Mas Badut, I Love You!

Mas Badut, I Love You!
Bab 38 Terjebak


__ADS_3

Max yang sudah berhasil menaklukan hati Cherry merasa bahagia. Dia mengajak Cherry untuk ikut bersamanya menuju cafe miliknya. Mereka berdua keluar dari kamar hotel itu layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran.


Bahkan tangan Max tidak mau lepas dari pinggang Cherry. Dia tidak mau melepas gadis itu lagi. Terlebih gadis itu baru saja ada dalam bahaya karenanya.


"Max, apa yang kalian lakukan?" 


"Cherry, Max, sedang apa kalian berdua di dalam kamar itu?"


Mereka berdua kaget ketika di hadapannya kini sudah ada Kevin, papa dari Max dan juga Fahmi, papa dari Cherry.


Kevin memang belum pernah berkenalan dengan Cherry, sehingga dia tidak mengetahui nama gadis yang sedang bersama dengan Max saat ini.


Berbeda dengan Fahmi yang sudah akrab dengan Max, sehingga dia menyebut nama Cherry dan Max setelah Kevin menyebut nama Max terlebih dahulu.


Max dan Cherry benar-benar terkejut dengan adanya papa mereka di depan kamar hotel tersebut saat ini.


Ternyata Fahmi, diberitahukan oleh seseorang jika Cherry sedang bersenang-senang dengan laki-laki di dalam kamar hotel tersebut. Tentu saja orang yang memberitahukan hal itu adalah orang suruhan dari Bella.


Lain halnya dengan Kevin. Saat tadi dia mengadakan pertemuan dengan klien di restoran hotel tersebut, dia melihat bodyguard keluarga Aydin keluar dari lift. Segera dia bertanya pada mereka dan mereka mengatakan jika Max berada di dalam kamar tersebut. Dengan segera Kevin menuju kamar hotel sesuai dengan informasi yang diberikan oleh bodyguard tersebut padanya.


Kini Cherry dan Max seperti tertangkap basah sedang melakukan sesuatu. Tanpa sadar mereka seperti masuk dalam jebakan.


"Masuk Max, kita bicarakan semuanya di dalam," tutur Kevin dengan tegas seolah tidak mau dibantah.


Max pun kembali masuk ke dalam kamar hotel tersebut tanpa meninggalkan Cherry. Dia masih saja tidak mau melepaskan pinggang Cherry, sehingga Cherry tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menuruti Max yang membawanya kembali masuk ke dalam kamar tersebut.


Fahmi tidak tinggal diam. Dia ikut masuk ke dalam kamar hotel itu dan ingin melampiaskan kemarahannya saat ini.


Kini mereka semua duduk di sofa dan saling berhadapan.


"Saya minta kalian secepatnya menikah," ujar Fahmi dengan tegas dan menatap Max serta Cherry secara bergantian.


Seketika Max dan Cherry terkejut mendengar perkataan Fahmi. Max tersenyum seolah menyetujui dan tidak keberatan sama sekali dengan keputusan Fahmi.


Berbeda dengan Cherry yang merasa tidak setuju dengan apa yang diinginkan oleh papanya. Dengan wajah terkejutnya itu dia berkata,

__ADS_1


"Tapi Pa, kami tidak–"


"Kenapa? Apa kalian tidak mau menikah?" sahut Fahmi dengan wajah angkernya.


"Kami tidak keberatan Pa. Itu tadi yang akan dikatakan oleh Cherry," jawab Max dengan cepat sambil tersenyum.


Max menggenggam erat tangan Cherry dan tersenyum manis padanya. Sedangkan Cherry yang merasa tidak mengatakan seperti itu, ingin mengklarifikasi kembali ucapannya, sayangnya Max tidak memberikan kesempatan padanya.


"Sayang, sudah, kita nurut saja apa kata orang tua kita. Bukankah tadi kita juga sudah membicarakannya di sini, sebelum kita keluar dari kamar ini?" ucap Max menghentikan Cherry yang terlihat akan kembali berbicara.


"Ehemmm… Max, bisa kamu jelaskan apa yang kalian lakukan di dalam kamar ini?" tanya Kevin dengan tegas.


