
"Nona Ellise..."
"Nona Ellise.."
"Nona Ellise.. "
Hmmmm
Ellise mengerang pelan.
"Nona, anda harus bangun, Pangeran memerintahkan anda untuk sarapan dengannya pagi ini.."
Ellise mengerjap matanya, perlahan kesadarannya mulai kembali.
"Monicva, Pangeran tidak pernah menyebutkan hal itu kemarin." jawab Ellise, biasanya memang Pangeran Addrich selalu memberikan pesan sebelum mereka akan melakukan hal bersama.
Tapi mungkin juga tidak!
Mengingat Pangeran Addrich sering muncul tiba-tiba.
Tubuhnya langsung bangun dan terduduk dipinggiran tempat tidur.
"Nona, anda tampak mengerikan! Apakah pangeran menyakitimu? "
" Pertanyaan macam apa itu? "
Monicva melihat nona nya tanpa malu,
"Pertanyaan yang memang pantas saya ucapkan sebagai pelayan pribadi anda! Apakah saya perlu menunjukkan cermin agar anda dapat melihat mata anda bengkak? Apakah anda menangis semalaman?"
Ellise kembali pada ingatannya kemarin malam, setelah Pangeran Addrich meninggalkannya, dia kembali menangis.
"Ah.. Tidak.. Aku hanya membaca buku kemarin malam sampai mataku perih. " terang Ellise berbohong.
Monicva memperlihatkan ekspresi yang berubah, tampak kekhawatiran dimatanya. Dia langsung berteriak kedepan, menyuruh pelayan lainnya untuk memanggil dokter.
Ellise terpelongo, " Monicva mengapa kamu menjadi memanggil dokter?"
"Anda sakit mata nona! " ujar Monicva khawatir.
" Aku tidak! "
" Tetapi mata anda berair karena kebanyakan membaca! "
" Itu hanya kelelahan! Dan sekarang sudah membaik karena aku sudah cukup istirahat. Gagalkan panggilan dokter! "
" Nona yakin ? "
Ellise mengangguk pasti.
"Benar?" tanya Monicva masih tampak tak percaya.
Ellise memelototi Monicva, "Monicva..."
"Baik, baiklah. " ujar Monicva lemah, dia kembali keluar dan memanggil pelayan lainnya untuk menyampaikan perintah Ellise.
Setelah kembali, matanya menyusuri Ellise, "Katakan jika mata nona kembali perih."
__ADS_1
"Baik, kalau begitu sekarang bantu aku mandi. Kapan Pangeran menyampaikan pesan agar aku sarapan dengannya? "
"Tiga jam lalu dan pangeran telah menunggu anda di meja makan selama dua jam. "
Kali ini Ellise yang terlihat cemas,
" Mengapa kamu tidak membangunkanku?! "
"Saya telah membangunkan anda selama tiga jam nona.." Jawab Monicva lemah.
"Siapkan air mandi dan gaunku.. "
"Saya menyiapkannya daritadi nona, bahkan air hangat mandi anda selalu saya perbaharui saat telah dingin."
"Baik, baiklah."
Saat Ellise bangun dan menuju kamar mandi, dia berhenti karena Monicva tidak mengikutinya. "Apa yang salah?"
Monicva mengeluarkan sepucuk surat yang terlipat rapi. Bahkan surat itu memiliki sampul indah yang membungkusnya.
Ellise mengeryitkan keningnya, "Surat apa itu?"
Monicva menggeleng, bahunya naik sebentar, "saya menemukannya diatas meja saat saya masuk tadi, melihat segel nya belum terbuka, saya tidak berani membukanya. Tidak ada pengirim ataupun penerima, hanya ada satu kata yaitu nama anda, Ellise di sampulnya."
Ellise merasa heran, siapa yang berani masuk kekamarnya selain Pangeran Addrich kemarin malam setelah dia tertidur, namun Pangeran tidak mungkin menulis surat padanya ketika pangeran Addrich tanpa sungkan berbicara hal apapun padanya.
"Bantu aku menyimpan surat itu, jangan sampai hilang. Aku harus bersiap, Pangeran telah menungguku. "
****
Dimeja makan, saat Ellise memasuki ruang makan, tampak Pangeran Addrich beserta makanan mewah dihadapannya. Makanan itu belum tersentuh, pasti Pangeran Addrich memamg menunggunya.
Ellise mengikuti kemauannya.
"Tunggu sebentar, aku akan menyuruh pelayan menyiapkan yang baru, semua telah dingin. "
" Tidak perlu pangeran, ini masih layak dimakan. " sesaat kemudian Ellise berbicara lagi setelah menyadari, bahwa yang akan makan bukan hanya dia saja, melainkan sang pangeran juga.
"Namun, jika anda menginginkan yang hangat, maka kita memang perlu meminta yang baru."
"Tidak, aku akan memakannya jika memang tidak bermasalah untuk seleramu. "
Kemudian Pangeran menyuruh semua orang keluar dari ruangan ini dan menjauh sebisa mungkin, hanya Zuich Z serta Ava dan Val yang akan berjaga didepan pintu untuk menjaga agar tidak ada yang dapat mendengar obrolan Pangeran dan Putri mereka.
" Pangeran, jika ini menyangkut kerahasiaan, kita dapat melakukannya di kamar. Ini hanya akan membuat orang-orang semakin curiga." ujar Ellise yang melihat tidak ada siapapun diruangan itu selain mereka berdua.
Pangeran Addrich terlihat tidak perduli.
"Ellise, aku tau kamu adalah wanita yang pintar. Maka aku akan mengatakan langsung ke intinya. " Addrich menatap Ellise dengan serius.
