
Max tersenyum ketika dia mengingat bisikan Cherry. Gadis yang dicintainya itu, membisikkan kata-kata yang membuat Max tidak bisa tenang. Bahkan dia selalu teringat wajah Cherry ketika terngiang bisikannya itu.
Tadinya Max memang akan mengajak Cherry ke cafenya. Sayangnya Cherry malu pada Max setelah membisikkan sesuatu di telinga Max.
"Dasar gadis nakal. Bisa-bisanya dia membuatku seperti ini," gumam Max sambil tersenyum menatap foto Cherry pada layar ponselnya.
Miyuki memandang Max dari tempatnya berada saat ini. Dia sedang duduk bersama dengan Lucas untuk mengistirahatkan badannya ketika cafe sedang senggang.
Kini cafe milik Max sudah kembali ramai seperti semula. Bahkan Max membagikan snack gratis untuk mereka semua.
"Lucas, apa Max sudah gila? Kenapa dari tadi dia senyum-senyum sendiri seperti itu?" tanya Miyuki lirih pada Lucas yang ada di sebelahnya.
Lucas tersenyum dan mengedikkan bahunya. Dia juga tidak mengerti kenapa Max seperti sekarang ini.
"Coba kamu tanya dia," tukas Miyuki sambil mendorong tubuh Lucas agar bergerak maju mendekati Max.
Lucas pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Max. Tapi ketika hendak mencapai tempat Max, Lucas berbelok ke lain arah dan menoleh ke arah Miyuki yang seketika marah melihat ulah Lucas.
Lucas terkekeh dan berlari cepat meninggalkan tempat tersebut ketika Miyuki melepaskan sandalnya dan hendak melemparkannya ke arah Lucas.
"Dasar si Lucas sialan! Awas saja kalau kamu ada di dekatku. Pasti akan langsung hilang telingamu," cerocos Miyuki yang terdengar sangat kesal pada Lucas.
"Aku pulang dulu. Nanti biar Lucas yang menutup cafe nya," ujar Lucas pada Miyuki yang masih besungut kesal.
Seketika Miyuki menoleh ke arah Max dan berkata,
"Max, kamu mau ke mana? Ada apa? Apa ada yang terjadi?"
Max terkekeh mendengar Miyuki yang masih tetap cerewet meskipun sudah berperut besar dan akan melahirkan. Kemudian dia berkata,
"Aku ada perlu. Ini sangat penting untuk masa depanku."
Sontak saja Miyuki mengernyitkan dahinya dan berkata,
"Masa depan? Masa depan apa? Lalu bagaimana tadi? Apa yang terjadi tadi?"
Max berjalan mendekati Miyuki dan mencubit gemas hidungnya seraya berkata,
"Sudah, jangan banyak berpikir. Kasihan dedek bayinya."
Setelah mengatakan itu, Max berlalu keluar dari cafe tersebut dan mengemudikan mobilnya membelah jalanan yang sudah sedikit macet.
Di lain tempat, seorang gadis berada dalam kamarnya. Dia melakukan hal yang sama seperti Max. Tersenyum-senyum sendiri seolah hatinya ditumbuhi dengan bunga yang bermekaran.
__ADS_1
Namun, seketika senyumnya memudar tatkala dia kembali teringat akan mimpinya.
Cherry, gadis itu mengacak-acak rambutnya ketika teringat akan janjinya dan teringat akan perkataan si badut dalam mimpinya.
"Apa aku harus menikah dengan Max dengan menggunakan kostum badut? Tidaaaak… kenapa harus begini? Pernikahan kan sekali seumur hidup, harusnya yang spesial. Tapi… kenapa ini spesialnya jadi badut sih?"
Cherry merengek mempertanyakan nasib pernikahannya yang belum ditentukan harinya.
Dia merasa jika hidupnya susah karena janjinya sendiri. Terlalu lelah memikirkan tentang nasibnya, mata Cherry pun terpejam dengan sendirinya.
Tiba-tiba saja mata Cherry terbuka. Samar-samar dia melihat wajah yang tidak asing berada tepat di hadapannya.
Mata Cherry mengerjap-ngerjap seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Ganteng. Tapi sayangnya karena janjiku, wajah ganteng ini harus ditutup dengan wajah badut saat pernikahan nanti. Tapi aku juga gak mau menikah dengan badut. Lalu aku harus bagaimana?" gumam Cherry yang masih menatap lekat wajah yang ada di hadapannya.
Tangan Cherry bergerak menyentuh wajah tersebut menyusuri haris wajahnya.
