
Di ruangan keluarga itu, dengan baju seadanya, Cherry dan Max melakukan acara pertunangan.
Terlihat jelas raut wajah Cherry yang bahagia bercampur dengan kekesalannya. Bahkan dalam hati dia menggerutu,
Tunangan model apa ini? Kenapa aku bertunangan dengan menggunakan baju seperti ini? Bahkan rambutku saja masih awut-awutan.
Setelah mereka bertukar cincin, Cherry dan Max memilih untuk memisahkan diri mereka dari para orang tua yang masih bercengkerama di ruang keluarga.
Kini, Max dan Cherry duduk di kursi taman belakang menghadap ke arah kolam renang yang tidak jauh dari taman tersebut.
"Sudah, gak usah dipikirkan lagi. Seharusnya kamu bahagia karena sekarang kita sudah bertunangan," ucap Max sambil mencubit pipi Cherry dengan gemas.
Cherry yang berwajah kesal, kini semakin kesal karena Max yang selalu saja dengan seenaknya mencubit pipi dan hidungnya.
Cherry segera meraih tangan Max dan menggigitnya. Dengan rasa puas, Cherry menyeringai dan berkata,
"Mau lagi?"
Dengan cepatnya Max menggelengkan kepalanya sambil mengusap-usap tangannya yang menjadi korban gigitan Cherry.
"Sakit Sayang…," rengek Max yang bersikap manja pada Cherry.
Max menyandarkan kepalanya pada pundak Cherry. Sayangnya Cherry segera menggerakkan pundaknya agar kepala Max tidak lagi menempel di pundaknya.
"Gak usah manja gitu. Gak pantes. Lagian aku kesel sama kamu. Bisa-bisanya kita bertunangan saat penampilanku seperti ini. Mana rambut lagi acak-acakan. Belum lagi yang waktu itu, kamu ngelamarnya di toilet pom bensin. Lengkap sudah keanehan pernikahanku. Belum nanti pas nikah, jangan sampai deh kamu pakai kostum badut," ucap Cherry disertai helaan nafasnya.
Max terkekeh mendengar perkataan Cherry. Dia teringat akan apa yang diucapkan oleh Cherry ketika baru bangun tidur tadi.
"Apa kamu mau pada saat kita menikah, aku menggunakan kostum badut?" tanya Max sambil terkekeh.
Dengan cepatnya Cherry berdiri dari duduknya seraya berkata,
"Enggak. Gak mau!"
Max semakin terkekeh melihat reaksi Cherry saat ini. Dia menarik tangan Cherry dengan kuat sehingga Cherry terduduk di pangkuannya. Tangan Max memegang kuat tubuh Cherry agar tidak turun dari pangkuannya.
"Tetaplah di sisiku Cher. Jangan tinggalkan aku. Aku berjanji akan selalu menjagamu dan membahagiakanmu," tutur Max sambil menempelkan kepalanya pada punggung Cherry.
Cherry yang tadinya memberontak dengan bergerak sekuat-kuatnya berusaha untuk melepaskan diri dari Max, kini seketika terdiam setelah mendengar penuturan dari Max.
Dalam hati Cherry merasa tenang dan yakin jika Max yang terbaik untuknya. Dia juga masa bodoh dengan ketakutannya karena ucapan Max yang kini menjadi kekuatannya.
Badut itu adalah Max. Dan aku akan menikah dengan Max. Aku rasa benar kata Max. Aku tidak perlu mengkhawatirkan janjiku lagi, Cherry berkata dalam hatinya.
__ADS_1
...----------------...
Hari ini merupakan hari yang berbahagia bagi Max dan Cherry. Semua keluarga besar, saudara dan teman baik mereka datang menghadiri acara tersebut.
Pernikahan Cherry dan Max disambut gembira oleh semua orang, kecuali Bella dan keluarganya.
Keluarga Bella harus menerima akibat dari perbuatan Bella pada Max dan Cherry. Dia berani mengusik keluarga besar Aydin, sehingga perusahaan papa Bella harus mengalami kebangkrutan dalam waktu singkat. Sedangkan Bella, kini dia harus hidup sederhana dengan menyewa rumah di wilayah yang terkenal kumuh.
Kehidupan keluarga Bella kini berbanding terbalik dengan kehidupan mereka yang sebelumnya. Dan mereka tidak menyalahkan perbuatan Bella, mereka menyalahkan keluarga Max yang membuat mereka menjadi seperti itu.
"Sayang, aku ingin mendengar sesuatu," ucap Max berbisik pada telinga Cherry.
Cherry tidak bertanya pada suaminya. Dia menatap Max seolah bertanya melalui matanya.
"Aku ingin mendengar kamu mengatakan seperti saat di mobil waktu itu," bisik kembali Max di telinga istrinya.
Seketika wajah Cherry merona. Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Max dan berkata,
"Mas badut, I love you."
