
Ellise menggeliat pelan, tubuhnya terasa letih dan perih terasa dibeberapa tubuhnya. Sebuah tangan memeluknya erat, menyadari itu, Ellise tersadar dari rasa kantuknya. Pria semalam, Aricer sedang bertelanjang dan memeluk tubuhnya erat, syukur Selimut menutupi sebagian tubuhnya, jika tidak Ellise lebih malu lagi melihat bagian tubuh paling dalam seorang pria.
Ellise juga menyadari tubuhnya telanjang, seluruh tubuhnya penuh dengan bekas-bekas merah akibat ciuman Aricer, wajah Ellise memerah.
Ellise tersadar, bukan itu maslahnya, masalahnya dia sudah tidak suci lag! Bersama pria asing yang tidak tau siapa! Nama baiknya telah hancur!
Pria itu, Aricer masih tertidur, topeng diwajahnya masih terpasang, rasa ingin tau Ellise mendorong tangannya ingin membuka topeng itu, ingin mengetahui kepada siapa dia memberikan kesuciannya, bukan karena meragukan ketampanan pria itu. Air mata dimata Ellise mengalir dengan sendirinya, keadaan ini seperti dunia runtuh baginya, dia sangat menyesal. Saat tangannya hendak menggapai pria topeng itu, dia menyadari kesialan lainnya, sinar rembulan kemarin malam telah berubah menjadi terik pagi matahari. Tidak ada waktu lagi untuknya, dia mengurungkan niatnya untuk membuka topeng itu, lagipula siapapun pria itu, dia pasti tidak akan mau bertanggung jawab atas Ellise. Lebih baik Ellise tidak mengetahui siapa pria itu, agar tidak perlu kebenciannya tertunjuk pada siapapun.
Ellise dengan cepat mengelap airmatanya, memakai gaunnya dengan susah payah tanpa bantuan pelayan, memakai jubahnya dan berjalan cepat. Untungnya pagi itu belum banyak bangunan dan toko yang buka untuk memulai aktivitas, Ellise dengan cepat membuka ikatan kudanya, menaiki kuda dan meninggalkan kota itu. Dia harus kembali ke kediamannya secepat mungkin, agar pelarian kecil tengah malamnya tidak ketahuan, monicva dan yang lainnya pasti khawatir.
Dari jendela atas, Aricer yang telah terbangun memperhatikan Ellise sampai Ellise menghilang dari pandangannya. Sorot matanya sangat sulit dipahami.
Beberapa saat yang lalu, dia mendapati tubuh Ellise tidak lagi berada dipelukannya, tiba-tiba dia merasa hampa. Kehampaan pertama yang dirasakannya sepanjang hidupnya, membuatnya marah. Memakai celana sebentar, dia langsung menuju pintu untuk mencari Ellise, namun saat pintu terbuka, Zen telah berdiri dihadapannya.
"Anda tidak diizinkan keluar tuan Aricer. " ujar Zen hormat.
" Mengapa tidak?! " tanya Aricer marah.
" Aktivitas kota mulai terlihat, orang-orang tidak boleh melihat anda dengan keadaan setengah telanjang seperti ini. "
__ADS_1
" Persetan dengan pandangan orang-orang itu! Aku harus mencari wanitaku! Sudah berapa lama dia keluar?! "
" Untuk menjawab pertanyaan anda, nona Lisela baru keluar beberapa saat yang lalu, harusnya dia masih ada dibawah mencari kudanya. Namun tuan, dia wanita anda? "
" Zen, mengapa kamu tidak menghalanginya?! Dan benar dia wanitaku! Kamu pengikut setiaku, kamu harusnya tau bahwa aku tidak mengijinkan wanita manapun naik keranjangku apalagi bermalam dikamarku jika dia bukanlah wanita yang aku putuskan menjadi pasangan hidupku! "
Zen mengangguk mengerti, dia tau bagaimana tuannya selalu menjaga jarak dengan wanita manapun, tetapi kemarin malam Zen melihat dengan jelas, tuannya membiarkan wanita itu mengikutinya dan mereka tidak keluar sampai tadi wanita itu keluar sendiri dengan wajah panik. .
