
Seorang berpawakan laki-laki dengan gaya hype nya berdiri di depan pintu. Dia menyeringai pada laki-laki yang sedang menatapnya dengan penuh amarah.
Dengan langkah kakinya yang sangat yakin itu dia menerobos masuk dan mengunci pintu kamar tersebut. Setelah itu dia menghempaskan laki-laki tersebut yang sedang menghadangnya.
Tangan Cherry ditarik olehnya menuju pintu untuk dibawanya keluar. Sayangnya laki-laki tersebut menahannya.
Terjadilah baku hantam antara mereka berdua. Laki-laki tersebut benar-benar mengerahkan tenaganya untuk menghabisinya. Sayangnya itu tidak bisa terjadi. Setiap serangan yang diberikan oleh laki-laki tersebut bisa dengan mudahnya terbaca olehnya. Sehingga laki-laki tersebut kehabisan tenaga untuk berusaha bisa memukulnya.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa Bella tidak mengatakan jika akan ada orang sepertimu yang datang menghalangiku!" seru laki-laki tersebut dengan nafas yang terengah-engah.
Seketika mata orang tersebut terbelalak mendengar nama Bella yang merupakan dalang dari semua ini.
Begitupun dengan Cherry. Dia tidak menyangka jika Bella yang merencanakan semua ini.
Orang tersebut melepaskan tangan Cherry dan menarik kerah baju laki-laki itu seraya berkata,
"Apa Bella yang menyuruhmu melakukan semua ini? Apa yang direncanakannya? Katakan!!!"
Laki-laki itu tidak bisa menahan tubuhnya. Dia terhuyung karena orang tersebut menariknya dengan sangat keras, sebesar amarahnya saat ini.
Cherry kaget mendengar suara orang yang akan menolongnya. Dia terperangah memperhatikan orang tersebut yang berusaha mendapatkan informasi dari laki-laki itu.
Laki-laki itu mencoba meraih kerah orang tersebut, sayangnya tidak bisa. Dia hanya bisa meraih kacamata hitam yang menutupi matanya.
"Max?!" celetuk Cherry dengan mata yang terbelalak melihat orang tersebut adalah Max.
Max yang dengan sekuat tenaga dijauhinya, kini sedang datang menjadi penolongnya untuk menyelamatkannya dari rencana keji yang ditujukan Bella padanya.
Max menatap ke arah Cherry dan tersenyum manis padanya. Setelah itu dia kembali bertanya pada laki-laki tersebut.
"Apa rencana Bella yang sebenarnya? Katakan! Atau ku bunuh kau!" seru Max dengan tatapan bengisnya.
"Lepaskan aku. Akan aku beri tau semuanya," ucap laki-laki tersebut yang mencoba untuk bernegosiasi dengan Max.
Max melepaskan laki-laki tersebut dan berkata dengan tegas,
"Bicaralah."
__ADS_1
"Bella menyuruhku untuk bermain dengan gadis cantik ini," ujar laki-laki tersebut sambil menatap lapar pada Cherry serta mengedipkan sebelah matanya.
"Kurang ajar! Beraninya kau!" seru Max yang bersiap melayangkan tinjunya.
Laki-laki tersebut menyilangkan kedua tangannya untuk menghalangi pukulan Max pada wajahnya seraya berkata,
"Bukan aku. Bella yang menyuruhku. Laki-laki mana yang tidak mau jika diberikan gadis cantik sepertinya untuk bermalam dan bermain sepuasnya dengan gadis itu."
Kemarahan Max sudah tidak bisa dibendung lagi. Tangannya melepaskan ikat pinggang yang sedang dipakainya. Dia mengikatkan ikat pinggang tersebut pada tangan laki-laki itu.
Laki-laki itu berusaha keras untuk melawan Max, sayangnya semuanya hanya sia-sia saja. Dia tidak bisa mengalahkan Max. Bahkan tenaganya sudah terkuras habis untuk melawannya.
Max menghubungi Miyuki agar orang-orang kepercayaannya bisa mengurus laki-laki tersebut.
Kini Max dan Cherry duduk di sofa dalam kamar hotel tersebut. Sedangkan laki-laki tadi duduk di lantai pojok kamar dengan kedua tangannya yang diikat menggunakan ikat pinggang milik Max dan kakinya diikat dengan menggunakan kain sprei dari ranjang kamar tersebut.
"Maafkan aku Cher. Semua ini terjadi karena aku," ujar Max dengan kepala yang tertunduk, tidak berani menatap Cherry karena merasa sangat bersalah padanya.
