Mas Badut, I Love You!

Mas Badut, I Love You!
Bab 35 Janji?


__ADS_3

David berwajah sangat marah saat ini. Baru saja dia mendengar kabar jika kerjasamanya dengan perusahaan Kevin dihentikan.


"Kurang ajar! Kenapa dia jadi berubah? Bukankah kemarin-kemarin dia tidak berani membatalkan kerja sama kami meskipun aku mengancamnya? Lalu kenapa sekarang dia membatalkannya?" tanya David dengan penuh kemarahannya.


Mendengar ucapan papanya, Bella menghentikan amukannya dan dia mendekati papanya seraya berkata,


"Ada apa Pa? Apa Om Kevin menghentikan kerjasamanya dengan perusahaan Papa?"


David menatap tajam pada Bella dan berkata,


"Ini semua gara-gara kamu! Perusahaan akan merugi banyak jika sampai kerjasama ini dihentikan."


Seketika Bella menjadi takut pada Papanya. Dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari papanya.


Nyalinya kini menciut di hadapan papanya. Kesombongan dan keegoisannya seketika mengkerut dan tidak bisa diperlihatkannya lagi.


Namun, kedua tangan Bella mengepal. Dalam hatinya dia berkata,


Awas kalian. Akan aku balas semua perlakuan kalian padaku dan perusahaan Papaku.


David berlalu meninggalkan Bella dengan kemarahannya yang masih terlihat jelas di wajahnya. Dia berjalan sambil berbicara pada seseorang melalui telepon.


Bella pun segera mengambil ponselnya dari saku celananya dan menghubungi seseorang yang ada di seberang sana.


"Jalankan rencana selanjutnya!" seru Bella dengan kilatan emosi yang terlihat pada matanya.


Setelah itu dia mengakhiri panggilan teleponnya tanpa mendengarkan jawaban dari orang yang dihubunginya.


Bella menyeringai. Dia yakin jika rencananya kali ini akan berhasil. Tidak seperti rencana yang mereka lakukan sebelumnya.


"Lihat saja Max. Kamu pasti akan menyesal karena membuatku marah," ucap Bella diiringi seringainya.


Di tempat lain, Cherry sedang memikirkan tentang Max. Dia yakin jika dia harus menjauhi Max. Tapi dalam hati kecilnya tidak menginginkannya.


"Ingat Cherry, dia badut. Kamu harus menjauhinya," ucap Cherry sambil menatap lurus langit-langit kamarnya.


Pikirannya pun semakin berkelana. Dia teringat akan perlakuan manis Max padanya. Dan saat itu juga dia teringat akan saat-saat dia bertemu dengan badut tersebut yang ternyata adalah Max.


Tanpa disadari, matanya pun terpejam. Kini Cherry sudah berada di alam mimpinya.


Bibirnya melengkung ke atas tatkala di hadapannya sudah ada Max yang tersenyum manis padanya. Tangan Max terulur padanya seolah meminta untuk disambutnya.


Tanpa berpikir panjang, Cherry segera menyambut uluran tangan Max dan menggenggamnya dengan erat.


Tiba-tiba Max berubah menjadi badut dan tersenyum pada Cherry seraya berkata,

__ADS_1


"Ayo kita menikah. Bukankah kamu sudah berjanji akan menikah denganku?"


Sontak saja Cherry berusaha keras untuk melepaskan genggaman tangannya dengan badut tersebut. Sayangnya si badut sudah menggenggam erat tangannya sehingga dia tidak bisa melepaskan genggaman tangan tersebut.


"Aku… aku… aku tidak mau menikah dengan badut!" seru Cherry meronta-ronta ingin lepas dari genggaman tangan si badut.


Badut tersebut tidak begitu saja melepaskannya. Dia menyeringai dan tetap mempertahankan tangan Cherry agar tidak terlepas darinya.


Terjadilah tarik menarik antara Cherry dengan badut tersebut. Tentu saja mereka tidak begitu saja mengalah. Mereka saling menarik sehingga tidak ada yang bisa terlepas.


Si badut tersebut tertawa sembari mempertahankan tangan Cherry yang berusaha lepas darinya. Dia pun berkata,


"Kamu sudah berjanji menikah dengan orang yang menyelamatkan tasmu. Aku lah orangnya. Menikahlah denganku Sayang."


Cherry meronta-ronta berusaha untuk melepaskan tangan badut tersebut. Dia berteriak untuk menyuruh badut tersebut melepaskannya.


"Kamu akan selalu sial jika tidak menepati janjimu untuk menikah denganku. Ingat itu," tukas si badut dengan tegas.


