Mas Badut, I Love You!

Mas Badut, I Love You!
Bab 25 Perasaan


__ADS_3

Deg!


Jantung Cherry berdebar dengan sangat cepat mendengar ucapan Max yang menggantung seolah tertahan karena rasa gugup dan malunya.


Cherry pun gugup menunggu kelanjutan ucapan dari Max. Degup jantungnya tidak bisa dikendalikan lagi olehnya.


Dia tidak bisa menyela ucapan Max. Dia ingin sekali menunggu kelanjutan ucapan dari Max.


"Cher, apa kamu masih mendengarku?" tanya Max yang terdengar gugup.


I-iya, ucap Cherry seraya menganggukkan kepalanya.


Terdengar helaan nafas dari Max di telepon. Cherry bertambah gusar dan gugup tak menentu.


"Cher, kamu ke cafe sekarang juga ya. Di sini sangat ramai sekarang. Yuki gak datang. Dan kasir gak ada yang jaga. Kamu bisa kan datang ke sini sekarang juga?" tanya Max yang terdengar seperti sedang terburu-buru.


Seketika badan Cherry lemas. Ternyata apa yang didengarnya saat ini tidak seperti yang diinginkan hatinya.


Bahkan jantungnya seketika tidak berdegup kencang lagi seperti tadi. Kemudian dia menjawab,


Baiklah, aku akan ke sana sekarang juga.


Setelah itu panggilan telepon mereka berakhir. Cherry menghela nafasnya yang terdengar penuh kekecewaan. Dia berjalan dengan lemas ke arah lemari untuk mengambil pakaian gantinya.


"Cherry… Cherry… apa yang sudah kamu pikirkan?" ucapnya lemah seolah tidak bertenaga.


Dia kembali menghela nafasnya ketika berada di depan cermin memandang penampilannya yang sudah siap untuk berangkat.


"Sepertinya aku harus menyiapkan hatiku untuk nanti ketika bertemu dengannya," ucap Cherry pada bayangannya yang ada di cermin.


Dengan langkah beratnya dia meninggalkan kamarnya untuk menuju cafe milik Max.


Kali ini dia membawa mobilnya sendiri. Dia tidak mau diantarkan oleh Max pada saat pulang nanti. Entah mengapa, dia takut untuk berdekatan dengan Max. 


Jantungnya berdegup sangat kencang ketika berada di dekat Max. Tidak hanya itu saja, bahkan hanya mendengar suaranya saja bisa membuat degup jantungnya tidak karuan.

__ADS_1


Selain itu, harapannya pun menghilang tatkala Max sepertinya hanya mempermainkan perasaannya saja. Dia sadar akan hal itu dan dia tidak mau berharap lebih dengan status pacar pura-pura yang sedang mereka mainkan.


Namun, entah mengapa, dalam hati kecilnya pun mengatakan jika dia menginginkan untuk bertemu dengannya.


"Apa yang aku rasakan? Sudahlah, ikuti saja apa yang terjadi. Aku juga tidak terlalu berharap untuk bisa bersamanya," gumam Cherry yang sedang mengemudikan mobilnya.


Tidak berapa lama mobilnya pun tiba di parkiran cafe milik Max. Dia segera turun dari mobilnya setelah melihat suasana cafe yang memang sudah dipadati oleh pengunjung.


Dengan tergesa-gesa Cherry masuk ke dalam cafe tersebut dan segera menuju area kasir.


"Max, ada yang bisa ku bantu?" tanya Cherry yang sudah ada di dekat Max.


Max menoleh ke arah Cherry dan tiba-tiba dia merasa gugup tatkala mata mereka saling menatap.


"Ehemmm… kamu di kasir saja. Mulailah seperti biasanya," jawab Max sambil mengalihkan perhatiannya pada gelas-gelas yang akan diisinya dengan minuman buatannya.


"Oh… ok," tukas Cherry singkat.


Setelah itu dia menuju ke area kasir dan segera menjalankan tugasnya sebagai kasir.


