Mas Badut, I Love You!

Mas Badut, I Love You!
Bab 6 Wajan vs buah ceri kecil


__ADS_3

Cherry terkejut dengan suara mamanya yang tiba-tiba bersandar pada daun pintu. Dia menghela nafasnya dan dalam hatinya berkata,


Pacar? Ya kali aku pacaran sama si wajan yang ngeselin ini. Tapi… dia kan ganteng. Kalau dia gak nyebelin, pasti aku dengan hati yang ikhlas dan lapang dada akan menerimanya menjadi pacarku. Bahkan aku tidak akan menolak jika dia menjadi suamiku.


"Cher, kok diam? Apa laki-laki ini memang pacar kamu?" tanya Arini sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya dan bersandar pada daun pintu yang terbuka.


"Buk–"


"Perkenalkan Tante, nama saya Max," sahut Max seraya mengulurkan tangannya pada Arini.


Arini menyambut uluran tangan Max seraya berkata,


"Arini, mama Cherry."


"What? Mama Cherry? Tante beneran Mama Cherry? Kok masih muda banget sih? Cantik banget loh," ucap Max yang menampilkan wajah terkejutnya.


Seketika Cherry membelalakkan matanya dan mulutnya menganga mendengar perkataan Max yang memuji mama Cherry.


Arini tersenyum malu-malu mendengar pujian Max padanya seraya berkata,


"Ah, kamu bisa saja Max."


Cherry semakin membelalakkan matanya dengan mulut yang terbuka lebar menatap mamanya dengan tatapan tidak percaya.


Masih muda banget? Cantik banget? Rabun kali ya mata si wajan ini? Cherry berkata dalam hatinya.


"Jangan terlalu memuji Tante, nanti si Cherry jadi cemburu," ucap Arini sambil terkekeh.


Sekali lagi Cherry membelalakkan matanya. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh mamanya.


"Cemburu? Enak saja. Mana ada Cherry cemburu?" sahut Cherry yang keberatan dengan perkataan mamanya.


Max menahan senyumnya melihat ekspresi keberatan dari wajah Cherry. Dalam hatinya berkata,


Sepertinya seru nih. Aku akan membuatnya lebih kesal lagi.


Tiba-tiba saja tangan Max berada di pundak Cherry dan merangkul pundaknya seraya berkata,


"Gak usah kesal gitu Sayang. Aku tetap sayangnya sama kamu."


Senyuman Max yang sangat mempesona membuat Cherry terpanah. Bahkan dia tidak menyanggah panggilan sayang yang diberikan Max padanya.

__ADS_1


Mata Arini berbinar melihat kedekatan Max dengan putrinya. Bahkan dia terlihat sangat bahagia. Terlebih lagi ketika Max memanggil Cherry dengan panggilan sayang. 


"Wah… Mama senang sekali melihat kalian berdua pacaran. Kalau bisa, kalian menikah saja besok," ucap Arini sambil tersenyum lebar pada Max dan Cherry yang saling menatap.


Cherry menatap mata Max seolah menembakkan sinar laser dari matanya. Dia tidak rela jika Max hanya mempermainkannya di depan mamanya.


Sedangkan Max, dia menatap Cherry dengan tatapan yang penuh dengan kemenangan. Dia merasa sangat senang bisa mengalahkan Cherry yang dinilainya sebagai gadis angkuh.


"Ayo masuk! Kenapa kalian jadi berdiri di depan pintu? Nanti susah jodohnya. Eh kalian kan udah pacaran ya, Mama lupa," ucap Arini dengan hebohnya sambil menarik tangan Cherry dan tersenyum lebar di akhir perkataannya.


Badan Cherry terseret oleh tarikan tangan mamanya yang entah mengapa sangat kuat dari biasanya. Dan Max pun ikut tertarik masuk ke dalam rumah Cherry.


Di sinilah mereka sekarang. Max duduk di kursi bersebelahan dengan Cherry. Sedangkan Arini duduk di hadapan mereka.


Arini menatap mereka sambil tersenyum-senyum hingga membuat Max salah tingkah.


"Mama. Kenapa Mama ikut duduk di sini?" tanya Cherry yang sedang kesal pada mamanya.


"Kan Mama ingin lebih mengenal Max sebagai calon menantu Mama," jawab Arini seraya tersenyum senang.


Cherry menghela nafasnya mendengar jawaban dari mamanya. Kemudian dia berkata,


"Ma, kami tidak berpacaran dan Max ini bukan calon menantu Mama. Jadi, biarkan dia pulang sekarang juga."


