
Cherry terkejut dengan adanya orang yang datang bersama dengan papanya. Bahkan dia tersadar ketika orang tersebut menyapanya dan tersenyum padanya.
Arini menyambut tamunya dengan sangat gembira. Dia menarik tangan orang tersebut agar duduk di kursi makan.
"Ayo Pa kita makan," ajak Arini pada Fahmi yang berjalan mengikutinya.
"Cherry, bantu Mama menyiapkan makanannya," perintah Arini sedikit berseru pada Cherry yang masih berdiri di tempatnya.
Cherry menghela nafasnya sambil berjalan menuju dapur. Langkahnya sangat berat seolah dia tidak mau melakukan apa yang diperintahkan oleh mamanya.
"Ngapain sih dia datang ke sini? Ikutan makan malam bersama lagi," gumam Cherry seraya tangannya bergerak mengambil mangkuk sayuran dan melihat ke arah meja makan.
"Cherry! Butuh bantuan gak?" seru Arini dari meja makan.
Cherry menghela nafasnya mendengar seruan mamanya yang seolah menyuruhnya untuk cepat membawa semua menu makanan yang ada di dapur ke meja makan.
"Sepertinya kamu butuh bantuan."
Suara seorang laki-laki mengagetkan Cherry yang sedang menata mangkuk sayur di tangannya. Dia ingin membawa beberapa mangkuk dan piring sekaligus. Sayangnya dia kewalahan saat membawanya.
Cherry menoleh ke arah sumber suara. Tanpa sadar dia menyebut namanya.
"Max?!"
Max tersenyum manis hingga sangat sayang sekali untuk tidak dipandang oleh Cherry.
Cherry terpanah oleh senyuman menawan yang diberikan oleh Max padanya. Hingga dia tersadar ketika Max menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri tepat di depan wajahnya.
"Cher, sini aku bantu," ucap Max seraya mengambil alih mangkuk sayur dan piring lauk yang ada di tangan Cherry.
Sontak saja Cherry tersadar dari lamunannya. Max tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya sebelum dia melangkahkan kakinya meninggalkan Cherry yang tercengang melihatnya.
"Cherry! Kenapa kamu masih ada di situ?" seru Mama dari meja makan.
"Aisssh… kenapa aku jadi bengong begini?" gumam Cherry sambil membawa mangkuk dan piring yang berisi beberapa menu makanan.
Dengan sangat hati-hati dia berjalan menuju meja makan. Kedua tangannya yang penuh dengan piring dan mangkuk itu membuatnya terlihat sangat kewalahan.
Max berdiri dan segera mengambil dua piring dari tangan Cherry seraya berkata,
"Kenapa membawa sebanyak ini? Harusnya kamu memanggilku untuk membantumu."
Arini dan Fahmi tersenyum melihat Max yang sangat peduli dengan Cherry. Mereka sudah yakin dengan Max untuk mereka jadikan menjadi menantu mereka.
__ADS_1
Cherry gugup karena kembali mendapatkan perlakuan manis dari Max. Apalagi kini Max duduk di kursi sebelahnya.
"Cher, ambilkan nasi untuk Max," ucap Arini ketika mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Hah?!" Cherry terkejut seraya menunjuk wajahnya dengan menggunakan jari tangannya.
Arini menganggukkan kepalanya, setelah itu dia menunjuk tempat nasi dengan menggunakan dagunya.
Cherry menoleh ke samping kanannya, di mana Max sedang duduk dan tersenyum manis padanya. Dia menghela nafasnya, tapi tak urung tangannya bergerak untuk mengambilkan nasi pada piring Max.
"Calon istri yang baik," ucap Max sambil tersenyum manis pada Cherry.
Seketika rona merah tersirat di wajah Cherry. Tanpa sadar dia tercengang, hanya bulu matanya yang lentik saja yang bergerak naik turun.
Max mendekatkan wajahnya dan meniup mata Cherry sehingga dia tersadar. Max tersenyum geli melihat Cherry yang gugup dan salah tingkah.
Begitu pula dengan Arini dan Fahmi yang menahan tawanya melihat ekspresi lucu putrinya.
Sedangkan Cherry, dia menahan malunya dengan hanya diam saja ketika makan malam berlangsung.
