Mas Badut, I Love You!

Mas Badut, I Love You!
Bab 30 Imbas dari berita


__ADS_3

"Aku rasa mereka yang memojokkan kita adalah antek-anteknya mereka," jawab Max yang masih membaca komentar tersebut satu persatu.


Lucas menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Max. Kemudian dia berkata,


"Tenang aja. Sekarang kita balas mereka dengan bukti yang kita miliki."


Max dan Cherry menyetujui perkataan Lucas. Kini mereka mulai menyusun pernyataan mereka untuk klarifikasi berita yang menyudutkan cafe mereka.


Mereka menyertakan bukti rekaman CCTV dan pernyataan dari pengunjung. Tentu saja mereka bertiga sangat antusias dan percaya diri dengan klasifikasi mereka. 


Max, Cherry dan Lucas yakin jika klarifikasi tersebut dapat meruntuhkan penilaian buruk masyarakat tentang cafe mereka.


"Akhirnya… kita sudah selesai melakukannya. Ayo kita pulang. Aku sangat berterima kasih sekali pada kalian berdua yang sudah banyak membantuku," ucap Max sambil tersenyum melihat ke arah Lucas dan Cherry secara bergantian.


"Gak usah sungkan gitu. Ini sudah tanggung jawab kita. Sekarang kita harus pulang untuk beristirahat agar tenaga kita pulih untuk menghadapi besok," sahut Lucas sambil terkekeh dan menepuk-nepuk pundak Max.


Cherry hanya tersenyum melihat keakraban Max dan Lucas yang sangat membuatnya iri karena dia tidak memiliki persaudaraan dan persahabatan seperti Max dan Lucas.


Dia memang memiliki saudara sepupu, tapi tidak sedekat Max dan Lucas. Dia pun memiliki sahabat, tapi mereka kadang tidak bisa membantunya pada saat sangat dibutuhkannya.


"Cher, aku antar pulang ya," ucap Max sambil tersenyum pada Cherry.


"Aku bawa mobil Max," tukas Cherry sambil tersenyum pada Max.


"Ayo kita keluar," ajak Lucas setelah mengembalikan kamera ke dalam kantor Max dan mengunci pintu kantor tersebut.


Setelah membereskan semuanya, Max dan Cherry pun mengikuti Lucas keluar dari cafe tersebut.


"Taruh sini saja mobilnya. Biar aku antar kamu pulang," ucap Max yang mengikuti Cherry sudah berada di dekat mobilnya.


"Kasihan Max mobilku sendirian di sini," ucap Cherry sambil terkekeh.


Max pun terkekeh menanggapi perkataan Cherry. Kemudian dia berkata,


"Tenang aja Sayang, kan ada petugas keamanan yang menjaga."


Seketika wajah Cherry bersemu merah. Dia merasa malu mendengar panggilan sayang yang diberikan Max untuknya.


"Emmm… gak usah Max, lebih baik aku pulang sekarang," ucap Cherry dengan gugup.

__ADS_1


Kegugupan Cherry itu dapat terlihat jelas oleh Max. Dia menahan tawanya agar Cherry tidak malu padanya.


Tanpa menunggu jawaban dari Max, Cherry segera masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesinnya.


Max pun segera masuk ke dalam mobilnya. Dia segera mengejar mobil Cherry dan mengikutinya dari belakang.


Cherry melihat ke arah kaca spion mobilnya. Dia mengenali betul mobil yang ada di belakangnya.


"Max? Kenapa dia mengikutiku?" gumam Cherry sambil sesekali melirik ke arah spion mobilnya.


Cherry menepikan mobilnya di jalan yang sedikit sepi. Mobil Max pun ikut menepi di belakang mobil Cherry.


Cherry masih saja memperhatikan mobil Max dari kaca spion mobilnya. Kemudian dia mengambil ponsel dari tasnya dan menghubungi seseorang.


"Max, apa kamu sedang berada di belakangku?" tanya Cherry yang masih memperhatikan dari kaca spion mobilnya.


Iya Sayang, aku ada di belakangmu, jawab Max sambil menahan tawanya karena menjahili Cherry yang pastinya sedang merona karena malu.


Benar sekali apa yang dipikirkan oleh Max. Kini Cherry sedang merona karena malu. Bahkan dia tidak berani menoleh ke belakang padahal mereka sedang berada di mobil masing-masing.


"Kenapa kamu mengikutiku Max?" tanya Cherry berusaha untuk tidak gugup ketika mengatakannya.


Jantung Cherry berdegup dengan sangat kencang. Dalam hatinya dia merutuki kebodohannya yang menjadi tersipu malu dan berdebar hanya karena mendengar perkataan Max dari telepon.


