
Ellise bersujud, bibirnya bergetar ketakutan, sungguh sangat diluar rencananya.
Dia sudah tidak suci lagi! Itu adalah dosa besar bagi seorang Lady yang menyerahkan dirinya tanpa adanya ikatan pernikahan. Dia berencana untuk menyembunyikan rahasia ini sebaik mungkin, memusatkan perhatiannya pada kejayaan keluarga Labird, tanpa harus bertaruh kepada pemuda yang ingin menikahinya, yang bisa saja kapan saja membocorkan rahasia tersebut.
Menerima titah raja untuk bersedia menikah dengan pangeran Addrich, sangat tidak mungkin. Pangeran adalah seorang yang akan menyandang status raja dimasa depan, wanita yang bersamanya harus menyerahkan kesuciannya hanya kepada pangeran. Jika tidak, hukuman mati menanti!
Jika dia menolak titah rajapun, hukuman mati akan berlangsung! Saat ini hukuman akan terjadi, tanpa menunggu pernikahan dan malam pertama yang akan membuat pengeran tau bahwa wanitanya tidak suci.
Ellise menjadi ketakutan, dia hanya menginginkan kebebasan untuk menghindari kematian yang mungkin sedang direncanakan pamannya. Karena itu dia muncul disini. Tidak ada niat sedikitpun dalam hatinya untuk serakah dan menjadi terpilih. Kini kematian lain telah menunggunya!
Hidup bersama pamannya sama seperti neraka, sekarang pilihan ditangannya adalah neraka lain. Namun, Ellise harus mencoba, mencoba apapun kesempatan yang datang padanya. Jika kesempatan itu tidak pernah datang, Ellise bertekat akan membuat kesempatan itu muncul sendiri dihadapannya. Jalan apapun itu, kematian adalah hal yang pasti dihadapannya, untuk itu, Ellise menguatkan segenap keberaniannya. Jangan terima kematian tanpa usaha untuk hidup!
"Yang Mulia Raja, saya sangat terhormat dipilih langsung oleh baginda Raja juga Pangeran. Namun, sebelum saya menerima titah tersebut, saya ingin berbicara pada pangeran, hanya berdua, karena ini adalah sangat pribadi.. "
__ADS_1
" Lancang!!! Lady Ellise, atas dasar apa kamu berani berbicara seperti itu kepada Raja! Kamu tidak memiliki Hak! Atas ketidaksopananmu... "
" Dia memiliki hak sebagai calon dari pendampingku, calon istriku, calon putri mahkota juga calon first Lady. " ujar Pangeran Addrich yang memotong ucapan Ratu Olivia.
Lalu, pangeran Addrich langsung menghadap Raja Federich, " Ayah, tolong ijinkan aku berbicara pada Ellise. Mungkin situasi ini sangat mengejutkan baginya. " mohon Pangeran Addrich.
Raja Federich semakin senang karena Pangeran Addrich meminta tolong sekali lagi padanya. Hal-hal yang lain semakin tidak diperdulikannya.
" Izin aku berikan. "
Zuich Z menuntun Ellise menuju ruangan yang dipilih Pangeran Addrich.
Ketika masuk, Ellise terkejut, perkiraannya, dia hanya akan memasuki ruang biasa, tidak menyangka jika ruangan yang dimasuknya adalah sebuah kamar yang sangat indah, dipenuhi oleh ornumen yang sangat indah dan mewah.
__ADS_1
"Ap.. Apakah ini adalah kamar pangeran? " tanya Ellise ketakutan.
" Benar, nona Ellise... "
" Seharusnya anda membawa saya keruangan lain, sangat tidak sopan jika anda membawa saya kekamar pribadi pangeran. "
" Nona Ellise, saya akan menyampaikan hal yang sepertinya nona gagal untuk mengerti. Tidak perduli apapun pembicaraan nona dengan pangeran nantinya, titah raja adalah sesuatu yang tidak dapat disangkal, tidak perduli penolakan apapun yang akan anda berikan. Sejak titah dikumandangkan oleh raja, sejak itu jugapun anda adalah tunangan pangeran, apapun keadaannya. Anda berhak memasuki semua ruangan pribadi pangeran, termasuk kamar pribadinya. "
"Walaupun demikian, bukankah terlalu cepat memasuki kamar pribadi pangeran."
" Itu adalah masalah waktu. "
"Juga, saya dengar, istri pangeran atau raja memiliki kamar terpisah. Bahkan saya bukan istrinya, mungkin saya hanya tunangan."
__ADS_1
"Nona Ellise, saya akan memberitahukan rahasia umum kepada anda. Sebenarnya, sedari dulu, walaupun istri pangeran ataupun istri raja memiliki kamar tersendiri, namun tetap saja raja atau pangeran sering satu kamar dengan istrinya. Begitupun raja Federich dengan mendiang ibu Pangeran Addrich. Hanya kepada ratu Olivia, raja Federich jarang tidur satu kamar. Dan untuk anda, Pangeran Addrich telah memutuskan, anda tidak akan memiliki kamar lain selain tinggal dikamar pangeran Addrich setelah pernikahan terjadi. "
" Apa?!!" teriak Ellise dan Linden bersamaan. Linden yang hanya diam dalam kecemasan dari tadi, mengikuti Ellise dalam hati yang gelisah mulai hilang ketenangannya.