Mas Badut, I Love You!

Mas Badut, I Love You!
Bab 14 Bayanganmu


__ADS_3

Cherry berlari masuk ke dalam kamarnya tanpa menemui mama dan papanya terlebih dahulu. Dia berdiri di depan cermin dan melihat bayangan penampilannya saat ini.


Wajahnya merona malu terbayang saat bibir Max mendarat di bibirnya. Bahkan senyuman Max yang mampu mempesonanya masih juga terbayang di benaknya.


Beberapa saat kemudian dia tersadar. Kedua tangannya mengipas-ngipas di depan wajahnya seraya berjalan menuju ranjangnya dan berkata,


"Huuuffffttt… Cher… apa yang kamu pikirkan? Lupakan jika kamu gak ingin sakit hati."


Cherry memang tergolong gadis yang cantik, tapi dia menolak untuk sakit hati. Karena itulah dia tidak pernah berpacaran. Dan memang belum ada laki-laki yang mampu menggoyahkan hatinya.


Selama ini, semua laki-laki yang mendekatinya semuanya tidak mampu menggoyahkan hatinya. Tidak ada yang mampu membuat hatinya bergetar dan membuatnya selalu memikirkannya.


Baru kali ini Cherry selalu membayangkan wajah seorang laki-laki. Dan laki-laki itu adalah Max. 


Namun, dia tidak mau sakit hati. Max dikelilingi banyak perempuan cantik, sehingga Cherry lebih memilih untuk tidak sakit hati nantinya.


Sayangnya, semakin dia menolak untuk memikirkan Max, wajah Max selalu hadir dengan senyuman mempesonanya itu.


Cherry menutup bantal pada wajahnya berharap agar bayangan wajah Max yang sedang tersenyum padanya bisa lenyap dari hadapannya.


Memang benar, bayangan wajah Max yang sedang tersenyum padanya sudah hilang, tapi kini dia kembali terbayang saat Max mencium bibirnya beberapa waktu lalu.


Cherry membuka bantalnya dan seketika bergerak duduk di tempat tersebut seraya berkata,


"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar tidak terbayang kejadian itu lagi."


Dengan segera Cherry beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya.


"Mama…! Ma…. Mama…!" seru Cherry yang sedang berjalan menuruni tangga.


"Cherry… jangan teriak-teriak!" seru Arini dari arah dapur.


Cherry yang mengetahui dari mana asal suara mamanya, kini langkah kakinya menuju ke arah tersebut.


"Mama…!" seru Cherry seraya berhambur memeluk mamanya yang sedang mengiris sayuran.


Arini terkejut mendapati putrinya yang tiba-tiba memeluk dirinya dari belakang. Bahkan pelukan Cherry sangat erat dan kepalanya bersandar pada punggung mamanya.


Arini menghentikan kegiatannya. Dia meletakkan pisaunya dan membalikkan badannya ke belakang. Tatapan matanya menelusuri wajah putrinya yang tiba-tiba manja padanya.


"Ada apa hmmm? Tumben banget manja-manja gini sama Mama," tanya Arini seraya menempelkan kedua tangannya pada kedua pipi putrinya.


Cherry hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia enggan bercerita pada mamanya. Dia merasa sangat malu pada mamanya yang mendukung sekali hubungannya dengan Max.


"Ehemmm… sepertinya kamu lagi seneng banget. Apa Max memberikan sesuatu padamu?" tanya Arini dengan senyum yang bermaksud menggoda putrinya.

__ADS_1


Wajah Cherry semakin merona mendengar perkataan dari mamanya. Dalam hati dia berkata,


Gak dikasih apa-apa Ma, cuma dikasih ciuman.


"Cherry mau bantuin Mama," ucap Cherry untuk mengalihkan perhatian mamanya.


Dahi Arini mengernyit mendengar ucapan putrinya. Tidak biasanya Cherry mau membantu mamanya di dapur. Bahkan menyentuh area dapur pun jarang sekali.


"Tumben? Apa ini tanda-tanda kamu akan menikah?" tanya Arini yang merasa heran dengan perubahan sikap putrinya.


Seketika wajah Cherry berubah ekspresi menjadi kaget mendengar mamanya menanyakan tentang pernikahan.


Dengan segera Cherry menyangkalnya dengan berkata,


"Pernikahan apa sih Ma? Kan Cherry masih belum pengen nikah."


"Pengen gak pengen, mau gak mau, kalau sudah waktunya nikah dan sudah ada calonnya, gak usah ditunda-tunda lagi," tutur Arini sambil mencubit gemas hidung putrinya.


Cherry mencebik kesal. Pasalnya mama dan papanya selalu menanyakan tentang pasangannya ketika mereka berkumpul bersama.


