Mas Badut, I Love You!

Mas Badut, I Love You!
Bab 7 Ancaman


__ADS_3

Tok… tok… tok…


"Cherry! Buka pintunya!" 


Terdengar suara orang yang paling berkuasa di rumah itu.


Cherry tergopoh-gopoh meletakkan snack yang dimakannya kembali ke dalam kantong plastik dan mencari tempat untuk menyembunyikan semua snack serta soft drink kemasan kaleng yang menjadi favoritnya untuk menemaninya menonton drama.


Tok… tok… tok…


"Cherry! Cepat buka pintunya!" 


Seru orang itu kembali di sela ketukan pintunya pada pintu kamar Cherry.


"Bentar Ma!" seru Cherry dari dalam kamarnya.


Dia bergegas menyembunyikan kantong plastik belanjaannya di dalam lemari pakaiannya.


Setelah itu dia segera berjalan cepat menuju pintu kamarnya untuk membukakan pintu.


Cherry tersenyum lebar pada mamanya yang menatap serius padanya. Dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dadanya, Arini berkata,


"Cherry, Papa memerintahkan agar Max datang ke rumah untuk menghadap Papa besok."


"Hah?! Max?" celetuk Cherry yang terkejut mendengar nama Max.


Arini menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Iya, Max. Coba kamu hubungi dia dan suruh dia mampir kemari menghadap Papa besok."


"A-apa? Kenapa Max harus menghadap Papa?" tanya Cherry dengan gugup.


"Sudah, jangan banyak tanya. Besok kalian berdua pasti tau kenapa Papa ingin Max bertemu dengannya," jawab Arini dengan tegas dan menahan tawanya melihat ekspresi putrinya saat ini.


"Tapi Ma, Max itu bukan pacar Cherry. Kami juga baru saja bertemu kemarin. Cherry gak punya nomornya," sahut Cherry yang menunjukkan keengganannya untuk mengajak Max datang ke rumahnya.


Arini membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan tempat tersebut seraya berkata,


"Mama dan Papa tidak mau tau. Jika kamu tidak membawanya ke rumah, uang sakumu dipotong lima puluh persen."


Seketika mata Cherry terbelalak. Sontak saja dia segera mencari tahu tentang Max di semua media sosial. 


"Mmm… pertama, aku harus mencarinya di cafe. Dia bekerja di sana, siapa tau ada fotonya di media sosial cafe itu," ucap Cherry sambil mencari-cari nama cafe yang tadi siang baru saja dikunjunginya.

__ADS_1


Bibir Cherry melengkung ke atas ketika melihat profil cafe yang dicarinya sama persis dengan cafe yang baru hari ini buka.


Dia mengusap-usap matanya ketika melihat foto Max bersama dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sedang hamil.


"Bukannya perempuan yang hamil ini adalah kasir yang tadi? Kenapa mereka sangat dekat sekali? Apa mereka suami istri?" tanya Cherry bertubi-tubi ketika melihat beberapa foto Max bersama dengan Miyuki dan Lucas.


Terlihat jelas wajah kecewa dari Cherry, hanya saja dia tidak menyadarinya. Rasa kagum dan sukanya pada Max sejak awal bertemu berganti  dengan kekesalannya karena kejahilan Max padanya.


Merasa sangat kecewa bercampur dengan rasa kesalnya pada Max, Cherry menyudahi pencariannya dan dia berkata,


"Bodo amat dah. Mau dia punya istri apa suami. Gak ada hubungannya sama aku. Mendingan sekarang aku nerusin nonton dramanya lagi," ucap Cherry untuk mengalihkan pikirannya.


Kini dia kembali mengalihkan perhatiannya pada drama yang sedang ditontonnya. Sayangnya meskipun pandangannya berfokus pada layar laptopnya, dia merasa tidak nyaman dan tidak mengerti dengan adegan yang sedang dilihatnya saat ini.


Dia menghela nafasnya seraya menutup laptopnya dan berkata,


"Tidur aja deh. Dari pada gak fokus, percuma."


Direbahkan tubuh mungilnya itu di atas ranjangnya. Kini dia bergelung di dalam selimut dan memejamkan kedua matanya, mencoba untuk berkunjung ke dunia mimpi indahnya.


Dahi Cherry mengernyit dan keringatnya membasahi wajah serta lehernya saat ini. 


"Jangan! Jangan mendekat! Hatsy! Hatsy!" teriak Cherry dengan ngos-ngosan setelah berlari dengan jarak tempuh yang sangat jauh.


"Hatsy! Hatsy! Hatsy!"