Dengan cepatnya Max menolehkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya pada bibir istrinya.
"Max, Cherry, cepat lempar buket bunganya pada mereka," seru Miyuki yang sedang berjalan berhati-hati dengan mengusap perutnya yang semakin membesar mendekati pasangan pengantin tersebut.
Cherry mengambil buket bunga yang sudah disediakan. Kemudian dia dan suaminya berdiri di depan para tamu undangan yang masih berstatus single dan membelakangi mereka.
"Siap… satu, dua, tiga!"
Suara MC acara tersebut menggelegar di seluruh penjuru tempat itu. Max dan Cherry pun melempar buket bunga itu ke belakang mereka di mana terdapat barisan para single yang menginginkan pernikahan.
Grep!
Tiba-tiba saja buket bunga yang dilempar Max dan Cherry berada di tangan Lucas.
Mata Lucas terbelalak melihat buket tersebut sudah mendarat di tangannya.
Max, Cherry, Miyuki dan Tristan tersenyum lebar ketika melihat ke arah si penerima buket bunga tersebut.
"Selamat Lucas!" seru Max dari tempatnya saat ini.
"Yeee…Sebentar lagi Lucas akan menyusul!" seru Miyuki bersorak dari tempatnya berdiri saat ini.
__ADS_1
Lucas yang tidak ikut berdesak-desakan untuk menangkap buket tersebut merasa heran dan kaget. Pasalnya dia hanya berdiri tidak jauh di belakang barisan orang yang hendak menangkap buket tersebut. Anehnya buket tersebut meluncur ke arahnya dan tanpa upaya apa-apa, buket tersebut mendarat tepat di tangan Lucas.
Kenapa jadi aku yang mendapatkan buket bunga ini? Kenapa bukan yang lain? Menikah? Dengan siapa? Lucas berkata dalam hatinya dan terkekeh melihat buket bunga yang ada di tangannya.
Waktu pun berlalu dengan cepatnya. Miyuki sudah melahirkan anak kembarnya. (Kisah Tristan dan Miyuki bisa dibaca pada novel yang berjudul : Menikah Dengannya?)
Dan kini Cherry sedang mengandung benih cintanya bersama dengan Max.
Setiap hari di masa hamilnya, Cherry selalu membuat kewalahan suaminya. Ada saja hal aneh yang dilakukannya. Bahkan ngidamnya pun selalu pada saat yang tidak tepat.
Sering sekali dia meminta makanan yang tidak ada di kota tersebut. Bahkan sering juga dia meminta makanan khas dari negara lain yang harus dibeli dan dimakan langsung di negara tersebut.
Tidak ada cara lain selain menurutinya. Max tidak pernah keberatan akan semua permintaan istrinya meskipun sangat merepotkannya.
Bisnis Max pun semakin lancar setelah pernikahannya dengan Cherry. Dia berharap jika rejeki mereka akan semakin melimpah dengan lahirnya anak mereka nanti.
"Sayang… aku ingin kamu memakai baju badut dan beraksi di depanku," perintah Cherry pada suaminya sambil memakan keripik kentang favoritnya.
Max yang sedang duduk sambil menonton acara televisi di sampingnya kaget mendengar permintaan istrinya.
"Apa kamu serius Sayang?" tanya Max sambil menatap intens manik mata istrinya seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Cherry menganggukkan kepalanya. Dan mendorong tubuh suaminya agar bergerak menuruti kemauannya.
Max pun beranjak dari duduknya seraya berkata,
"Untung saja kostumku masih aku simpan baik-baik meskipun waktu itu kamu menyuruhku untuk membuangnya."
Cherry hanya tersenyum lebar menanggapi perkataan suaminya. Dia tetap memakan cemilannya sambil menonton tayangan televisi dan menunggu suaminya.
"Taraaaaaa…!" seru Max saat keluar dengan menggunakan kostum badutnya lengkap dengan make up dan peralatannya.
Cherry tertawa melihat atraksi Max yang kini sedang menjadi badut. Semua keahlian Max sudah ditampilkannya. Dan anehnya Cherry tidak bersin sama sekali saat melihat Max memakai kostum badutnya.
"Sayang, kamu sudah tidak bersin-bersin lagi? Apa kamu sudah sembuh dari keanehanmu itu?" tanya Max sambil terkekeh duduk di dekat istrinya dengan memakai kostum badutnya.
"Enak aja aneh. Tapi benar juga. Aku sudah gak bersin-bersin lagi. Apa itu berarti sekarang aku sudah bisa berdekatan dengan badut?" tanya Cherry dengan mata yang berbinar.
Max mengangguk menanggapi perkataan istrinya. Cherry pun bersorak senang dengan keadaannya saat ini.
Cherry memeluk tubuh suaminya dengan hati yang sangat bahagia dan berkata,
"Mas badut, I love you!"
__ADS_1
...TAMAT...