Mas Badut, I Love You!

Mas Badut, I Love You!
Bab 13 Kecerobohan Cherry


__ADS_3

Cherry menghela nafasnya mendengar pertanyaan dari Max. Bukannya dia tidak ingin bercerita, hanya saja dia malu jika menceritakan alasan dia selalu bersin ketika dekat dengan badut.


"Cher… kenapa? Jangan-jangan… kamu memang takut badut ya?" 


Max kembali tertawa setelah bertanya pada Cherry. 


Tawa Max itu membuat Cherry kesal karena merasa ditertawakan. Tanpa memikirkan malunya, dia pun berkata,


"Bukan karena takut. Dulu, dulu banget, sewaktu aku masih sekitar umur lima tahunan. Ada badut ulang tahun yang gendong aku. Entah mengapa aku bersin-bersin saat digendong sama badut itu. Mama kira karena kostum badutnya banyak debunya atau rambut badutnya yang kotor. Tapi… sampai sekarang jika aku ada di dekat badut pasti bersin-bersin. Aneh memang, tapi… entahlah, aku gak mau ambil pusing. Cukup dihindari saja."


Max mendengarkan dengan baik penuturan dari Cherry. Dia teringat akan awal pertemuan mereka di pasar malam waktu itu. Dalam hati dia berkata,


Oh jadi karena itu dia bersin-bersin waktu itu. Malah aku kita dia penyakitan.


Max menahan senyumnya mengingat saat dia mengira Cherry penyakitan karena bersin-bersin pada malam itu.


Cherry menoleh ke arah samping, di mana Max duduk.di sebelahnya. Kemudian dia berkata,


"Eh kenapa ekspresi kamu begitu? Kamu pasti ngetawain aku ya? Gapapa ketawa aja. Aku sudah tau kalau kamu bakalan ketawa setelah mendengar ceritaku."


Seketika Max menghentikan tawanya. Dengan segera dia menarik tangan Cherry yang sudah berwajah kesal itu seraya berkata,


"Ayo ikut aku promosi di luar."


Tanpa menunggu jawaban dari Cherry, Max sudah membawanya turun dari lantai atas dan mengajaknya keluar dari cafe menuju parkiran mobilnya.


Di dalam mobil, Cherry hanya diam membisu. Bukan karena dia tidak ingin berbicara pada Max, hanya saja dia tidak tahu apa yang akan dibicarakannya dengan Max.


Max hanya fokus pada kemudinya dan jalanan yang ada di hadapannya. Tangannya terulur untuk menyalakan musik agar mengisi kesunyian dalam mobil saat ini.


Setelah beberapa saat, Max menghentikan mobilnya. Dia membuka sabuk pengamannya seraya berkata,


"Ayo Cher kita turun."


Chery pun membuka sabuk pengamannya dan berkata,


"Kita di sini mau ngapain Max?"


Mau yang akan keluar setelah membuka pintunya, kini kembali menutup pintu tersebut dan berkata,


"Kita berdua bagi-bagi voucher di sini. Di taman ini kan banyak pasangan yang sedang pacaran. Pasti mereka tertarik. Banyak juga keluarga yang mungkin juga akan tertarik jika mendapatkan voucher diskon."


Cherry hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia menyetujui ide dari Max. Dia pun keluar dari mobil setelah Max keluar terlebih dahulu.


Max dan Cherry membagi-bagikan voucher diskon yang mereka bawa. Mereka berjalan mengelilingi taman dan membagi-bagikan voucher diskon tersebut pada setiap orang yang ditemuinya.

__ADS_1


Tiba-tiba Max menghentikan langkah Cherry. Dia menunduk tepat di depan Cherry. Tentu saja Cherry terkejut dan dia melihat ke arah bawahnya. 


Ternyata Max sedang membenarkan tali sepatu Cherry yang terlepas. Cherry hanya melihatnya dan berkata dalam hatinya,


Kenapa dia melakukan itu? Hanya dengan memperlakukanku seperti ini saja membuat hatiku tidak menentu. 


Cherry merasa hatinya seperti dipenuhi dengan bunga-bunga. Jantungnya pun berdegup tidak menentu. Ada gelitikan dalam perutnya sehingga membuatnya selalu ingin tersenyum dan tertawa bahagia.


Max berdiri dan tersenyum tepat di hadapan Cherry. Dia melihat wajah Cherry yang merona malu, sehingga terlihat semakin imut dan menggemaskan. Kemudian dia berkata,


"Lain kali ikat talinya dengan benar. Jangan sampai kamu terjatuh karena menginjaknya sendiri."


"Hah?! Bagaimana kamu tau jika aku sering menginjak tali sepatuku sendiri dan terjatuh?" celetuk Cherry tanpa sadar.


Max terkekeh dan mencubit gemas hidung Cherry dan berkata,


"Aku bisa menebak karena kamu sering sekali bertindak ceroboh."


Cherry berusaha melepaskan tangan Max yang mencubit hidungnya. Setelah itu dia berkata,


"Sakit tau."


Melihat Cherry yang merajuk, Max segera menarik tangan Cherry dan mengajaknya berjalan kembali.


