
Max membelalakkan matanya mendengar kata 'nikah' yang keluar dari mulut Bella. Rencananya kali ini untuk membatalkan niat Bella yang selalu menginginkan pertunangan mereka dengan memperlihatkan keromantisannya bersama Cherry, gagal seketika.
Kenapa dia malah mengajak menikah? Harusnya dia membatalkan niatnya untuk perjodohan kami. Apa jangan-jangan akting kita kurang meyakinkan? Max bertanya-tanya dalam hatinya.
Cherry beranjak dari duduknya dan menarik tangan Max seraya berkata,
"Ayo Sayang, kita pergi dari sini."
Cherry menatap tajam pada Bella. Dia tidak terima jika usahanya tidak berhasil.
Max pun beranjak dari duduknya seraya berkata,
"Sampai kapan pun aku tidak akan menikah denganmu!"
Max melingkarkan tangannya pada pinggang Cherry. Dan dia berjalan melewati Bella tanpa berpamitan padanya.
"Max, kenapa bisa gagal begini?" tanya Cherry berbisik di telinga Max.
"Aku juga tidak tau kenapa bisa begini. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya agar dia merasa kalah dan pergi dari hidupku?" Max berbalas bisik di telinga Cherry.
"Ayo kita pikirkan lagi," bisik Cherry di telinga Max.
Bella sangat marah ketika melihat Max dan Cherry yang seolah sedang bermesraan di hadapannya.
Dari belakang dia memperhatikan pasangan tersebut yang seperti sedang mengoloknya.
Dengan emosi yang menggebu-gebu, Bella mengikuti mereka dengan langkahnya yang tergesa-gesa.
Mengerti jika diikuti oleh Bella, Cherry segera menarik tubuh Max agar menghadap padanya.
Tangan Cherry melingkar di leher Max dan kakinya berjinjit sehingga wajahnya saling berhadapan.
Cherry melirik ke arah Bella yang semakin mendekat. Dengan segera Cherry menarik tengkuk Max dan mendaratkan bibirnya pada bibir Max.
Seketika langkah Bella terhenti. Dia kaget melihat apa yang dilakukan oleh Cherry pada Max.
Max pun demikian. Matanya terbelalak mendapatkan ciuman dari Cherry. Beberapa detik kemudian, tangan Max melingkar pada pinggang Cherry.
Mata Max terpejam dan dia membalas ciuman Cherry dengan sangat lembut.
Cherry pun memejamkan matanya. Dia terhanyut oleh ciuman yang diberikan oleh Max padanya. Bibir mereka saling bertautan seolah mereka menyalurkan perasaan mereka.
Ciuman itu sangat dalam dan penuh perasaan. Sehingga Bella yang melihatnya bertambah marah dan tidak terima.
__ADS_1
Dia melepas high heels yang dipakainya dan melemparkannya ke arah Max dan Cherry yang masih menikmati ciuman mereka.
Sontak saja ciuman Max dan Cherry berhenti ketika high heels milik Bella mendarat di lengannya.
Max menatap tajam pada Bella. Tangannya mengambil high heels milik Bella yang tergeletak di lantai. Max menyeringai sambil memperlihatkan high heels tersebut pada Bella, kemudian dilemparnya high heels tersebut ke sembarang arah.
Setelah itu Max merangkul pundak Cherry seraya berkata,
"Ayo Sayang, kita tinggalkan tempat ini."
Max membukakan pintu mobil Cherry dan mempersilahkannya masuk. Setelah itu dia masuk ke dalam mobilnya.
Terlihat dari dalam mobilnya, Bella yang masih berdiri mematung dan melihat ke arahnya dengan tatapan bengisnya.
Max menyeringai melihat Bella yang tidak lagi mengejarnya. Segera dilajukannya mobil itu dengan kecepatan tinggi agar Bella tidak bisa mengejarnya.
Di dalam mobil tersebut sangat hening. Cherry yang tadinya terlihat agresif di depan Cherry, kini diam membisu. Dia tidak bisa berkata-kata. Bahkan kini dia terlihat salah tingkah.
Max pun demikian. Dia salah tingkah dan tidak tahu akan mengatakan apa pada Cherry.
Suasana dalam mobil tersebut terasa canggung. Mereka berdua hanya saling melirik tanpa ada yang berbicara.
Sampai akhirnya mobil Max berhenti di depan rumah Cherry.