"Disini adalah tempat dimana semua kemunafikan terjadi, dipermukaan terlihat manis, namun busuk didalam. Jadilah cerdik dalam segala sesuatu, jangan kendorkan kewaspaaan. Mulai dari sekarang, aku akan mengajarimu dan mengingatkan segala intrik dan niat kotor dari setiap orang. Bermainlah sesukamu, lakukan kehendakmu, aku akan mendukungmu dari belakang, namun jadilah anak baik dihadapan ratu, buat dia mempercayaimu. Itu tugas awalmu. "
Ellise menyadari kemana arah pembicaraan pangeran, dia hanya mengangguk patuh.
"Setelah dapat kepercayaan, jangan berfikir bahwa dia telah menempatkanmu menjadi orangnya, justru dia akan menempatkanmu dalam genggaman dan pengawasanmu, jadi sedikit hati-hati, aku memberi saran padamu."
Ellise kembali mengangguk.
__ADS_1
"Laporkan apa saja kegiataanya, sampai hal terkecil apapun padaku tiap pagi ketika kita sarapan."
Ellise meringis pelan, berarti mereka akan sarapan bersama tiap pagi.
"Dengan kesatria penjagamu, aku yakin kamu cukup aman, namun aku tetap akan meletakkan orangku untuk memastikan keselamatanmu, aku harap itu tidak mengganggumu. "
Ellise mengangguk kembali.
" Namun, kehidupan pribadi adalah hakmu. Jika saat kamu tidak ingin mereka mengikutimu, sampaikan saja pada kesatriamu karena aku telah berbicara pada mereka tentang hal ini. "
Lagi - lagi Ellise mengangguk.
"Jika kamu memilki firasat buruk, atau sesuatu terjadi padamu, utamakan keselamatanmu, jika perlu, katakan padaku. Mengerti?"
"Dimengerti." akhirnya Ellise memberikan suaranya daripada hanya sebuah anggukan.
"Pengaturan lainnya, akan kita bicarakan secara perlahan setelah melihat situasi. Kita harus bertindak dengan tenang. Apakah ada hal lainnya yang ingin kamu bicarakan padaku? "
"Tidak, saya rasa itu cukup Pangeran. Namun, hari ini saya akan diam, saya akan menemui yang mulia ratu esok hari. Juga, saya ingin keluar istana hari ini, tanpa pengawasan pengawal anda."
"Baik."
Selanjutnya, mereka hanya kembali diam, meneruskan aktifitas sarapan mereka. Tidak ada satu orang pun yang membahas masalah kemarin malam.
Itu rasanya bagus, namun Ellise tetap merasa tidak tenang. Walau tidak ada kecanggungan, namun sikap Pangeran yang seperti membatasi diri dengannya, yang hanya berpusat pada rencana mereka, membuat Ellise gelisah.
***
Ellise kembali kekamarnya, dia harus mengganti gaunnya ke gaun yang lebih nyaman. Hari ini dia akan keluar istana untuk mencari sesuatu.
Teringat sesuatu, Ellise menoleh pada Monucva, "Monicva, dimana surat itu?"
"Ah.. Sebentar nona. "
Monicva mencari surat itu di kantung gaunnya, lalu menyerahkan surat itu pada Ellise.
Ellise menerima surat itu, memperhatikan surat itu dengan seksama, surat itu memiliki sampul surat yang halus dan sedikit feminim, saat Ellise mengeluarkan surat utamanya, bahan kertas semakin halus, dan ada linen emas disamping surat. Ini surat bukan surat biasa. Dari kualitas surat, jelas surat ini milik bangsawan.
Ellise mengambil duduk dengan tenang disofa, mata emasnya betul-betul memperhatikan setiap senti surat itu, perasaannya sedikit kurang nyaman, dengan pelan dia membuka lipatan surat itu.
Kepada Bidadariku Lisela,
Itu adalah kalimat pertama yang dibaca oleh Ellise, namun dampaknya luar biasa bagi Ellise. Surat itu menyebutkan nama Lisela, nama yang digunakannya dalam pesta topeng. Ellise dapat menduga bahwa yang mengirimkan surat itu adalah pria itu, ternyata pria itu sudah tau siapa dia. Tidak heran, pernikahan Ellise dan Pangeran Addrich begitu besar, banyak yang datang, pasti pria iti ada disana saat itu. Ellise kembali membaca, tangannya sedikit gemetar.
Sayangku, aku berharap kamu masih mengingatku.
Hanya itu, hanya itu isi dari surat itu. Surat yang hanya memiliki satu kalimat, namun mampu membuat wajah Ellise pucat seketika. Mengapa? Pria itu selalu menghantui pikirannya, tapi Ellise tidak menyangka, pria itu akan menghantuinya secara nyata. Pria itu muncul dan Ellise sangat yakin, pria itu tidak mungkin hanya sekedar berlalu, mengingat begitu besar nyalinya untuk berani mengganggu putri mahkota, bahkan langsung di kerajaan ini.
"Nona, ada apa? " tanya Monicva yang meilihat perubahan raut muka nonanya.
" Pria itu.. Pria itu.. " jawab Ellise memandang Monicva dengan wajah kebingungan.
" Pria malam itu, pria malam itu. Ini surat darinya.. "
Monicva akhirnya paham, siapa yang dimaksud oleh Ellise." Nona, kita masih dapat membahasnya bersama kesatria Linden."
Monicva bermaksud menenangkan.
__ADS_1
"Monicva, nyalakan perapian dan bakar ini. "
Monicva menuruti permintaan Ellise, dengan cepat dia membinasakan barang bukti tersebut.