"Kenapa terasa nyata? Kenapa bisa disentuh? Apa aku masih mimpi?" gumam Cherry kembali yang masih menyentuh wajah tersebut.
Wajah yang ada di hadapannya itu tersenyum dan perlahan bergerak mendekati wajah Cherry.
Cuuup!
Bibir Cherry mendapatkan ciuman dari bibir si pemilik wajah yang ada di hadapannya. Sontak saja Cherry terkejut hingga tidak bisa berkata-kata. Hanya bulu mata lentiknya saja yang bergerak naik turun membuat si pencuri ciuman itu tersenyum geli melihat Cherry saat ini.
"Bangun. Ini nyata."
Seketika Cherry mengenyahkan tangan orang tersebut dari hidungnya. Kemudian dia berkata,
"Kamu beneran Max?"
Max pun menganggukkan kepalanya. Kemudian dia kembali mencubit hidung Cherry seraya berkata,
"Kenapa hah?"
Tangan Cherry kembali meraih tangan Max yang mencubit hidungnya dan memainkannya ke kanan serta ke kiri.
"Kenapa kamu bisa masuk ke dalam kamarku?"
Max terkekeh tanpa menjawab pertanyaan kekasih hatinya itu.
Cherry segera beranjak dari tidurnya dan dengan paniknya dia mendorong tubuh Max menuju pintu kamarnya seraya berkata,
__ADS_1
"Cepat keluar. Kalau Papa sama Mama tau gimana? Pasti nanti kita akan langsung dinikahkan."
Max bertahan sehingga Cherry kewalahan mendorong tubuh Max. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong tubuh Max. Sayangnya usahanya itu sia-sia. Bahkan tubuh Max tidak bergeser se inci pun.
Cherry berhenti mendorong tubuh Max. Kedua tangannya berada di pinggangnya seraya nafasnya terengah-engah karena berusaha mendorong tubuh Max yang sama sekali tidak berpindah tempat.
Max memutar badannya menghadap ke arah Cherry. Dia terkekeh melihat Cherry terengah-engah karena kehabisan tenaga saat ini.
"Tenang saja, Papa dan Mama sendiri yang mengijinkan aku masuk ke dalam kamarmu karena kita akan segera menikah," ujar Max sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Cherry.
"Apa? Kapan? Kok bisa?" tanya Cherry yang terlihat heran.
Max mendekatkan dirinya pada Cherry dan mencuri ciuman bibirnya kembali.
Lagi-lagi Max membuat Cherry terkejut dengan ulahnya. Seketika wajah Cherry merona karena malu.
Cherry kembali mendorong tubuh Max seraya berkata,
"Keluar Max… keluar…."
"Kamu juga harus keluar sekarang. Karena kita akan bertunangan sekarang dan besok kita akan menikah," ujar Max yang masih tidak mau beranjak dari tempatnya.
"Apa? Sekarang?" tanya Cherry dengan mata yang terbelalak karena kaget.
Tangan Max menyambar tangan Cherry dan menariknya keluar dari kamar tersebut menuju ruang keluarga.
"Nah… ini dia yang kita tunggu-tunggu," ucap seorang pria paruh baya yang masih sangat keren dan tentunya tidak kalah tampan dengan Max.
Mata Cherry kembali terbelalak ketika melihat di depannya sudah ada pria yang ditemuinya di kamar hotel dan dipanggil dengan sebutan papa oleh Max.
Papa Max duduk bersebelahan dengan wanita paruh baya yang masih cantik dan tersenyum padanya.
"Cherry, kenapa kamu tidak ganti baju?" tanya Arini yang merasa malu dengan penampilan Cherry yang apa adanya saat ini.
Cherry melihat pada badannya saat ini. Seketika dia membelalakkan matanya mendapati apa yang digunakannya saat ini.
Celana pendek dengan kaos ketat dan rambut yang kusut karena bangun dari tidur, membuatnya seketika malu di hadapan orang tua Max saat ini.
"Max, kenapa kamu tidak memberiku kesempatan untuk berganti pakaian?" tanya Cherry dengan suara lirih dan sedikit tertahan.
"Kelamaan, nanti acaranya lama dimulainya kalau harus menunggu kamu dandan," jawab Max sambil menahan senyumnya.
"Sudahlah, tidak mengapa. Yang penting sekarang kita laksanakan acara pertunangannya. Atau sekalian saja kita nikahkan juga saat ini? Pestanya nanti saja menyusul," tutur Kevin dengan gaya santainya.
__ADS_1
Mata Cherry kembali terbelalak mendengar penuturan dari Kevin. Kemudian dia berkata,
"Apa? Menikah? Sekarang?"