Setelah itu badut tersebut menghilang entah ke mana, meninggalkan Cherry yang masih saja terpaku di tempatnya.


Seketika Cherry terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah tidak beraturan seolah dia habis berlari dikejar seseorang. Bahkan keringatnya menetes di pelipisnya.


Kalimat terakhir badut yang mengatakan Cherry akan sial jika tidak menepati janjinya untuk menikah dengannya selalu terngiang di telinganya.


"Benarkah itu? Apa itu benar-benar akan terjadi? Atau mungkin hanya sekedar bunga tidur?" tanya Cherry di sela nafasnya yang masih terengah-engah.


"Lebih baik aku ke bawah, menyibukkan diri agar tidak teringat lagi mimpi itu."


Dengan pikiran yang masih terganggu dengan mimpi tersebut, Cherry menuju lantai bawah untuk membantu mamanya menyiapkan makan malam.


"Ma, Cherry bantuin ya," ucap Cherry dengan senyum lebarnya saat sudah berada di dekat mamanya.


Arini menatap heran pada putrinya. Masih dengan kegiatannya menata lauk di atas piring, dia berkata,


"Tumben sudah pulang? Mana Max? Apa dia akan makan malam bersama dengan kita?"


Cherry menghela nafasnya dengan berat. Wajahnya pun terlihat lesu saat ini. Kemudian dia berkata,


"Dia sibuk Ma. Sudah, mendingan Mama gak usah nyariin Max lagi. Dia gak bakalan datang ke sini."


Arini menghentikan kegiatannya. Dia menatap intens manik mata putrinya seraya berkata,


"Kenapa? Kalian bertengkar? Padahal kan kalian akan segera tunangan. Setelah itu kalian akan menikah."


Mendengar kata menikah membuat Cherry merasa kesal. Dia sengaja membantu mamanya untuk menghilangkan mimpi itu dari pikirannya, sayangnya mamanya malah mengungkitnya dengan memperjelas kata menikah, seolah mengingatkan Cherry pada mimpinya.

__ADS_1


Merasa kesal akan ucapan mamanya, Cherry meninggalkan mamanya begitu saja di dapur. Dia menunggu makan malam di ruang tengah dengan menonton tayangan televisi.


Namun, matanya seketika terbelalak ketika melihat berita tentang dua orang yang wajahnya masih dikenal dengan jelas oleh Cherry.


Dua orang tersebut sedang ditahan oleh polisi karena dengan banyak tuduhan yang ditujukan pada mereka.


"Jadi… jadi… mereka…," ucapan Cherry tidak dapat diteruskannya. 


"Bagaimana dengan Max? Pasti dia sangat sedih," gumam Cherry yang seketika teringat raut wajah Max yang mengiba padanya.


Setelah beberapa detik, dia menggelengkan kepalanya seraya berkata,


"Tidak Cher, kamu tidak boleh memikirkannya. Dia badut dan kamu harus menjauhinya."


"Cherry… Ayo makan!" seru Arini dari ruang makan.


Cherry mematikan televisi dan segera menuju ruang makan. Setelah Fahmi bergabung dengan mereka, makan malam pun dimulai.


Makan malam kali ini Cherry tidak banyak berkata-kata, tidak secerewet dirinya yang biasa menjadi penghidup suasana ketika makan bersama.


Setelah makan malam itu selesai, Cherry segera kembali ke kamarnya.


Berkali-kali dia menghela nafasnya yang terdengar sangat lelah saat itu. Dia menghempaskan badannya pada tempat tidurnya dan berkata,


"Lebih baik aku mendengarkan musik saja daripada selalu teringat akan hal itu."


Tangannya mengambil mp4 player dan dipakainya headset dengan mata yang terpejam, berharap agar dia bisa tidur dengan nyenyak tanpa kembali terusik oleh mimpi itu.


"Menikahlah denganku!"


"Kamu sudah berjanji!"


"Tepati janjimu!"


"Atau kau akan sial jika tidak menepatinya!"


"Sial!"


"Sial!"


"Sial!"


Badut tersebut tertawa setelah mengatakan itu semua pada Cherry. Bahkan dia kembali memegang dengan erat tangan Cherry dan tidak melepaskannya meskipun Cherry sudah memohon padanya.


"Tidak!" seru Cherry sambil terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Hal yang sama seperti tadi terulang kembali. Bahkan kini nafasnya hampir sama seperti sedang berlari marathon.


"Apa aku harus menepati janjiku?"


__ADS_2