
"Benarkah yang dikatakannya bahwa Ellise bahkan belum makan siang?" tanya Pangeran Addrich dingin
"Be.. Benar pangeran. " ujar pelayan itu ketakutan, pelayan satu lagi tidak kalah ketakutan.
"Alasan..." ujar Pangeran Addrich meminta penjelasan.
"Semenjak Nona Ellise datang dan menyuruh kami keluar, nona tidak memanggil kami. Ketika kami mengetuk, nona juga tidak menyahut. Kami pikir nona tidak ingin diganggu, jadi kami hanya menunggu saja."
"Lalu kamu mendiamkan saja hal ini?! Andaipun kamu takut untuk melihat kedalam, mengapa kamu tidak melaporkannya padaku?! " bentak Pangeran Addrich gusar. Tubuhnya bergerak cepat membuka pintu dan mendapati Ellise yang sedang tertidur.
Ellise terlihat menutup mata, ada sedikit guratan dikeningnya, dan keringat sedikit terlihat dikeningnya, perasaan lega yang dirasakan Pangeran Addrich mulai hilang ketika melihat Ellise seperti kesakitan.
Ava dan Val tanpa rasa takut mengikuti Pangeran Addrich masuk kedalam kamar. Melihat itu, Pangeran Addrich menampilkan tatapan permusuhan.
"Keluar.. " perintah Pangeran Addrich dingin.
"Tidak, sebelum kami mengobati Ellise." ujar Ava tidak perduli.
Pangeran Addrich sedikit terkejut, matanya melirik Ellise.
"Jika dia sakit, akan ada dokter kerajaan yang akan datang."
Ava mengeluarkan tawa mengejek, matanya dengan sinis memandang Pangeran Addrich
"Dokter kerajaan tidak akan bisa menangani Ellise. Bahkan anda saja tidak menyadari bahwa Ellise sedang sakit. "
" Pertama, jangan pernah menyebut nama Ellise dengan tidak hormat, dia akan menjadi istriku, putri mahkota kerajaan ini. Kedua, jangan terlalu dekat dengannya, jangan membentuk opini orang lain untuk berbicara hal yang buruk tentangnya, ini akan berpengaruh untuk reputasiku. Ketiga, jika dokter kerajaan tidak bisa menyembuhkan Ellise, maka kalian juga tidak bisa. " ujar Pangeran Addrich memberikan peringatan.
Ava melipat kedua tangannya, dengan angkuh dia membalas kata-kata yang dilontarkan Pangeran Addrich,
" Pertama, bahkan jika Ellise menjadi permaisuri negeri ini suatu saat kelak, selamanya dia adalah Ellise kami. Siapa saja, bahkan kamu, jangan pernah berani memisahkan kami. Kedua, kami adalah kesatria pelindung Ellise, kemanapun dan kapanpun, kami akan bersamanya. Pangeran Addrich, anda mempunyai ratusan sampai puluhan ribu ksatria dan prajurit, jelas anda tau apa tugas dan kewajiban kami. Jika anda membicarakan soal reputasi, jangan bawa Ellise didalamnya, Ellise adalah Ellise dan anda adalah anda. Seharusnya anda melindunginya jika ada yang berbicara hal yang buruk tentangnya. Lalu, apa gunanya status anda sebagai pangeran, jika anda tidak dapat membukam mulut mereka. Ketiga, apa anda pikir dokter kerajaam dapat menghentikan keram perut yang dialaminya ketika para wanita mulai dengan siklus bulanannya?"
"Kurang ajar! Apa kamu tau kamu berbicara dengan siapa?! Lalu, bagaimana kamu tanpa rasa malu membicarakan siklus bulanan nona Ellise?! " ujar Zuich Z yang tiba-tiba muncul, dia sengaja marah agar dapat menahan emosi Pangeran Addrich, biasanya jika Zuich Z sudah marah, Pangeran Addrich akan lebih tenang karena sudah ada yang mewakili kemarahannya.
__ADS_1
Pangeran Addrich memasang ekspresi gelap, tangannya sudah berada diujung gagang pedang yang ada di pinggangnya.
"Bisakah semua berhenti? Yang terpenting saat ini adalah Ellise. " ujar Val yang sedang mengelap keringat dingin Ellise. Entah sejak kapan dia sudah disamping rempat tidur.
Kemudian Val bangkit, matanya menatap Pangeran Addrich dengan ekspresi serius,
" Pangeran, saya akan menanggung hukuman jika anda tersinggung dengan perbuatan dan perkataan kami. Namun saya harap, jangan sampai ada perkelahian disini, karena ini adalah kamar anda dan Ellise. Apalagi Ellise sebenarnya tidak tertidur, dia hanya menutup mata untuk menahan rasa sakit. Ellise pasti sangat tidak berharap anda mengeluarkan pedang untuk menyerang kami. "
"J..ja..jangan lukai m..mereka.." erang Ellise, matanya masih tertutup, jelas dia menahan rasa sakit.
Pangeran Addrich melepaskan tangannya dari ujung pedang, tampak wajahnya sedikit lebih tenang. Dia berjalan kearah Ellise melewati Val, dengan lembut dia mendudukkan Ellise untuk bersandar dalam pelukannya. Ellise hanya bisa menurut.
