Bukan itu maksudku sebenarnya. Aku berbicara hal ini karena aku begitu marah melihat kehidupanmu berbanding terbalik dengan status yang kamu miliki. " ujar Pangeran Addich.


Beberapa saat Ellise terdiam, memandang kesungguhan dimata Pangeran Addrich.


"Saya tau bahwa anda tidak berniat demikian, namun entah mengapa saya begitu marah ketika anda mengatakan tentang kediaman ini. Maafkan saya pangeran, anda seperti itu karena memikirkan saya, namun justru saya marah dengan anda. Saya terlalu sensitif saat ini, mungkin karena terlalu banyak hal yang terjadi belakangan ini. "


"Hmm.. Sebaiknya kita kembali. Kita memerlukan istirahat saat ini agar setelah kita bangun, kita kembali kepikiran jernih masing-masing."


Pangeran Addrich mengulurkan tangannya, bermaksud menuntun Ellise, namun Ellise tetap diam mematung.


"Ada apa Ellise? "


Wajah Ellise memerah..


" i..i..itu pangeran, apakah anda benar akan bersama saya malam ini?"


Pangeran Addrich menyunggingkan senyum nakalnya, "Benar. Ellise, kita akan menikah, cepat atau lambat kita akan satu kamar. Anggap saja ini penyesuaian diri. "


"Tetapi kita belum menikah pangeran, kita masih bertunangan. Rasanya tidak pantas jika anda bersama saya didalam satu kamar sebelum adanya ikatan yang sah diantara kita. Saya juga harus menjaga nama baik saya pangeran. " ujar Ellise pelan, rona wajahnya semakin memerah.


" Ellise, sejak aku memilihmu, sejak pertunangan kita diumumkan ayahku, sejak itu pula lah aku telah menganggapmu sebagai istriku. Namun tenang saja, aku tidak akan memakanmu hari ini. Kita hanya tidur berdua dikamar yang sama. "

__ADS_1


" Ta.. Tapi pangeran, tetap saja ini bukan suatu kepantasan untuk seorang wanita dan pria dewasa untuk tidur berdua dalam kamar sebelum ikatan." tolak Ellise.


"Bukankah kamu belum melewati hari kedewasaanmu Ellise? "


" Namun anda tetap pria dewasa pangeran."


"Jika begitu, sudah tugasku untuk merubahmu menjadi wanita yang dewasa. " ujar Pangeran Addrich, bibirnya sedikit tertawa.


"Pangeran, kita membicarakan sebuah kepantasan." ujar Ellise mencari alasan untuk menolak, baginya ucapan pangeran Addrich terakhir kali begitu vulgar.


"Omong kosong tentang kepantasan. Apa aku harus merubah peraturan tersebut Ellise?"


" Anda terlalu egois merubah peraturan dinegara ini demi sebuah keinginan egois anda.. "


"Itu hanya peraturan tidak tertulis, hukumannya juga hanya sebuah sangsi sosial dan kehilangan nama baik."


"Ellise, ada harga yang harus dibayar dalam sebuah permintaan. Ingat sumpahmu. Aku sedari tadi telah melakukan sedikit dari sumpahku, setidaknya aku mengembalikan namamu dikediaman Labird, memastikan keselamatanmu disini mulai dari aku menginjak kediaman utama tadi. Jadi, sekarang dan selanjutnya, turuti kemauanku. Lagipula, aku tidak akan memakanmu saat ini. Tenang saja. " ancam Pangeran Addrich yang mulai tidak sabar. Hari ini, dia sangat lelah, hal yang diinginkannya adalah memeluk Ellise sampai pagi.


Ellise terpaksa mengalah mendengar hal itu, dialah yang menyetujui dan bersumpah bersama Pangeran Addrich. Hanya tidur berdua Ellise! Ellise berdoa agar sepanjang malam ini, Pangeran Addrich tetap memiliki kewarasannya sebagi wanita terhormat.


****


"Pangeran, dapatkah anda memberi jarak dengan tubuh saya? " tanya Ellise pelan karena pria yang tidur disampingnya memeluknya erat. Jantungnya berdegup kencang.


"Aku menginginkan pelukan malam ini." jawab Pangeran Addrich parau, sedari tadi dia menahan gairahnya untuk tidak meniduri Ellise.

__ADS_1


"Namun saya hanya memakai baju tidur, ini sangat tipis pangeran. "


"Jika sudah menikah, aku tidak akan mengijinkanmu memakai sehelai benang apapun Ellise."


Ellise terkejut dengan perkataan Pangeran Addrich. Ellise langsung teringat akan kesuciannya, jika pangeran Addrich tau, pasti pangeran Addrich akan kecewa padanya. Tentang keselamatan, Pangeran Addrich telah bersumpah padanya, jadi dia tidak takut walaupun menyerahkan diri pada pangeran Addrich adalah sebuah dosa sekalipun. Tetapi, entah mengapa Ellise merasa hatinya sangat sakit membayangkan kekecewaan Pangeran Addrich. Tanpa sadar, airmatanya mengalir.


Menyadari itu, pangeran Addrich berhenti memeluknya dan menjauh dari tubuh Ellise. Pangeran Addrich bangun dan meraih jubahnya, Ellise langsung duduk menyadari itu.


"Ellise, sejijik itukah dirimu pada pelukanku?!" tanya Pangeran Addrich marah melihat air mata Ellise.


"Pangeran, anda salah paham.. "


"Salah paham? Lalu apa arti dari air matamu?!"


Ellise terdiam, dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia tidak suci lagi.


"Kamu diam? Mengapa? Karena yang aku katakan adalah sebuah kebenaran? "


" Tidak pangeran.. "


" Lalu mengapa kamu menangis?! " tanya pangeran Addrich frustasi.


" Aku tidak dapat memberitahu anda pangeran.. "


"Kalau begitu aku bebas menyimpulkan apapun arti dari tangismu."

__ADS_1


Pangeran Addrich mencampakkan jubahnya kelantai. Dia kembali naik ke tempat tidur dan menarik Ellise dalam pelukannya dengan kasar, " Suka tidak suka, keinginanku malam ini adalah memelukmu. Menangislah sesuka hatimu, karena aku sungguh tidak perduli."


Pangeran Addrich begitu marah saat ini begitu mengetahui bahwa Ellise menangis karena pelukannya. Dia tidak bermaksud menyakiti Ellise.


__ADS_2