
Akhirnya Cherry memberanikan dirinya untuk mendatangi cafe Max. Dia tidak tahu lagi di mana akan menemui Max selain di cafe tersebut.
Cherry menyeret kakinya yang terasa sangat berat menuju ke cafe Max sepulang dia kuliah.
Dia menghela nafasnya ketika berada di depan cafe yang kini sudah mulai rame dipadati pengunjung. Dia menatap cafe tersebut dengan perasaan yang sulit diutarakan.
Ternyata promo yang diberikan oleh Max sebagai badut di pasar malam mampu memikat para pengunjung untuk datang ke cafe miliknya.
Tiba-tiba pundak Cherry terasa berat. Dia melihat ke arah pundaknya yang sudah ada lengan kekar di sana.
"Mmm… pantesan berat. Punya siapa sih?" tanya Cherry dengan nada kesalnya seraya menoleh ke arah samping kananya.
Matanya terbelalak ketika melihat orang yang berdiri di sampingnya dan tangannya masih merangkul pundaknya.
Orang tersebut tersenyum lebar melihat Cherry yang terkejut menatapnya. Kemudian dia berkata,
"Kenapa buah ceri kecil bengong di depan cafe ini?"
Cherry menghempaskan tangan orang tersebut yang ternyata adalah Max.
"Ck, buah ceri kecil. Namaku Cherry berry sweety. Ingat itu!" sahut Cherry dengan ketusnya.
Setelah itu dia berjalan masuk ke dalam cafe tanpa menunggu Max terlebih dahulu.
Lah ngapain ini kaki jadi jalan ke sini sih? Ngapain aju jadi masuk ke dalam cafe? Padahal aku kan bisa ngomong sama dia di luar tadi, Cherry merutuki kebodohannya dalam hatinya.
Dengan terpaksa dia duduk di salah satu kursi yang ada di dalam cafe tersebut. Dia kembali merutuki kebodohannya dengan memukul-mukul kepalanya menggunakan tangannya.
Tiba-tiba tangan Cherry tidak bisa bergerak untuk memukul kepalanya. Dia melihat ke arah depannya dan matanya kembali terbelalak ketika mendapati Max duduk di depannya dengan memegang erat tangannya.
"Ada apa dengan kepalamu? Apa ada yang salah dengan kepalamu?" tanya Max dengan tatapan herannya.
Cherry menarik tangannya dari cengkraman tangan Max seraya berkata,
"Ck, lepasin. Sakit tau gak."
Max terkekeh melihat Cherry yang kesal padanya. Kemudian tangannya bergerak untuk mencubit hidung Cherry sambil berkata,
"Kalau gak mau dibantu ya sudah. Aku mau ke sana dulu."
Dengan cepatnya tangan Cherry meraih tangan Max seraya berkata,
"Max!"
Max yang sudah berdiri, kini menoleh pada Cherry yang tetap duduk di kursinya. Tatapan mata Cherry yang penuh dengan permohonan itu membuat Max merasa iba padanya.
Max duduk kembali pada kursi yang didudukinya tadi. Kemudian dia menatap Cherry dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
Cherry mengerti arti tatapan dari Max saat ini. Dia menghela nafasnya sejenak sebelum dia mengatakan pada Max tentang perintah papanya.
"Max, aku mau minta tolong sama kamu," ucap Cherry dengan wajah mengiba pada Max.
Max mengernyitkan dahinya karena merasa aneh dengan permintaan dari gadis yang kini sedang berada di hadapannya. Kemudian dia berkata,
"Apa?"
Cherry kembali menghela nafasnya. Kemudian dia menatap intens manik mata Max dan berkata,
"Max, tolong ikut aku untuk menemui Papaku di rumah."
"Hah?! Aku? Kenapa aku?" tanya Max dengan wajah bingungnya.
Lagi-lagi Cherry menghela nafasnya. Dia malu jika harus mengatakan alasannya. Tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan alasannya.
"Huuuffffttt… sebenarnya aku gak tau kenapa. Tapi yang jelas Papa ingin bertemu denganmu dan apabila kamu gak datang menemuinya, maka…," Cherry menggantung ucapannya.
"Maka apa?" tanya Max penasaran.
Cherry memejamkan matanya dan berkata,
"Uang sakuku dipotong delapan puluh persen."
Sontak saja Max tertawa mendengar alasan yang diberikan oleh Cherry padanya.