"Loh kok kamu mengantarku pulang Max? Bukankah aku harus menjadi kasir di cafe mu?"
Max pun membelalakkan matanya. Dia lupa akan hal itu dan tiba-tiba saja tangan dan pikirannya membawa mobilnya menuju rumah Cherry.
Sial. Kenapa aku bisa gak konsentrasi seperti ini? Ini pasti karena efek dari ciuman Cherry tadi, gerutu Max dalam hatinya.
"Ehmmm… Lebih baik kamu istirahat saja. Besok saja kamu datang ke cafe seperti biasanya," tutur Max yang terlihat gugup.
Cherry pun segera keluar dari mobil tersebut dengan salah tingkah. Dia hendak berpamitan pada Max, tapi dia merasa canggung sehingga gerakannya pun sangat ketara jika dia salah tingkah ketika keluar dari mobil tersebut.
Max terkekeh melihat Cherry yang tingkahnya sangat lucu menurutnya. Tapi seketika kekehannya terhenti ketika dia teringat kembali ciuman yang diberikan oleh Cherry padanya.
Max menggelengkan kepalanya, berusaha untuk mengusir bayangan itu agar tidak kembali hadir dan mengacaukan pikirannya.
Dia mencoba fokus ketika mengemudikan mobilnya. Dalam hatinya dia berkata,
Fokus… fokus… fokus Max… fokus…
Kata-kata itu seperti mantra bagi Max, dia merapal kata tersebut hingga sampai pada cafenya.
__ADS_1
Di dalam cafe sudah ada Miyuki dan Lucas yang sedang makan siang. Max mendekati mereka dan menyambar segelas orange juice milik Lucas yang masih utuh dan meminumnya.
"Sudah sepi?" tanya Max setelah meneguk minumannya.
"Baru saja banyak yang pulang," jawab Lucas di sela kunyahan makannya.
"Bagaimana pertemuanmu dengan si Belek yang terobsesi dengan Tuan Muda Max ini?" tanya Miyuki sambil memandang serius pada Max.
Max menghela nafasnya, kemudian dia berkata,
"Seromantis apa pun aku dengan Cherry, dia tetap saja tidak percaya. Bahkan dengan lantangnya dia memperingatkan aku agar tidak romantis-romantisan dengan Cherry karena dia dan aku akan menikah. Gila kan dia?"
Seketika Miyuki dan Lucas tertawa terbahak-bahak. Mereka bisa membayangkan apa yang terjadi saat itu.
"Memangnya apa yang kamu lakukan dengan Cherry? Aku rasa kalian tidak cukup membuktikan bahwa kalian memang benar-benar pasangan," tukas Miyuki di sela tawanya.
"Harusnya kamu melakukan apa yang aku katakan. Pasti si Belekan itu seketika mundur dari peradaban," sahut Lucas sambil terkekeh.
Miyuki menghentikan tawanya. Kemudian dia bertanya pada Lucas,
"Memangnya apa yang kamu katakan pada Max?"
"Aku suruh dia melamar Cherry di hadapan si Belekan itu," jawab Lucas sambil terkekeh.
Max yang sedang menghabiskan minumannya, meneguknya secara langsung. Setelah itu dia berkata,
"Dia tidak akan percaya begitu saja. Bahkan tadi saja aku dan Cherry berciuman di depannya dua kali. Dan dia tetap saja dengan argumennya bahwa kita hanya berpura-pura saja. Stres kan tuh anak?"
Sontak saja Miyuki dan Lucas tersedak makanan mereka. Max segera memberikan segelas air putih yang ada di meja tersebut pada Miyuki dan Lucas, seraya berkata,
"Pelan-pelan. Gak ada yang minta."
"Kalian berciuman dua kali di depan si Belekan itu?" tanya Lucas setelah meneguk minumannya.
Max menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan yang diberikan Lucas padanya.
"Berarti kamu harus melamar Cherry dengan berlutut dan bersikap seromantis mungkin di hadapan si Belek itu. Jika perlu kalian berciuman sepanas mungkin dihadapannya. Dijamin, dia pasti kepanasan," tutur Miyuki sambil terkekeh.
"Setuju!" seru Lucas dengan sangat antusias.
Max memandang Miyuki dan Lucas secara bergantian. Dalam hatinya berkata,
Apa aku harus melakukan itu?
__ADS_1