"Lalu apa obat yang dapat meredahkan sakit yang dideritanya?" tanya Pangeran Addrich.
"Racikan obat yang hanya bisa dibuat oleh bibi Rose, Monicva dan Ellise sendiri. Oleh karena itu, tadi kami cepat-cepat pulang untuk mengambil racikan obat yang sudah jadi. "
Tak lama, Monicva muncul di ambang pintu dengan takut-takut. Ditangannya tampak teko teh dan cangkir. Monicva terlihat ragu untuk masuk.
" Masuklah, dan berikan obat itu padaku."
"Ellise hanya perlu meminumnya? " tanya Pangeran Addrich.
" Benar, pangeran. " jawab Monicva.
" Ellise, apakah kamu dapat meminum teh ini? " tanya Pangeran Adrrich dengan lembut.
Ellise sedikit membuka matanya, lalu ia mengangguk pelan.
Pangeran Addrich dengan sabar meminumkan obat tersebut sampai habis. Melihat raut wajah Ellise yang mulai membaik, pangeran Addrich menidurkan kembali Ellise dan menyelimutinya.
Setelah memastikan segala hal, Pangeran Addrich keluar dari kamar tersebut diikuti oleh Zuich Z, Ava, Val dan Monicva .
Zuich Z menyuruh lorong itu dikosongkan, tidak boleh ada pengawal dan pelayan yang ada disana. Zuich Z paham, Pangeran ingin berbicara dengan orang-orang Ellise.
__ADS_1
"Kapan siklus bulanan Ellise? " tanya Pangeran Addrich langsung keintinya.
" Dimulai akhir bulan, namun jika telat, maka terjadi diawal bulan. " jawab Monicva santun.
" Baiklah, setelah kalian mulai tinggal disini, tolong ingatkan aku dan perhatikan untuk obatnya. "
" Baiklah Pangeran." jawab Monicva ragu, dia bisa mengerti jika Pangeran ingin menyuruhnya untuk selalu memberikan nonanya obat ketika sakit, namun mengapa harus mengingatkan Pangeran.
"Apa Ellise selalu merasa sakit seperti ini? " tanya Pangeran Addrich lagi.
" Tidak, hanya ketika dia terlalu lelah dan stress.. "
Pangeran Addrich tampak berfikir sebentar, namun pandangannya beralih kepada Ava dan Val.
"Aku akan membiarkan ketidaksopanan kalian hanya untuk kali ini atas permintaan Ellise, tidak untuk lain waktu." ujar Pangeran Addrich.
"Dengan kata lain anda akan membatasi hubungan kami dilain waktu? " tanya Ava dengan pandangan membunuh, sepertinya dia benar-benar lupa siapa orang yang berada dihadapannya.
"Aku tidak membatasi, aku hanya ingin kalian paham jika status Ellise telah berubah."
" Saya juga ingin anda paham, bahwa apapun status Ellise, dia adalah tetap Ellise kami. " ujar Ava tidak mau kalah.
Pancaran mata membunuh keluar dari wajah Pangeran Addrich yang tampan, kesabarannya mulai menipis.
Val dan Zuich Z menyadari akan hal itu,
" Pangeran Addrich. " panggil mereka bersamaan, lalu mereka saling memandang sekilas dan kembali memusatkan perhatiannya pada Pangeran Addrich.
Pengeran Addrich melihat Val dan Zuich Z secara bergantian, perhatiannya berhenti pada Val.
" Bicara.. "
" Sebaiknya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya Val, satu dari tiga kesatria utama Ellise. Anda mengetahui dua lainnya, yaitu paman saya Linden dan saudara saya Ava. " ujar Val dengan sopan.
__ADS_1
"Maafkan jika sikap saudara saya diluar batas, namun saya tidak akan menyalahkannya. Sedari kecil, kami dididik dan diasah untuk menjadi ksatria pelindung Ellise, begitu banyak pengorbanan dan waktu yang telah kami relakan, namun itu semua terbayar dengan perasaan sayang yang kami miliki untuk Ellise. Pangeran, ini bukan hanya sekedar tugas dan kewajiban kami untuk melindunginya, kami hidup dan tumbuh dengan satu tujuan, yaitu kebahagiaan Ellise. Jika anda ingin mencoba untuk menarik kami dari sisi Ellise, bahkan paman saya yang ramah itu juga tidak akan perduli siapa anda. Kami tidak akan pernah tinggal diam, kami ksatria, kami tidak takut mati demi nona kami, dan sebagai keluarga Ellise kami tidak takut pada apapun. " ujar Val tenang, Sorot matanya tajam, tidak ada keraguan disetiap kata-katanya, namun tampak setiap ancaman mengikuti perkataannya.
"Oleh karena itu, kami tidak perduli apakah anda menikahi Ellise karena mencintainya, atau hanya sebagai alat anda, atau apapun itu, selama anda tidak melewati batasan, tidak menyakitinya dan tidak membuatnya dalam bahaya, juga yang terpenting, jika anda tidak menarik kami dari sisinya disetiap kejadian apapun yang dialaminya, maka kami akan tetap tenang dalam diam. " kali ini ancaman langsung keluar dari mulut Ava.