Max berbincang-bincang dengan Arini dan juga Fahmi di ruang keluarga. Sedangkan Cherry diperintahkan mamanya untuk membuatkan minuman dan membawakan kue ke ruang keluarga.
Terdengar tawa dan canda mereka dari ruang keluarga. Cherry merasa enggan untuk berkumpul bersama mereka. Dia yakin jika nantinya pasti dialah yang akan menjadi bahan pembicaraan mereka.
"Loh kok Bibik Non? Non Cherry mau ke mana? Bukannya Non Cherry yang disuruh Nyonya untuk membawakan ini ke sana?" tanya Bik Narsih dengan menampakkan wajah herannya.
"Cherry kebelet Bik. Cherry mau ke kamar dulu," jawab Cherry, setelah itu dia segera berjalan cepat menuju kamarnya.
Bik Narsih terkekeh melihat Cherry yang terlihat sekali menghindari mereka. Bik Narsih tahu jika Max adalah pacar dari Cherry yang sudah digadang-gadang oleh Fahmi dan Arini sebagai calon suami Cherry.
Bik Narsih membawakan minuman dan kue tersebut ke ruang keluarga. Dia meletakkan semua minuman dan kue tersebut di atas meja seraya berkata,
"Silahkan di nikmati."
Arini menengok ke belakang dan melihat sekitarnya untuk mencari keberadaan putrinya. Tapi, sosok Cherry tidak ditemukan olehnya. Kemudian dia berkata,
"Bik, Cherry ke mana? Kok jadi Bibik yang mengantar minumannya?"
"Emmm.. tadi Non Cherry bilang katanya kalau dia ke kamar karena…," Bik Narsih menutup bibirnya karena keceplosan akan mengatakan alasan Cherry.
"Karena apa Bik?" tanya Arini penasaran.
"Emmm… itu Nyonya. Katanya Non Cherry kebelet," jawab Bik Narsih lirih sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Hah?! Ada-ada saja itu anak," ucap Arini yang merasa malu pada Max.
Max terkekeh mendengar alasan Cherry dari Bik Narsih. Kemudian dia berkata,
"Ma, Pa, apa boleh Max menemui Cherry di kamarnya karena ada yang akan Max bicarakan dengannya?"
Arini dan Fahmi saling menoleh, tatapan mata mereka saling beradu seolah saling berbicara melalui mata mereka. Kemudian Fahmi berkata,
"Boleh saja, asalkan kalian tidak melakukan sesuatu yang hal yang dilarang."
"Tidak Pa, Max berjanji tidak akan melakukan apa pun yang dilarang," ucap Max dengan sangat yakin.
Setelah diberitahukan letak kamar Cherry oleh Arini, Max segera menuju kamar Cherry untuk menemuinya.
Tok… tok… tok…
Max mengetuk pintu kamar Cherry tanpa memberitahukan siapa dirinya.
"Masuk!" seru Cherry dari dalam kamarnya.
Dengan perlahan Max masuk ke dalam kamar Cherry. Dia melihat Cherry yang sedang tidur tengkurap di atas tempat tidurnya dengan laptop yang ada di depannya.
"Cher! Cherry!"
Suara Max berhasil mengalihkan perhatian Cherry dari laptop yang sedang menayangkan film favoritnya.
"Max?!" celetuk Cherry yang kaget melihatnya sudah berada di dalam kamarnya.
Dengan senyum menawannya, Max berjalan mendekatinya. Kemudian dia duduk di dekat Cherry dan berkata,
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Cherry yang masih kaget melihat Max berada di kamarnya.
"Aku sudah minta ijin pada Mama dan Papa untuk berbicara denganmu," jawab Max dengan disertai senyum manisnya.
"Hah?! Bicara apa?" tanya Cherry yang tanpa sadar karena terpesona oleh senyuman Max.
Max menatap intens manik mata Cherry dan berkata,
"Bantu aku untuk menyingkirkan Bella dari kehidupanku."
"Bantu kamu? Bagaimana caranya?" tanya Cherry dengan dahi yang mengernyit.
__ADS_1
"Jadilah pacarku," ucap Max dengan penuh harap.