Mas Badut, I Love You!

Mas Badut, I Love You!
Bab 16 Pacar?


__ADS_3

"Jadilah pacarku!"


Seketika mata Cherry terbelalak mendengar permintaan Max padanya. Lagi-lagi dia dibuat tercengang oleh Max. 


Perkataan Max membuat jantung Cherry berdegup kencang. Bahkan dia tidak bisa mengatakan apa pun. Dalam hatinya dia merasakan seperti banyak bunga yang bermekaran. Matanya berbinar mendengar permintaan Max padanya.


"Cherry, tolong bantu aku. Jadilah pacarku agar Bella tidak lagi menggangguku. Kita harus berpura-pura seperti orang yang benar-benar berpacaran. Kamu bisa melakukan apa saja padaku. Kamu bisa memelukku, menggandengku, bahkan menciumku," pinta Max dengan tatapan mengharap.


Seketika ekspresi wajah Cherry berubah. Tiba-tiba saja dia kecewa dengan perkataan Max yang hanya meminta bantuannya untuk berpura-pura menjadi pacarnya.


Sialan, ternyata dia hanya memintaku untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Hancur harga diriku dong kalau aku sampai menerima permintaan dia. Pokoknya aku gak mau terima permintaan dia, Cherry berkata dalam hatinya.


Max mengambil kedua tangan Cherry dan menatapnya dengan intens seraya berkata,


"Aku mohon Cher, bantu aku. Kamu boleh meminta apa pun padaku."


Cherry terperangah menatap mata Max yang mengiba padanya. Sayangnya dia segera sadar jika dia tidak boleh terperdaya oleh pesona Max.


Cherry segera menarik tangannya dari genggaman tangan Max. Kemudian dia berkata,


"Maaf Max, aku gak bisa."


Max menengadahkan wajahnya pada wajah Cherry, sehingga wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.


"Aku mohon Cher. Kamu bisa minta apa pun padaku," ucap Max kembali.


Melihat wajah dan tatapan Max yang mengiba dari jarak yang sangat dekat membuat hati Cherry sedikit goyah.


"Mmm… aku pikirkan dulu," tukas Cherry seraya melihat ke arah lain.


Max pun tersenyum melihat kegugupan yang tersirat pada wajah dan sikap Cherry saat ini. Kemudian dia berkata,


"Beri aku jawaban secepatnya Cher. Aku yakin jika kamu mau membantuku."


Seketika Cherry beranjak dari tempat tidurnya seraya berkata,


"Kenapa kamu sangat percaya diri sekali? Kata siapa aku mau membantumu? Dan belum tentu juga aku mau membantumu."


Max pun berdiri di depan Cherry dan mendekatkan wajahnya pada telinga Cherry seraya berbisik,


"Karena aku yakin jika kita saling membutuhkan."


Sontak saja Cherry bergerak menjauh dari Max. Dia bingung dengan perkataan Max. Sayangnya, Max memandangnya dengan senyuman penuh kemenangan yang membuat Cherry menjadi kesal.


"Keluar dari sini Max, aku mau istirahat sekarang," usir Cherry sambil mendorong tubuh Max keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Max tidak mencoba bertahan, dia menurut saat Cherry mendorongnya keluar dari kamar itu.


Dia terkekeh ketika Cherry menutup pintu kamarnya dengan sangat keras dan mengunci pintunya.


"Loh Max, ada apa? Kenapa Cherry menutup pintunya sekeras itu?" tanya Arini dengan rasa ingin tahunya.


Max tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya dan berkata,


"Cherry ngambek Ma. Tadi dia minta saya menjemputnya besok pagi. Tapi saya menjahili dia, saya bilang tidak bisa jemput dia besok. Eh dia ngambek jadinya."


Fahmi terkekeh mendengar perkataan Max. Dia tidak curiga apa pun karena apa yang dikatakan oleh Max sudah biasa dilakukan oleh Cherry ketika meminta sesuatu pada mama dan papanya.


"Maklumi saja Max. Besok langsung ke sini saja biar dia merasa mendapatkan surprise dari kamu. Pasti dia sangat senang," tutur Arini pada Max.


Max menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan dari Arini dan berkata,


"Siap Ma."


Setelah itu Max berpamitan pulang pada Arini dan Fahmi tanpa diantarkan oleh Cherry menuju mobilnya yang diparkirkan oleh Max di halaman rumah tersebut.


Di dalam kamarnya, Cherry melihat dari balkon kamarnya mobil Max yang bergerak meninggalkan rumahnya.


"Ck, seenaknya saja dia mau mempermainkan perasaanku. Memangnya aku tidak punya harga diri?" gerutu Cherry ketika melihat mobil Max sudah menghilang dari pandangannya.