Segera dimatikannya panggilan telepon tersebut oleh Cherry karena dia tidak ingin lagi mendengarkan perkataan Max yang tidak baik bagi kesehatan jantungnya.


Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, Cherry segera melajukan kembali mobilnya. Sesekali dia melirik mobil Max dari kaca spion mobilnya.


Bibirnya melengkung ke atas melihat mobil Max yang masih saja mengikutinya di belakang mobilnya. Jujur saja, dia merasa aman dan nyaman diperhatikan serta diikuti oleh Max saat ini.


Max pun merasa lega dengan mengikuti Cherry hingga sampai rumahnya. Dia tidak bisa melepas Cherry begitu saja pulang sendiri tanpa orang lain yang menemaninya.


Setelah melihat mobil Cherry masuk ke dalam rumahnya, Max pun segera melajukan mobilnya menuju apartemennya.


Max memandang sekeliling keadaan apartemennya yang sepi tanpa ada siapa pun di dalamnya.


"Max merasa kesepian Ma, Pa. Ck, ini semua gara-gara si Belek sialan itu. Seandainya saja dia tidak terobsesi denganku, pasti aku tidak akan hidup terpisah dari keluargaku, seperti saat ini," ucap Max sambil duduk di sofa.


Tidak terasa, mata Max pun perlahan terpejam. Dia tertidur di sofa tanpa mengganti bajunya.

__ADS_1


Begitu pula dengan Cherry, dia merasakan badannya yang begitu lelah. Tapi anehnya, matanya tidak dapat terpejam begitu saja. Bayangan Max yang tersenyum sedang memanggilnya dengan panggilan sayang selalu mengganggunya.


Cherry tidak bisa mengenyahkan begitu saja apa yang selalu terbayang di mata dan pikirannya. Dia berusaha keras mengalihkan pikirannya dengan memejamkan matanya sambil menghitung domba yang ada dalam pikirannya, hingga tanpa sadar dia pun tertidur.


Pagi pun menjelang. Aktifitas Cherry pun sama. Dia masih sibuk dengan kuliahnya dan sibuk membantu Max di cafenya.


Tentang postingan cafe Max itu masih saja menjadi bahan pembicaraan. Banyak sekali yang menghujat pasangan tersebut karena berusaha menjatuhkan cafe Max dengan cara yang kotor. 


Namun, ada juga yang masih saja menjelek-jelekkan cafe Max dengan alasan cafe yang terlalu ramai itu membuat kinerja pekerja cafe tersebut tidak stabil, sehingga banyak yang kecewa.


Max, Lucas dan Miyuki tidak bisa membuat orang yang menjatuhkan cafe mereka mengaku kalah. Mereka masih saja menyerang cafe milik Max.


Sudah beberapa hari pasca kejadian itu. Cafe Max bertambah hari bertambah sepi. Pengunjung yang datang tidak seramai sebelum kejadian itu terjadi.


"Max, apa ini imbas dari kejadian waktu itu?" tanya Lucas pada Max yang sedang melamun melihat ke arah dalam cafenya.


Max menghela nafasnya. Sedari tadi dia memikirkan hal itu. Dan ternyata Lucas pun berpikiran sama sepertinya.


"Aku pikir juga begitu Lucas. Sepertinya kita harus lebih giat untuk promosi lagi," ujar Max sambil tersenyum getir.


Lucas melihat Miyuki yang sedang duduk santai di area kasir sambil menikmati kuenya. Kemudian dia berkata,


"Max, lebih baik kita bagi tugas. Kamu promosi di luar, sama seperti waktu itu. Dan aku akan promosi melalui media sosial bersama dengan Miyuki di sini sambil menjaga cafe."


Max tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui ide dari Lucas. Setelah itu dia berkata,


"Ok, aku percayakan cafe pada kalian. Tolong siapkan voucher diskonnya. Aku akan bersiap-siap untuk promosi di luar."


"Apa Cherry gak kamu ajak sekalian untuk membantumu promosi?" tanya Lucas yang menghentikan langkah Max yang baru saja satu langkah bergerak meninggalkannya.


Max menoleh kembali pada Lucas dan tersenyum padanya seraya berkata,


"Dia sedang sibuk di kampusnya."


Max segera menuju kantornya dan mengambil peralatan badutnya. Dia memakai kostum badutnya dan make up nya.


"Padahal beberapa minggu yang lalu aku tidak memakainya, tapi rasanya seperti sudah lama aku tidak menggunakannya," gumam Max sambil terkekeh mengaplikasikan make up pada wajahnya.


Setelah itu Max turun ke lantai bawah dan menghampiri Miyuki dan Lucas yang sedang menyiapkan voucher diskon.

__ADS_1


"Wooo… Mas badut… apa kabar?" sapa Miyuki ketika Max yang sudah berubah menjadi badut berada di hadapannya


__ADS_2