"Mendingan sekarang Cherry bantu Mama masak aja daripada ngomongin masalah jodoh yang masih belum jelas terlihat hilalnya," ucap Cherry sambil meraih pisau yang tergeletak di atas sayuran.


Arini hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari putrinya. Dia pun segera melanjutkan aktifitas memasaknya.


Wajah Max masih saja terbayang di matanya. Bahkan sayuran-sayuran yang dilihatnya berubah menjadi wajah Max yang sedang tersenyum padanya.


Cherry menggeleng-gelengkan kepalanya agar bayangan Max hilang dari matanya.


"Huuuffftttt…," helaan nafas Cherry memperjelas kelegaan hatinya.


Bayangan wajah Max sudah tidak lagi terlihat olehnya. Cherry kembali meneruskan aktivitasnya mengiris sayuran.


Arini menoleh ke arah putrinya, dia merasa aneh dengan sikap putrinya. Dia hendak bertanya, tapi diurungkannya karena Cherry sudah kembali dengan kegiatannya mengiris sayuran.


Tiba-tiba Cherry teringat akan Max yang sedang mencium bibirnya. Tanpa sadar dia terbuai oleh bayangan itu. Cherry tersenyum dan tidak melihat ke arah sayuran yang dipotongnya.


"Awww!" seru Cherry ketika jarinya teriris oleh pisau yang sedang dipegangnya.


Sontak saja Arini menghentikan kegiatan memasaknya dan menghampiri Cherry yang sedang meniup-niup jarinya.


"Kamu kenapa Cher? Kenapa sampai begini?" tanya Arini sambil menarik tangan Cherry menuju wastafel.


Mata Cherry berkaca-kaca melihat jarinya yang terluka akibat dari kecerobohannya. Dalam hati dia sibuk mengutuk Max.


Ini semua gara-gara Max. Aku harus mengenyahkan wajahnya dari pikiranku. Dasar wajan datar sialan!

__ADS_1


Di saat Cherry sibuk dengan pikirannya, dengan cekatannya Arini membersihkan luka putrinya dan membalutnya menggunakan plester luka.


"Sudah selesai. Lebih baik kamu menata meja makan saja. Biar Mama yang memasak. Daripada jari tanganmu semuanya terluka, bisa dimarahi sama Max nanti Mama. Bisa-bisa dikira Mama menyalahgunakan wewenang sebagai seorang ibu," ucap Arini sambil terkekeh di akhir kalimatnya.


Cherry mencebik kesal mendengar nama Max disebutkan oleh mamanya. Kemudian dia berkata,


"Mama… apaan sih… kok larinya ke Max? Apa hubungannya dengan Max?" 


"Dia kan calon suami kamu. Ya sudah pasti ada hubungannya dengan Max," jawab Arini sambil terkekeh.


Arini mendorong tubuh Cherry menuju meja makan dan mendudukkannya di kursi makan seraya berkata,


"Sudah, kamu bantu Mama di sini saja. Kamu tata peralatan makannya."


Arini kembali ke dapur menyelesaikan kegiatan memasaknya. Dengan cekatannya dia memasak semuanya sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara dering telepon yang berasal dari ponsel Cherry yang ada di sakunya. Segera Cherry mengambilnya.


Dia tertegun melihat nama yang tertera pada layar ponselnya. Dalam hati dia berkata,


Apa ini? Kenapa dia menghubungiku? 


Cherry hanya melihatnya saja tanpa menjawab panggilan telepon tersebut. Dia larut dalam pikirannya sendiri hingga panggilan telepon itu pun berhenti.


Namun, ponsel yang ada di tangannya itu kembali berdering dengan nama penelepon yang sama. 


"Enggak. Aku gak mau suaranya terngiang terus di telingaku. Lebih baik aku matikan saja," gumam Cherry seraya tangannya bergerak mematikan ponselnya.


Bibir Cherry melengkung ke atas ketika melihat layar ponselnya sudah mati dan dia berkata,


"Aman."


Beberapa saat kemudian, di saat Cherry sedang menata peralatan makan, dia mendengar suara seseorang yang sedang membuka pintu rumah tersebut.


"Cherry… Mama… Papa pulang!" seru Fahmi dari arah pintu rumah.


Cherry beranjak dari duduknya seraya berkata,


"Tumben sih Papa pakai teriak-teriak? Biasanya juga nyelonong aja."


Tiba-tiba mata Cherry terbelalak ketika melihat papanya berjalan masuk dengan seseorang.


"Eh ada tamu," ucap Arini ketika sudah berada di dekat Cherry.


"Hai Cher!"

__ADS_1


__ADS_2