"Bella. Ini semua ulah Bella," ucap Cherry dengan cepatnya ketika melihat Max akan membuka mulutnya untuk berbicara.


Seketika Kevin memajukan badannya seolah ingin mendengar lebih jelas apa yang dikatakan oleh Cherry padanya.


"Apa? Bella? Ada apa lagi dengannya?" tanya Kevin yang merasa frustasi mendengar nama Bella.


Max menghela nafasnya. Sebenarnya dia akan menutupi masalah ini dari orang tuanya. Tapi sekarang dia harus mengatakan apa yang terjadi pada orang tuanya.


"Tapi keputusan saya tetap. Sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Saya ingin kalian cepat menikah. Apa kata orang jika ada yg melihat kalian berdua keluar dari kamar hotel bersama seperti tadi? Kalian mirip seperti pasangan yang keluar dari dalam kamar hotel," ujar Fahmi disertai helaan nafasnya.


Seketika Max memajukan badannya. Dia menatap mata Fahmi seraya berkata,


"Saya akan menikahi Cherry Pa. Bukankah masalah ini sudah kita bicarakan tempo hari? Kapan pun saya sudah siap."


Sontak saja Cherry menoleh ke arah Max dan mencubit gemas lengan Max hingga Max meronta kesakitan.


Semua pasang mata menoleh padanya. Cherry pun menundukkan kepalanya karena malu akan kecerobohannya.


"Sayang… sakit…," rengek Max sambil mengusap lengannya yang menjadi korban cubitan Cherry.


Cherry segera mengusap lembut lengan Max seraya berkata,


"Maaf."

__ADS_1


Melihat tingkah Max dan Cherry yang seperti itu membuat Kevin dan Fahmi yakin jika mereka berdua saling mencintai.


"Sebaiknya segerakan saja pernikahan mereka agar tidak mengundang berita yang tidak-tidak. Apa lagi kita sedang berurusan dengan Bella. Jika Cherry sudah menjadi istri Max, dia pasti akan menjaganya agar tidak terulang lagi kejadian seperti tadi," tutur Kevin dengan tegas.


Seketika bibir Max mengembang ke atas. Entah mengapa hatinya sangat bahagia mendengar perkataan papanya. 


"Pasti Max akan menjaga Cherry Pa. Tidak akan pernah Max biarkan seorang pun menyentuhnya," ujar Max dengan penuh keyakinan.


Setelah kesepakatan yang mereka buat, mereka pun meninggalkan hotel tersebut dengan Cherry yang ikut pada mobil Max.


"Max, apa kamu yakin dengan semua ini?" tanya Cherry yang terdengar tidak yakin.


"Maksud kamu apa Sayang?" tanya Max yang masih fokus pada kemudinya.


Cherry menghela nafasnya. Dia melihat ke arah jendela dan memperhatikan pemandangan di sepanjang jalan. Kemudian dia berkata,


"Apa kamu yakin kita bisa menjalani pernikahan ini?"


Mendengar pertanyaan dari Cherry, Max segera menepikan mobilnya.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Max sambil mengusap pipi gadis pujaan hatinya.


Cherry kembali menghela nafasnya. Terlihat sekali dia mencemaskan sesuatu. 


"Kamu kan tau janjiku untuk menikah dengan si penolong tasku waktu itu. Tapi aku tidak bisa menikah dengan badut. Aku takut akan terkena sial jika tidak menepatinya," ucap Cherry disertai helaan nafasnya.


Max tersenyum dan tangannya beralih pada kepala Cherry. Dia mengusap lembut rambut gadisnya itu seraya berkata,


"Jangan memikirkan itu lagi. Karena si badut penolongmu itu adalah aku, Max. Jadi kamu harus menikah denganku. Tidak akan ada sial yang berani mendekatimu. Percaya padaku."


Cherry tersenyum dan mendekatkan bibirnya pada telinga Max untuk membisikkan sesuatu.


Sontak saja Max membelalakkan matanya seraya berkata,


"A-apa? Kamu bicara apa barusan?"

__ADS_1


__ADS_2