"Yuk Cher kita pulang," ajak Max seraya menarik tangan Cherry.


"Aduh Max… jangan ditarik-tarik dong tangan Cherry. Memangnya tangan Cherry apaan, ditarik-tarik melulu," ucap Cherry dengan kesalnya.


Max menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Cherry. Dia melepaskan tangan Cherry. Anehnya, Cherry merasa kehilangan ketika tangan Max tidak lagi memegangnya.


Namun, tangan Max hanya pindah posisi. Kini dia menggandeng tangan Cherry dan menggenggamnya seraya tersenyum dan berkata,


"Jadi kamu ingin di gandeng, bukan di tarik."


Seketika tersirat rona merah pada wajah Cherry. Entah mengapa dia malu ketika Max mengatakan hal itu. Dan anehnya, hati Cherry terasa seperti banyak bunga yang bermekaran di dalam hatinya. Jantungnya pun seperti melompat-lompat merasakan genggaman tangan Max yang sangat hangat dan nyaman untuknya.


Melihat wajah Cherry yang merona karena malu, Max ingin sekali menjahili dan menggodanya kembali. Sayangnya dia takut jika nantinya Cherry kembali marah dan tidak mau bertemu dengannya.


Untuk saat ini, biarlah seperti ini saja. Aku memerlukan bantuannya. Dan aku tidak boleh membuatnya pergi dariku, Max berkata dalam hatinya.


Max membawa Cherry berjalan menuju tempat parkir mobilnya dengan bergandengan tangan.


Sungguh Cherry tidak bisa berkata apa-apa. Baru kali ini dia merasakan hal seperti itu. Dia mencuri pandang pada Max dengan sesekali meliriknya ketika berada di dalam mobil.


Max yang sedang fokus dengan kemudinya merasakan ada yang janggal. Dia merasa diperhatikan. Dia tersenyum tipis karena dia tahu jika Cherry sedang memperhatikannya.

__ADS_1


Aku akui, Max memang sangat tampan, seperti pangeran dalam mimpiku. Tapi, kenapa harus muncul badut dalam mimpiku? Apa karena Max kadang suka menyebalkan sehingga dia berubah menjadi badut ketika dalam mimpiku? Ah, Cher… apa sih yang sebenarnya kamu pikirkan? Cherry berkata dalam hatinya.


Tiba-tiba Cherry tersadar dari lamunannya ketika mobil Max sudah berhenti di depan rumahnya. Cherry membelalakkan matanya, tanpa sadar dia berkata,


"Loh kok di rumahku? Bukannya kita balik ke cafe ya?" 


Max melepas sabuk pengamannya dan tersenyum pada Cherry seraya berkata,


"Kenapa? Kamu tidak ingin jauh dariku ya?"


"Kata siapa? Aku hanya sekedar bertanya. Bukannya aku harus menggantikan Kak Miyuki untuk menjadi kasir ya?" tanya Cherry dengan sedikit gugup karena mendengar pertanyaan Max.


Max tersenyum dan tangannya terulur pada kepala Cherry untuk mengusapnya dengan lembut dan berkata,


"Besok saja kamu mulai aktif di sana. Hari ini anggap saja pengenalan suasana kerja."


Seketika mata Cherry terbelalak mendengar perkataan Max seraya berkata,


"Jadi, besok aku juga harus kembali? Bukan hanya hari ini saja?"


Max terkekeh mendengar pertanyaan Cherry yang berwajah lucu saat kaget seperti sekarang ini. Kemudian dia berkata,


"Kamu sudah menandatangani perjanjian. Ingat itu."


"Perjanjian? Tapi, aku hanya menandatangani kertas kosong saja, tidak ada perjanjian apa pun," ucap Cherry yang merasa tidak melakukannya.


Max mendekati Cherry dan menengadahkan wajahnya tepat di depan wajah Cherry dengan jarak beberapa sentimeter saja. 


Mata Max tertuju pada bibir pink alami milik Cherry yang hanya memakai pelembab saja. Bibir Cherry seolah memanggilnya untuk segera dicicipinya. Kemudian dia berkata,


"Kamu harus hati-hati menandatangani apa pun. Jangan sampai kamu menandatangani kertas kosong seperti tadi."


"Tapi tadi kan–"


Cuuup!


Bibir Max membungkam bibir Cherry yang akan mendebatnya. Hal itu mampu membuat Cherry terkejut dan membuat matanya terbelalak mendapatkan serangan mendadak dari Max.


Ciuman itu hanya sekilas. Hanya saling menempel selama beberapa detik saja. Setelah itu Max melepaskan bibir Cherry disertai tangan Max yang berhasil membuka sabuk pengaman yang dipakai oleh Cherry.


Benar sekali pikiran Max. Karena saat ini, Cherry segera menjauhkan tubuh Max dari dirinya dan segera berlari setelah turun dari mobil Max.


Max tersenyum melihat Cherry yang berlari masuk ke dalam halaman rumahnya seraya berkata,


"Cherry… Cherry… Kamu memang ceroboh."

__ADS_1


__ADS_2