Cherry kembali bersin saat orang yang mengejarnya sedari tadi dan kini ada di hadapannya itu semakin mendekat padanya.


Tangan kiri Cherry menutup hidungnya dan tangan kanannya memukuli badut yang semakin mendekat padanya menggunakan sling bag nya.


"Badut sialan! Beraninya kamu mengejarku dan menggangguku!" seru Cherry seraya memukul-mukulkan sling bag nya pada tubuh badut itu.


"Kamu sudah berjanji akan menikah denganku. Ayo penuhi janjimu itu," ucap badut tersebut seraya menangkis setiap pukulan yang diberikan oleh Cherry padanya.


Cherry pun ketakutan seraya berteriak,


"Tidak!!!"


Byuuuur!


Mulut Cherry bergerak seperti mulut ikan yang sedang terdampar di daratan. Bahkan kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan agar bisa bernafas dengan lega.


"Cherry! Bangun!"

__ADS_1


Suara menggelegar sang mama membuat Cherry seketika terbangun. Matanya terbuka lebar mendengar suara penguasa rumah tersebut.


"Mama, kenapa teriak-teriak sih Ma? Lagi pula telinga Cherry itu masih waras, gak budek," gerutu Cherry dengan kesalnya.


"Kamu sendiri ngapain teriak-teriak? Mimpi lagi ngapain sampai meneriakkan kata tidak seperti itu?" tanya Arini tidak mau kalah dengan putrinya.


Seketika Cherry teringat akan mimpinya. Dia menghela nafasnya dengan sangat berat seraya mengacak-acak rambutnya dan menggerak-gerakkan kakinya dan berkata dalam hatinya,


Kenapa mimpi badut itu lagi sih? Kenapa bukan pangeran tampannya?


"Ck, semakin hari semakin aneh kamu ini. Sudah, sana buruan mandi. Papa sudah dari tadi menunggu di meja makan," tukas Arini yang menatap heran pada putrinya.


"Eh ini gayungnya, jangan lupa bawa ke kamar mandi," sambung Arini kembali sambil meletakkan gayung yang sedang dibawanya pada pangkuan Cherry.


Cherry menatap gayung tersebut, sedetik kemudian dia baru sadar jika gayung tersebut digunakan mamanya untuk membawa air dari kamar mandi dan menyiramnya.


"Mama….! Kenapa selalu mengguyur Cherry ketika membangunkanku?" teriak Cherry tidak terima dengan perlakuan mamanya.


Arini yang sudah berada di luar kamar Cherry terkekeh mendengar teriakan dari putri semata wayangnya.


Setelah beberapa saat, Cherry bergabung dengan mama dan papanya di meja makan untuk melakukan sarapan bersama.


"Cher, jangan lupa untuk mengajak Max datang kemari menemui Papa nanti," tutur Arini yang bertujuan untuk mengingatkan putrinya.


Roti yang baru dipegangnya kini diletakkannya kembali di atas piringnya. Kemudian dia berkata,


"Ma, Pa. Ada apa sih dengan Max? Kenapa kalian ingin menemuinya? Max bukan pacar Cherry. Mama hanya salah paham."


Mendengar perkataan Cherry yang mengatakan bahwa Max bukan pacarnya, Fahmi merasa marah karena melihat foto yang diambil oleh istrinya memperlihatkan dengan jelas bahwa Max mencium pipi putrinya. 


"Bawa dia di hadapan Papa atau uang sakumu Papa potong delapan puluh persen," ancam Fahmi dengan tegas.


"Apa? Delapan puluh persen? Bukannya kemarin kata Mama hanya lima puluh persen?" tanya Cherry bertubi-tubi.


"Papa yang memutuskan semuanya. Dan Papa memutuskan akan memotong delapan puluh persen dari uang sakumu jika tidak membawa laki-laki yang bernama Max itu menemui Papa. Titik," tukas Fahmi dengan tegas.


Seketika Cherry menjerit dalam hatinya. Dia memperlihatkan wajah kesalnya dan beranjak dari kursinya berjalan keluar rumah tanpa berpamitan dan juga tanpa menyentuh sarapannya.


"Apa aku harus meminta tolong pada Max untuk datang ke rumah? Tapi dia pasti akan menertawakanku. Tapi… delapan puluh persen itu sangat banyak sekali. Aku tidak akan bisa bertahan hidup hanya dengan dua puluh persen uang sakuku. Hufffft… baiklah, Cherry, buang rasa malumu dan berbicaralah pada Max," ucap Cherry meyakinkan dirinya sendiri.


Setelah beberapa detik dia kembali berkata,


"Lalu, di mana aku bisa menemuinya?"

__ADS_1


__ADS_2