Married To Prince

Married To Prince
Bab 5


__ADS_3

Ellise mengambil wine yang disediakan para pelayan disana, menikmati pesta dari pinggiran lantai dansa. Sedikit ironis, awalnya dia melarikan diri untuk mengikuti sebuah pesta dengan tujuan memperlihatkan keberadaan dirinya, sekarang, dia justru berada disebuah pesta yang justru harus menutup rapat siapa dirinya.


Ellise mengetuk-ngetuk jarinya mengikuti irama, dia ingin berdansa namun terlalu takut untuk mencari pasangan dansa yang tidak dia ketahui siapa orangnya. Semua orang disini memakai topeng, bahkan ada yang memakai topeng yang menutupi hampir seluruh wajah, Ellise terkekeh karena menganggap ini lucu. Pasti orang-orang tersebut sangat tidak ingin orang-orang tau identitas aslinya.


Ellise mengingat sedikit ucapan Zen ketika dia memilih topeng.


"Banyak yang disini datang untuk melepaskan bebannya sebagai bangsawan yang harus mematuhi seluruh etika, banyak juga yang mencari sebuah hubungan gelap, banyak juga kalangan biasa yang ingin menikmati sebuah pesta yang tidak dapat diikutinya selama ini dan banyak tujuan lainnya. Lagian pungutan biaya dipesta ini tidak mempunyai standart, anda dapat membayar berapapun yang anda inginkan, walau saya akuin banyak yang membayar dalam jumlah yang banyak karena tingkat kepuasan mereka terpenuhi. "


Ellise tertawa kecil, entah suasana hati yang senang atau karena minuman yang dipegangnya, dia begitu merasa bahagia.


Tiba-tiba sesosok tubuh tinggi dan tegap melewatinya, mencuri perhatiannya. Sebuah topeng yang sama persis dengan yang dipakainya dipakai oleh pemuda itu. Yang berbeda hanyalah batu mulia yang menghiasi topeng itu, Topeng Ellise memiliki batu Ruby, dan topeng satunya lagi memiliki batu Blue Saphire.


Ellise mengikuti langkah pria itu, terus mengikutinya sampai pria itu melewati beberapa pintu dan lorong-lorong, Ellise mengikutinya. Hingga disebuah ruangan terakhir, ruangan yang berbeda dengan lainnya, sebuah kamar!


Kamar itu mewah namun gelap, hanya cahaya bulan yang menyinarinya. Ellise memperhatikan ruangan itu dengan seksama, merasa heran karena pria yang diikutinya menghilang. Biasanya sebuah ruangan memiliki beberapa pintu, makanya Ellise menyebut Bangunan ini adalah sebuah Labirin yang penuh misteri dan mungkin menyesatkan.


Sebuah tangan membekap mulut Ellise,


"Siapa kamu? " terdengar sebuah bisikan.


Ellise mencoba meronta, dia mengeluarkan pisau yang bersembunyi di gaunnya.


Ellise dengan cepat menyambar pria tersebut dengan pisaunya, namun tidak kena, justru tangannya yang dipaksa untuk melepaskan pisau itu.

__ADS_1


Saat pisau itu terjatuh, tubuh Ellise kembali dikunci. Pertanyaan sama kembali terdengar di telinganya, mulut pria tersebut sangat dekat di telinga Ellise, membuat tubuh Ellise sedikit bergetar.


Pria itu memakai kata kamu dikalimatnya, membuktikan dia adalah seorang bangsawan berstatus tinggi, yang selalu percaya diri bahwa orang yang menjadi lawan bicara adalah seorang yang statusnya lebih rendah. Jika dia berstatus rendah atau orang biasa, dia akan menggunakan kosakata anda. Itu peraturan tidak tertulis.


"Siapa aku? Bukankah jelas peraturan disini tidak boleh mengungkapkan indentitas. Jadi aku tidak akan memberitahukanmu! "


" Lalu mengapa kamu mengikutiku? "


" Aku hanya penasaran, siapa yang menggunakan topeng yang sama persis dengan diriku. "


Pria tersebut membalikkan tubuh Ellise dengan mudah, mendorongnya pelan agar dapat memperhatikan Ellise dari ujung kaki keujung kepala.


" Sir, aku benar-benar tidak ingin bermaksud jahat. Aku mengikutimu secara tidak sengaja, hanya karena penasaran. Namun sepertinya, kamu tidak terlalu menyukainya. Karena itu, dengan hormat, aku akan pergi. "


" Karena telah datang, maka tinggallah sementara waktu disini. Temani aku minum. "


Ellise memperbaiki duduknya, " Menemani minum didalam kamar? Itu tindakan tidak bermartabat. Bagaimanapun aku adalah seorang perempuan dan kamu seorang pria, sir!. "


" Apa kamu takut nama baikmu sebagai seorang lady akan tercoreng? "


" Aku hanya mengingatkan etika dasar seorang bangsawan. "


Pria itu tertawa kuat, dengan gaya yang maskulin dan terhormat. Ellise semakin yakin pria tersebut pasti adalah seorang bangsawan dengan kedudukan tinggi, tetapi siapa? Duke Labird, gelar kebangsawanan keluarganya adalah yang tertinggi di kekaisaran ini.

__ADS_1


"Nona, sejak kaki indahmu menginjakkan langkah di ruangan pesta, kamu tidak lagi menjadi siapa dirimu. Semua orang disini berstatus sama. Jadi, hentikan omong kosong tentang etika. " ujar pria itu menyodorkan gelas berisi wine.


Ellise mendengus kesal kesal, wine tersebut diminumnya dengan satu kali tegukan.


Pria itu semakin kuat tertawa, tetapi masih dalam gaya yang semakin bermartabat.


" Nona, jika kamu sangat menyukai wine, aku akan masih punya banyak, minumlah secara perlahan. "


Kali ini pria itu botol wine, Ellise menerimanya dengan suka cita. Ellise bukanlah seorang peminum, seorang lady justru tidak boleh menyentuh minuman ber alkohol kecuali dalam acara-acar tertentu.


Lain ceritanya dengan Ellise yang tumbuh bersama tiga pengawalnya.


"Lisela. " ujar Ellise tak acuh.


Pria itu mengernyitkan keningnya.


"Panggil aku Lisela, setidaknya itu namaku disini. Bukankah kamu bertanya siapa aku?"


"Aricer... Itu namaku." ujar Pria itu sebagai jawaban sekaligus memperkenalkan namanya.


"Baiklah Sir Aricer, daripada menikmati pesta dansa yang diluar sana, sepertinya aku lebih tertarik menemanimu minum. "


" Bukankah kamu sebelumnya mengingatkanku bahwa etika.. "

__ADS_1


"Kita disini bukanlah siapa kita sebenarnya. Itu yang kamu ucapkan sebelumnya." potong Ellise tidak mau kalah.


__ADS_2