" Nona Lisela terlihat baru saja menangis, wajahnya terlihat pucat dan khawatir akan sesuatu. Saya menduga, nona Lisela bukan saja mengkhawatirkan malamnya bersama anda, namun ada sesuatu yang lain. Namun jika tuan ingin mengetahui identitas asli nona Lisela, saya akan membawa kertas berisi identitasnya pada tuan. " ujar Zen.
Aricer mendesah pelan.
Zen mengikuti dibelakang Aricer, "Bukankah anda mengatakan bahwa nona Lisela adalah wanita anda?"
"Sejak awal aku melihatnya dipesta, aku tau siapa dirinya. Hanya keturunan asli duke Labird yang memiliki mata emas yang memukau. Dia pasti Ellise de Labird."
Zen sedikit terkejut, "Anda mengetahui identitasnya dengan sekali lihat?"
Zen melanjutkan kebingungannya lagi, "Lady Ellise de Labird terdengar memiliki penyakit menular, mengapa dia terlihat baik-baik saja dan ketika saya melihatnya pertama kali sebelum memakai topeng diwajahnya, Nona Lisela.. Maaf tuan, maksud saya nona Ellise justru terlihat sangat cantik dan sehat. "
__ADS_1
" Bagaimana jika itu hanyalah taktik pamannya yang serakah untuk mengambil warisan wanitaku? Apalagi putrinya sekarang terkenal menyandang gelar Labird secara tidak tertulis, sangat menjijikkan. "
Aricer ingat seorang wanita berambut merah yang selalu menggodanya ketika terkadang mereka bertemu.
Zen tersadar akan sesuatu, wajahnya sedikit khawatir, " Tuan, sebentar lagi adalah hari kedewasaan Nona Ellise, jika pamannya benar-benar ingin menguasai semua warisan Nona Ellise, maka keselamatannya akan terancam bahaya, Marquess Jack Keirs pasti akan melakukan apapun sebelum hari kedewasaan itu."
"Justru itu, gunakan orangmu awasi keselamatannya. Masukkan mereka sebagai pekerja di kastil keluarga Labird. Dan aku memerlukanmu untuk melakukan hal yang lainnya. "
Zen menunduk menerima perintah. Kemudian dia undur diri, namun sebelum keluar, dia ingin menggoda tuannya sebentar.
" Tuan Aricer, saya ingin mengucapkan selamat untuk anda karena berhasil menemukan cinta pertama semasa kecil anda, saya kira itu hanyalah cinta anak-anak. Namun ketika anda terus mengatakan pada saya bahwa wanita yang anda cintai tidak mungkin sakit seperti berita dan mungkin memerlukan bantuan anda, saya berfikir anda benar-benar jatuh cinta padanya. Keberuntungan bahkan ada dipihak anda, kemarin malam kita baru saja membahas bagaimana cara menculik nona Ellise, malah nona Ellise yang datang pada anda. "
Aricer sedikit tersenyum," Zen, sejak kecil aku menyukai nona Ellise, mungkin dia tidak mengingatku. Apalagi aku memiliki janji untuk menjaga Nona Ellise pada seseorang, aku harus menyelesaikannya. Sejujurnya, Zen, aku juga merasa bahwa itu hanyalah cinta semasa anak-anak. Namun, ketika kemarin malam aku melihatnya lagi, aku jatuh cinta lagi padanya, hanya dengan pandangan pertama, dia berhasil merebut segala hatiku. Perasaanku sedari kecil adalah benar. Zen, aku telah memilikinya tadi malam, hanya dia wanitaku. Aku tidak menginginkan wanita manapun lagi. Yang aku takutkan adalah, bahaya yang mengintainya sejak kecil, apalagi keluargaku juga sangat berbahaya untuknya. Aku harus menjaganya. "
Zen tertawa kecil melihat tuannya, " Tuan, percayalah dia jodoh anda, sejak kemarin malam saya melihatnya memilih topeng yang sama dengan anda, topeng pasangan satu-satunya yang kita miliki, saya yakin dia adalah jodoh anda. Apalagi, mungkin tanpa anda sadarin, mungkin selama ini anda menjaga jarak dengan wanita, selain karena ibu anda tetapi juga mungkin karena nona Ellise. "
Kemudian Zen meninggalkan ruangan dan menutup pelan pintu.
Sedangkan Aricer, dia masih berdiri mengingat kemarin malam setiap kenangannya bersama Ellise. Bibirnya tersenyum puas, wanita yang dicintainya begitu membuatnya gila.
__ADS_1