"Sudah kuduga jika kamu seperti ini. Aku benci padamu Max."
Seketika tawa Max lenyap. Dengan cepatnya tangan Max menyambar tangan Cherry dan berkata,
"Aku akan bantu."
Perkataan Max membuat gerakan Cherry terhenti. Dalam hati dia berkata,
Gak usah marah Cher, daripada uang sakumu dipotong Papa. Daripada kamu jadi kere, mending memaafkan Max saja. Itu lebih mudah.
Cherry pun membalikkan badannya, setelah itu dia berkata,
"Apa sekarang kamu bisa ikut denganku?"
Max menarik tangan Cherry menuju meja kasirnya. Kemudian dia berkata,
"Kamu bantu aku bekerja di sini sebagai kasir. Bagaimana?"
Cherry terkejut mendengar permintaan dari Max, tapi dia berpikir jika pekerjaan menjadi kasir lebih mudah dibandingkan uang sakunya yang hanya mendapatkan dua puluh persen saja.
Dan akhirnya Cherry pun menganggukkan kepalanya menyetujui persyaratan dari Max.
__ADS_1
"Tanda tangan di sini," ucap Max seraya memberikan bolpoin dan kertas kosong.
"Hah?! Buat apa?" tanya Cherry yang merasa heran dengan permintaan Max.
Max memberikan bolpoin tersebut pada tangan Cherry seraya berkata,
"Udah, gak usah banyak tanya. Semakin cepat kamu lakukan, maka semakin cepat juga kita berangkat."
Tanpa berpikir panjang lagi, Cherry segera menandatangani kertas kosong tersebut. Setelah itu dia memberikannya kembali pada Max.
Kertas kosong yang berisi tanda tangan Cherry tersebut dimasukkan oleh Max ke dalam tasnya. Kemudian dia menghubungi Lucas yang sedang berbelanja untuk segera kembali ke cafe.
Beberapa menit kemudian, sampailah Lucas di cafe. Dia segera mendatangi Max yang berada di kasir bersama dengan Cherry.
"Max, ada apa? Kenapa sepertinya kamu terburu-buru sekali?" tanya Lucas yang memprotes perintah Max.
"Maaf. Aku akan pergi sebentar dengan dia. Tolong kamu jaga kasir dan cafenya ya," jawab Max sambil terkekeh dan meletakkan tangannya pada pundak Cherry.
Lucas mengernyitkan dahinya melihat gadis yang terlihat sangat dekat dengan Max. Kemudian dia berkata,
"Siapa dia? Dan di mana Yuki?"
"Sepertinya Yuki gak datang," jawab Max tanpa memberitahukan pada Lucas siapa Cherry yang sebenarnya.
"Pak Max, ini pesanannya," ucap seorang waiter memberikan beberapa box makanan dalam kantong plastik.
Max menerima kantong plastik tersebut dan berkata,
"Terima kasih."
Tangan kiri Max membawa kantong plastik tersebut dan tangan kanannya kini menarik tangan Cherry seraya berkata,
"Ayo kita berangkat. Aku gak mau nantinya mempunyai kesan jelek pada Papamu."
Dahi Lucas mengernyit mendengar perkataan Max. Dia tidak mengerti tentang apa yang dikatakan oleh Max pada Cherry.
"Hah?! Papamu? Kesan jelek? Maksudnya apa Max?" seru Lucas mengiringi kepergian Max dan Cherry yang sudah berjalan keluar dari pintu cafe tersebut.
"Ck, sialan si Max. Awas saja nanti kalau gak cerita sama aku," gerutu Lucas yang kini sudah duduk di kursi kasir.
Di dalam mobil Max, Cherry hanya diam saja. Dia tidak bisa mengatakan apa pun pada Max karena dia sendiri bingung akan mengatakan apa untuk situasi seperti saat ini.
Tiba-tiba saja mobil sudah terhenti. Dan ternyata mereka sudah sampai di depan rumah Cherry.
Cherry mengajak Max untuk masuk ke dalam rumahnya. Dalam pikiran Cherry, papanya belum pulang dari kantornya sehingga dia sedikit tenang.
Sesampainya mereka masuk ke ruang tamu, tiba-tiba saja ada suara yang menyambut mereka,
__ADS_1
"Oh… ini rupanya pacar kamu itu Cher?"