Sesampainya di luar pintu, Cherry menghempaskan tangan Max seraya berkata,


"Terima kasih sudah mengantarkanku pulang. Dan tolong jangan kembali lagi."


Setelah mengatakan itu, Cherry segera membalikkan badannya.


Tiba-tiba gerakannya terhenti karena tangannya kini sedang ditahan oleh Max.


"Apa lagi? Lepaskan Max! Ini sudah malam. Pulanglah!" ucap Cherry tanpa menoleh ke belakang, di mana Max sedang berdiri di belakangnya.


Bulu kuduk Cherry terasa meremang ketika Max mendekatkan wajahnya di telinganya.


"Tunggu saja pembalasanku," bisik Max di telinga kiri Cherry.


Sontak saja mata Cherry terbelalak mendengar ancaman dari Max. Dalam hatinya dia merasa gugup dan sedikit takut dengan ancaman dari Max.


Arini tersenyum melihat Max yang seperti sedang mencium pipi Cherry. Dia segera mengabadikan momen tersebut dengan menggunakan ponselnya.

__ADS_1


Setelah itu dia segera masuk ke dalam rumahnya untuk memberitahukan pada suaminya.


Melihat Cherry yang masih dalam keadaan tercengang, Max meniup mata Cherry dari samping sehingga membuat Cherry kembali tersadar.


"Bye buah ceri kecil. See you next time," ucap Max sambil terkekeh berjalan menuju mobilnya.


Cherry memberengut kesal pada Max. Kedua tangannya mengepal dan giginya bergemelatuk menahan kekesalannya pada Max yang semakin menyebalkan baginya.


"Lihat saja wajan datar, aku tidak akan membiarkanmu mempermainkan aku yang masih lugu ini," ucap Cherry dengan mengeratkan giginya.


Terdengar suara klakson mobil yang dibunyikan oleh Max sebagai tanda kepergiannya. Tanpa menyahutinya, Cherry segera masuk ke dalam rumah seraya berkata dalam hatinya,


Pulang sana, gak usah balik lagi ke sini. 


Masuk ke dalam kamarnya, Cherry segera membersihkan wajahnya dan bersiap-siap untuk tidur. 


Namun, dia teringat akan barang belanjaannya. Segera dia turun ke ruang tamu untuk mengambil barang belanjaannya yang tadi dibawakan oleh Max.


"Huuufffttt… aku kira akan kehilangan makanan-makanan kesukaanku ini. Mereka sangat berharga untukku," gumam Cherry dengan memeluk beberapa snack dan minuman bersoda kemasan kaleng.


Dia melirik ke kiri dan kanan. Merasa tidak ada orang, dia segera membawa satu kantong plastik yang berisi snack dan minuman kaleng tadi menuju kamarnya.


"Aman," gumam Cherry seraya tersenyum lebar setelah masuk ke dalam kamarnya.


Dia meletakkan kantong plastik tersebut di atas meja belajarnya dan mengambil satu bungkus snack yang akan dimakannya.


Ketika dia akan membuka bungkus snack yang ada di tangannya itu, tiba-tiba dia teringat jika pintu kamarnya belum terkunci.


Cherry meletakkan kembali snack tersebut di atas ranjangnya dan bergegas menuju pintu kamarnya untuk segera menguncinya.


"Gawat kan kalau sampai Mama masuk dan memergoki aku makan snack di sini," gumam Cherry sambil merutuki kebodohannya.


Dia kembali menuju ranjangnya dan membuka laptopnya. Setelah dia mengutak-atiknya sebentar, dia segera membuka snack nya untuk menemaninya menonton drama korea kesukaannya.


Bahkan saat adegan sedih pun Cherry ikut menangis tersedu-sedu hingga ingusnya pun keluar menemaninya yang sedang menangis.


"Aku bersumpah, aku gak akan mau melakukan hal konyol seperti itu. Lagi pula, mana ada cewek yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu pada cowok. Apa lagi di hadapan orang banyak. Beuuuhhh… auto malu aku. Mau ditaruh di mana muka cantikku ini?" ucap Cherry setelah melihat adegan drama yang tokoh wanitanya sedang menyatakan cintanya pada prianya di tengah-tengah pasar malam.


Tok... Tok... Tok...


Mendengar suara ketukan pintu kamarnya, seketika Cherry membelalakkan matanya. Dala. Hatinya dia berkata,

__ADS_1


Gawat!


__ADS_2