Married To Prince

Married To Prince
Bab 21


__ADS_3

"Nona Ellise, apakah anda baik-baik saja?" bisik Linden dengan penuh perhatian.


Saat ini mereka berada dikereta kuda dalam perjalanan kembali kekediaman Duke Labird, bedanya adalah mereka bukan berada dikereta kuda mereka semula, bukan juga kereta kuda utama keluarga Duke yang dipakai pamannya marquess Jack Keirs, melainkan kereta kuda utama milik kerajaan kepunyaan Pangeran Addrich. Bahkan Pangeran Addrich dan Zuich Z ikut, duduk tepat dihadapan mereka.


Ellise memaksakan senyumnya pada Linden.


Linden mencoba tenang, dia mengambil Jubah Ellise yabg sedari tadi telah dipegangnya lalu dipasangkannya ketubuh Ellise dengan lembut. Linden juga meraih tangan Ellise, mengusapnya pelan, terus menggenggamnya.


Hal itu cukup menyita perhatian Pangeran Addrich. Jika tidak karena peringatan Zuich Z untuk tetap tenang, sedari tadi dia hampir melempar keluar Linden. Pangeran Addrich tidak perduli apakah Linden kesatria pelindung, apakah Ellise telah menganggapnya sebagai ayah, atau apapun itu, Pangeran Addrich tidak suka calon istrinya mendapat perhatian yang terlalu intim seperti itu.


Pangeran Addrich dengan kasar melemparkan pandangannya kesisi lain, berharap perjalanan ini berlangsung cepat, sungguh dia tidak dapat menahan rasa cemburunya.


***


"Pangeran, saya membawakan teh untuk menghangatkan tubuh anda. Saya membuatnya sendiri.. " ujar Beatrix dengan teh ditangannya, meletakkan dengan anggun dan duduk disamping Pangeran Addrich.


Beatrix tidak mau menyerah, pertunangan bisa batal kapanpun, Beatrix akan mencari peluang apapun untuk memenangkan hati pangeran Addrich secepat mungkin. Jika Pangeran Addrich telah menikahi Ellise sekalipun, Beatrix tidak perduli. Beatrix bisa menjadi ratu, atau selir atau hanya simpanan, Beatrix tidak perduli selama itu adalah pangeran Addrich. Bagi Beatrix, asal dia berada disisi Pangeran Addrich, dia bisa membuat pangeran Adrrich jatuh cinta padanya dan menuruti semua keinginannya. Pada akhirnya, dia pasti bisa mendepak wanita manapun yang berada disisi pangeran Addrich, lalu menjadi wanita satu-satunya, status apapun akan jatuh pada genggaman tangannya.


Pangeran Adrrich melirik tajam pada Zuich Z, isyarat agar Zuich Z menyingkirkan Beatrix dari sisinya.


"Nona Beatrix, dengan penuh kesopanan, saya ingin anda pindah, orang yang akan duduk disini adalah nona Ellise. " ujar Zuich Z sopan.

__ADS_1


"Mengapa harus pindah? Ellise dapat mencari tempat yang lainnya!" tolak Beatrix marah.


"Bahkan jika tidak ada nona Ellise, anda tidak diperkenankan duduk disamping pangeran. Silahkan mencari tempat lain. "


" Aku tidak membutuhkan izin mu untuk duduk dimanapun! Ini adalah kediamanku!"


"Menyingkirlah sebelum mendapat kemarahan dariku... " ancam Pangeran Addrich secara tiba-tiba. Matanya memancarkan kemarahan yang sudah mulai terlihat.


" Putriku sayang, duduklah disamping ayah.. " ujar Marquess Jack Keirs yang sedari tadi duduk diseberang dengan istrinya, wajah mereka berdua begitu ketakutan, beda halnya dengan Beatrix yang tidak paham keadaan mereka.


Melihat Beatrix tidak menurut, ibunya langsung menariknya kesisinya dengan sedikit pemaksaan.


"Maafkan putri saya pangeran.. " ujar Marquess Jack Keirs.


Benar saja, tak lama Ellise memasuki ruangan tersebut, kali ini dia tidak hanya bersama Linden, melainkan Ava dan Val mengikutinya.


Ellise mengambil tempat duduk disisi lain, tidak disamping Marquess dan keluarganya, tidak juga disisi Pangeran Addrich.


"Duduk disini.. " perintah Pangeran Addrich, tangannya menepuk tempat duduk disisinya.


Ellise mematuhi itu, dengan gemulai dia mengambil teh yang telah dibuat Beatrix.

__ADS_1


" Ellise, ambil sendiri minumanmu, itu teh yang aku seduh khusus untuk pangeran Addrich! " ujar Beatrix yang tampak keberatan.


"Aku mengambil ini untuk Pangeran Addrich." jawab Ellise tidak perduli.


"Jika itu teh buatanku, maka aku yang paling berhak memberikan itu pada Pangeran Addrich! " serang Beatrix.


"Lalu berikanlah!" ujar Ellise, tangannya menyeodorkan teh tersebut kearah Beatrix.


Ketika Beatrix hendak mengambil itu, Pangeran Addrich langsung berbicara.


"Aku sedang tidak ingin minum teh.. " ujar Pangeran Addrich yang mengambil cangkir teh itu dan meletakkannya kembali diatas meja.


"Jika anda tidak minum teh, maka kunjungan anda tidak ada artinya pangeran." ujar Ellise lembut.


Pangeran Addrich langsung merangkul Ellise dengan satu tangannya.


"Ini bukan kunjungan Ellise, ini sudah tengah malam. "


Ellise menatap pangeran Addrich bingung,


" Lalu untuk apakah anda datang? "

__ADS_1


"Memastikan keadaanmu, malam ini aku akan menginap disini, Bersamamu."


__ADS_2