Cherry menghela nafasnya, terlihat sekali dia kecewa saat ini. Rasa suka dan bahagia karena permintaan Max yang memintanya untuk menjadi pacarnya, seketika terhempas karena perkataan Max yang mengatakan bahwa itu hanya sekedar pura-pura saja.


Namun, rasa kesal yang diberikan oleh Max sebanding dengan rasa deg-degan dan rasa bahagianya ketika Max berlaku manis padanya.


"Iiih sebel… sebel… sebel…," seru Cherry seraya memukul-mukul tempat tidurnya.


"Kenapa sih dia selalu nyebelin? Kenapa dia selali suka bikin aku kesel? Tapi kenapa juga aku masih saja membayangkan wajahnya, senyumannya dan…."


Ucapan Cherry terhenti ketika dia membayangkan kembali bibir Max yang menempel pada bibirnya. Dia memegang bibirnya seolah dia kembali merasakan ciuman Max padanya.


Beberapa menit setelah itu dia tersadar. Tangannya menarik bantal dan menutupi wajahnya. Dia malu pada dirinya sendiri yang membayangkan tentang ciuman itu.


Tanpa membuka bantal dari wajahnya, Cherry merebahkan tubuhnya untuk berusaha tidur agar tidak lagi memikirkan tentang Max.


Malam pun berlalu, esok harinya Max berangkat sangat pagi dari tempat tinggalnya saat ini. Max tinggal di apartemen miliknya setelah dia menolak perjodohan dengan Bella.


"Pagi semuanya…."


Suara yang sangat familiar di telinga Cherry itu membuat Cherry yang sedang fokus pada makanannya, kini menoleh ke arah pintu rumah tersebut.


Dia menoleh ke lain arah dan menutupi wajahnya dari samping agar orang tersebut tidak melihatnya.

__ADS_1


"Kenapa dia pagi-pagi sudah ada di sini?" gumam Cherry yang tiba-tiba merasa gugup.


"Pagi Max. Kita sarapan bersama sebelum kalian berangkat," tukas Arini sambil tersenyum manis pada Max.


Max pun membalas senyum Arini seraya berjalan menuju tempat duduk yang ada di sebelah Cherry.


"Pagi Cherry berry sweety," sapa Max sambil tersenyum pada Cherry.


Sontak saja jantung Cherry serasa seperti hendak melompat. Dalam hati dia berkata,


Sialan si wajan datar Maxim. Bisa-bisanya dia pagi-pagi sudah bikin jantung aku jadi gak stabil gini. Lama-lama bisa berakibat buruk untuk kesehatan jantungku.


"Cher, itu disapa Max kok diem aja?" tanya Arini setelah menelan makanannya.


"Silahkan dimakan Max. Tidak usah malu-malu," ucap Fahmi untuk mempersilahkan Max sarapan.


"Terima kasih Pa, Ma. Maaf pagi-pagi sudah merepotkan," tukas Max sambil tersenyum malu pada Arini dan Fahmi.


"Ck, biasanya juga malu-maluin," sahut Cherry tanpa sadar.


"Cherry!" seru Mama lirih seolah memperingatkan putrinya agar berkata sopan pada Max.


Cherry tersenyum lebar pada Arini agar mamanya itu tidak marah padanya.


Setelah sarapan mereka usai, Max segera mengajak Cherry untuk berangkat saat itu juga.


Cherry menolaknya, dia segera mencari alasan agar dia bisa berangkat sendiri tanpa diantar oleh Max.


"Cherry ke kampus bawa mobil kok. Jadi, kamu gak usah repot-repot datang ke sini pagi-pagi seperti ini," ucap Cherry sambil tersenyum paksa.


"Mobil kamu dibawa Pak Juned ke bengkel," sahut Fahmi yang seolah mendukung Cherry untuk diantar oleh Max.


"Loh sejak kapan? Kok bisa? Mobil Cherry kenapa Pa?" tanya Cherry bertubi-tubi.


"Biasa, di servis. Sudah, mendingan kamu diantar Max saja. Lagian juga dia sudah ada di sini," jawab Fahmi sambil memakai jasnya.


Cherry menghela nafasnya dengan memperlihatkan wajah lesunya.


"Kemarin saja marah-marah saat Max bilang gak bisa jemput kamu. Sekarang Max sudah jemput kamu pagi-pagi sekali, harusnya kamu jangan menolaknya. Lebih baik sekarang kalian berangkat sebelum terkena macet," tutur Arini ketika melihat wajah Cherry yang tiba-tiba lesu.


"Hah?! Marah-marah? Siapa? Aku?" tanya Cherry pada mamanya seolah tidak percaya pada pendengarannya.


Arini menganggukkan kepalanya untuk membenarkan pertanyaan putrinya.


Sontak saja Cherry melihat ke arah Max yang kini sedang tersenyum lebar padanya. Tatapan Cherry menghunus pada Max seraya berseru,

__ADS_1


"Max….!"


__ADS_2