
Bulan bersinar terang, sinarnya memasuki kamar dengan tenang. Pangeran Addrich berhati-hati mendekati Ellise yang sedang tertidur agar tidak mengganggunya.
Pangeran Addrich duduk disisi tempat tidur, menatap Ellise sejenak lalu mencium kening Ellise. Semua perkataan Ava dan Val terbanyang dalam benaknya, perasaan bersalah sedikit menggerogoti hatinya.
Pangeran Addrich juga merasa menyesal, memanfaatkan pernikahannya dengan Ellise dan membuat wanita itu disisinya untuk tujuan tertentu.
Pangeran Addrich berulang kali berfikir pada malam itu, apakah keputusannya telah benar?
***
Pagi-pagi Ellise terjaga dari tidurnya, tubuhnya terasa lemas, namun masalah yang membuat hatinya kacau pagi itu adalah mendapati sesosok pria tampan sedang tertidur memeluknya. Nafas Pangeran Addrich terlihat teratur, Ellise tidak berani bergerak sedikitpun, takut sedikit saja gerakannya dapat mengganggu tidur pangeran.
Ellise merasa tubuhnya lemas, akhirnya memilih untuk kembali tidur.
***
Kini, Ellise kembali terjaga dari tidurnya, bedanya adalah Pangeran Addrich tidak lagi berada disisinya, melainkan dengan tenang berkutat dalam kertas-kertas yang dihadapannya.
"Apakah kamu sudah bangun? " tanya Pangeran Adrrich yang menyadari bahwa Ellise telah bangun.
" Kata pelayan, anda tidak akan datang kekamar ini sampai malam pernikahan kita." tanya Ellise langsung.
"Apakah kamu tidak nyaman aku disini? "
" Pangeran, bukan itu maksud saya. "
Ellise terlihat salah tingkah, wajahnya memerah, hal itu membuat pangeran Addrich sedikit tersenyum. Dia mengacuhkan pertanyaan Ellise sebelumnya.
" Sebaiknya kamu bangun dan bersiap diri, pelayan akan membantumu. Setelah itu, sarapanlah denganku."
Ellise masih diam dan tidak bergerak, dia mengingat sesuatu hal.
Pangeran Addrich meletakkan kertas yang ditangannya, berdiri dan berjalan mendekati Ellise.
"Apakah kamu ingin melanjutkan tidurmu, putri tidur? " ejek Pangeran Addrich.
__ADS_1
Wajah Ellise semakin memerah.
" Pangeran, sebaiknya anda sarapan sendiri. Saya membutuhkan waktu yang lama untuk mandi pagi hari ini. "
" Ellise, sarapan denganku. Itu keputusannya. Dari kemarin kamu belum makan, pagi ini aku harus menyaksikan langsung makanan itu masuk ketubuhmu. Dua hari lagi adalah pernikahan kita, aku tidak ingin memiliki pengantin yang pingsan diacara ku yang berharga. "
Ellise tampak berfikir, namun bibir kecilnya kembali berbicara, " Jika begitu, tolong anda duluan keruang sarapan, saya akan menyusul anda. "
Pangeran Addrich tersenyum nakal, senyum yang menggoyangkan perasaan Ellise.
" Apakah kamu ingin memastikan ada darah ditempat tidur dan tidak ingin aku melihatnya? "
Ellise memalingkan wajahnya kearah lain, dia semakin malu karena tebakan Pangeran Addrich merupakan kebenaran.
Pangeran Addrich akhirnya tertawa kecil, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali ke tempat duduknya semula.
" Ellise, apakah kamu tidak menyadari bahwa gaunmu telah berganti menjadi gaun tidur? "
Ellise dengan cepat menaikkan selimut yang menutupi tubuhnya, benar saja, gaunnya bukan lagi gaun yang dipakainya kemarin, melainkan gaun tidur yang sangat cantik.