"Max, jujur saja aku bingung. Kali ini aku diselamatkan olehmu. Dan yang lalu, tas milikku diselamatkan oleh badut itu. Lalu, aku harus menikah dengan siapa?" ucap Cherry yang terlihat sedang bingung.
Max terkekeh mendengar perkataan dari gadis yang sudah mencuri hatinya itu. Dia meletakkan tangan kanannya pada kepala Cherry dan mengusap-usap rambutnya seraya berkata,
Cherry menoleh ke arah Max dengan tatapan serius dan berkata,
"Tidak bisa. Aku tidak bisa berdekatan dengan badut. Apa lagi jika harus menikah dengan badut. Maaf Max, sepertinya aku tidak bisa."
Kedua tangan Max memegang pipi Cherry dan mengarahkan mata Cherry agar menatap matanya.
"Aku bisa tidak memakai kostum badut itu lagi. Aku akan menyingkirkannya meskipun badut itu merupakan icon dari cafe ku. Aku tidak masalah. Yang terpenting untukku adalah kamu. Aku ingin memilikimu dan tidak ingin kehilanganmu," tutur Max dengan menatap intens manik mata Cherry.
"Tapi Max. Yang ada dalam janjiku itu si badut, jadi tidak mungkin jika–"
"Sudahlah Cher… Gak usah dibikin ribet. Badut itu adalah Max. Dan Max adalah aku. Jadi tidak ada yang salah jika kita menikah," sahut Max sambil beranjak dari duduknya dan menarik tangan Cherry agar ikut berdiri.
Saat itu juga terdengar suara pintu kamar tersebut yang diketuk dari luar. Max mengajak Cherry untuk membuka pintu tersebut. Dia tidak mau melepaskan genggaman tangannya pada Cherry.
Terlihat beberapa orang yang berbadan kekar yang wajahnya tidak asing oleh Max.
__ADS_1
"Bawa laki-laki itu dan urus dia. Beri juga dia pelajaran karena telah berani menyentuh gadisku," ujar Max pada mereka.
Mereka pun membawa laki-laki itu dengan cara mereka sendiri agar tidak ada yang curiga pada mereka.
"Jangan lupa untuk membereskan Bella. Dia dalang dari semua ini," tutur Max kembali pada mereka sebelum mereka keluar dari kamar hotel tersebut.
Salah seorang yang merupakan pemimpin para bodyguard tersebut menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Max yang merupakan perintah baginya. Kemudian dia berpamitan untuk pegi dari tempat itu.
"Sayang, apa lebih baik kita di sini saja terlebih dahulu? Kan sayang banget biaya sewa kamar hotelnya jika tidak digunakan," ucap Max sambil tersenyum dan mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda Cherry yang masih digandengnya.
"Max!" seru Cherry seraya menghempaskan tangan Max dengan kerasnya.
Dia melihat ke arah lain untuk menutupi rona malunya yang kini menghiasi wajahnya.
Max terkekeh melihat Cherry yang seolah marah hanya untuk menutupi rasa malunya.
"Mungkin saja kamu ingin beristirahat terlebih dahulu di sini Cher. Aku gak keberatan kok. Beneran deh. Sumpah," ucap Max dengan menahan tawanya.
Sontak saja Cherry menoleh ke arah Max seraya berkata,
"Max, cukup! Kamu kira aku perempuan seperti apa? Aku bukan perempuan yang–"
"Kamu itu perempuan yang paling aku sayang dan paling aku cintai," sahut Max sambil memeluk tubuh Cherry.
Tidak bisa dipungkiri jika Cherry merindukan Max. Merindukan perlakuan manisnya, merindukan tawanya dan merindukan kata-kata manisnya yang membuatnya selalu melambung tinggi.
Cherry hanya diam. Dia tidak berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Max, karena dia sadar jika dia juga merindukan Max.
Max melepaskan pelukannya seraya berkata,
"Sepertinya aku tidak bisa lama-lama di dalam kamar ini bersamamu. Aku takut akan khilaf dan akan menerkam mu."
Cherry tersenyum mendengar perkataan Max. Dia menurut ketika Max melingkarkan tangannya pada pinggangnya dan mengajaknya keluar dari kamar itu.
Ketika keluar dari kamar hotel tersebut, mereka berdua dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga mereka.
"Max, apa yang kalian lakukan?"
__ADS_1
"Cherry, Max, sedang apa kalian berdua di dalam kamar itu?"