" Aku. "
" Apaaaa?!!!!!! "
Tawa kecil pangeran Addrich berubah menjadi gelak tawa, " Ellise, sebentar lagi kita adalah suami istri. Aku semalam membantumu membersihkan tubuhmu, dengan arahan pelayan lalu mengganti gaunmu. Keadaan seperti ini, akan berlangsung setiap bulannya, biasakanlah dirimu seperti aku yang harus terbiasa untuk mengerti tubuh wanita. "
" Ta.. Tapi tetap saja ini tidak pantas. Apalagi anda adalah seorang pangeran, anda dapat membangunkan saya kemarin.. " ujar Ellise frustasi.
"Membangunkanmu? Bahkan untuk duduk saja, aku harus menyangga tubuhmu. Menurutmu siapa yang membantumu meminum obat itu, jika bukan aku."
Ellise terdiam, kemarin dia seperti bermimpi bahwa pangeran Addrich membantunya minum obat, ternyata itu sungguhan!
"Tapi tetap saja hal ini tidak pantas. Setidaknya untuk masalah tubuhku, anda dapat menyuruh pelayan... "
" Ellise. " potong Pangeran Addrich,
__ADS_1
" Itu hanya darah.."
"Tapi itu darah dari seorang wanita, pangeran." ujar Ellise tidak mau kalah.
"Lalu mengapa? Aku telah melakukannya. Apakah kamu akan berdebat masalah ini sepanjang pagi? "
Ellise terdiam.
"Bersihkan tubuhmu, pelayan, atau aku yang akan membantumu. Aku sungguh tidak keberatan untuk melakukan hal itu lagi untuk pagi hari ini." ancam Pangeran Addrich.
Ellise langsung bangkit, dia memanggil pelayan dan langsung ke tempat mandi.
"Mengapa Pangeran menjadi tidak tau malu?!" runtuknya dalam hati.
***
Dua hari telah berlalu, malam ini tiba saat dimana Ellise berdiri dialtar pernikahan didepan seorang pemimpin pernikahan.
"Pangeran Addrich de Guardine, Putra mahkota kerajaan Allaine, Pewaris satu-satunya yang akan menjadi raja selanjutnya, saat ini, dihadapan Tuhan, bersediakah Engkau untuk bersumpah akan mencintai dan menghormati Ellise de Labird sebagai istri anda, dalam senang maupun susah, saat sehat maupun sakit, saat bahagia maupun sedih, disaat keadaan apapun engkau akan selalu bersamanya dan tidak akan pernah meninggalkannya..."
"Saya bersedia. " Sumpah Pangeran Addrich tanpa ragu.
" Ellise De Labird, yang hari ini engkau telah dinobatkan menjadi putri mahkota karena ikatan pernikahan, calon permaisuri kerajaan Allaine, bersediakah engkau untuk bersumpah untuk menghormati, mencintai dan mendampingi Pangeran Addrich De Guardine sebagai suami anda, dalam senang maupu susah, saat sehat maupun sakit, saat bahagia maupun sedih, disaat keadaan apapun engkau akan selalu bersamanya dan tidak akan pernah meninggalkannya.. "
" Saya bersedia.. " sumpah Ellise.
Pernikahan disahkan dengan pertukaran cincin juga Pangeran Addrich mencium bibir Ellise.
Acara dilanjutkan dengan pesta dansa yang meriah.
Sebenarnya, masih banyak bisik-bisik untuk menentang pernikahan ini terutama dari para bangsawan yang tidak putus asa berharap bahwa putri mereka lebih layak untuk dinikahi.
Ellise mendengar itu semua, namun dia tidak perduli. Jalan ini adalah jalan yang dipilihnya, untuk melindungi orang-orangnya. Dia telah melangkah satu langkah kedepan.
Ellise juga sempat bertemu dengan Marquess Jack Keirs, istrinya dan Beatrix yang menyerangnya dengan pandangan kebencian. Ellise sungguh tidak perduli.
__ADS_1
Dalam pikiran Ellise, hanya dipenuhi oleh malam pertama yang akan dilaluinya. Ellise merasa takut jika Pangeran Addrich sangat kecewa akan tubuhnya yang sudah tidak suci. Ellise memikirkan kemungkinan apa saja tentang respon pangeran Adrrich, juga menyiapkan sikap apa saja yang dapat dipasangnya, namun tetap saja, hatinya mencelos tidak tenang.