Lengan bajunya yang dilipat sesiku hingga terlihat ototnya. Dan senyuman Max yang sangat mempesona ketika berbicara dengan seseorang, membuat Cherry ingin menariknya dan membawanya untuk berada di dekatnya.


"Dasar tukang tebar pesona," gumam Cherry sambil memasukkan data pesanan ke komputer.


Max pun demikian, dia sesekali mencuri pandang ke arah Cherry. Dia tersenyum melihat Cherry yang sedang sibuk dan tersenyum ketika menghadapi pengunjung yang sedang membayar.


"Cantik," gumam Max sambil tersenyum melihat Cherry yang sedang tersenyum pada pengunjung.


Max segera mengalihkan pandangannya ketika Cherry menoleh ke arahnya. Dia berpura-pura untuk sibuk dengan pekerjaannya.


Lucas tersenyum memperhatikan Max dan Cherry yang saling mencuri pandang. Bahkan dia terkekeh melihat mereka yang terlihat malu-malu sehingga tidak berani bertatapan.


Setelah beberapa waktu, pengunjung cafe pun sedikit demi sedikit meninggalkan cafe. Suasana yang lenggang itu membuat mereka sedikit bisa bernafas.


"Lucas, kita istirahat makan dulu. Aku sudah mengirim pesan pada chef untuk memasakkan kita makanan. Tolong kamu suruh siapkan di meja jika sudah selesai dibuat," tutur Max sambil menepuk pundak Lucas.

__ADS_1


Max duduk di kursi yang biasanya mereka gunakan untuk makan bersama. Dia melihat ke arah Cherry yang sedang sibuk menghitung uang.


"Cher, kalau sudah selesai ke sinilah. Kita makan bersama," seru Max yang masih melihat ke arah Cherry.


Tentu saja sikap Max dan Cherry itu selalu menjadi perhatian tersendiri bagi karyawannya. Mereka membicarakan tentang Max dan juga Cherry.


Max, bos mereka yang terlihat mempesona itu selalu bersikap manis pada Cherry yang sering bersikap sinis padanya. 


Mereka juga memperhatikan sikap Max dan juga Cherry setiap bersama. Mereka menyesalkan sikap Cherry yang seolah tidak suka dengan Max, tapi terlihat jelas jika Cherry sering mencuri pandang pada Max.


Cherry segera beranjak dari area kasir dan duduk di dekat Max karena pas sekali kedatangan Cherry bersamaan dengan Lucas yang duduk di depan Max.


Selang beberapa detik, seorang waiter mengantarkan minuman yang sudah disiapkan oleh Max sebelum dia duduk di kursi tersebut.


"Silahkan Pak," ucap waiter tersebut ketika meletakkan semua minuman tersebut di atas meja.


Tiga buah jus dengan berbagai varian rasa sesuai kesukaan Max, Lucas dan Cherry. Serta tiga buah air putih sudah berada di atas meja. 


Selang beberapa detik, waiter lain mengantarkan makanan di meja tersebut. Kini, sudah tersaji tiga macam hidangan di atas meja tersebut. 


Max mengambil makanan pada piringnya. Kemudian dia memberikannya pada Cherry. Max tahu jika Cherry menyukai semua menu yang tersaji di meja tersebut. Semua itu dia tahu ketika makan bersama keluarga Cherry.


Cherry terkejut mendapatkan piringnya yang diambil alih oleh Max dan diganti dengan piring milik Max yang sudah terisi dengan makanan.


Lucas menahan senyumnya. Dia berusaha keras untuk berekspresi biasa saja agar Max dan Cherry merasa nyaman bersamanya.


Cherry merasa canggung mendapatkan perlakuan seperti itu dari Max. Tapi dia berusaha bersikap biasa saja. Sayangnya, senyumnya pun terlihat kaku.


Sedangkan Max, dia juga tidak tahu apa yang dilakukannya. Dia melakukannya tanpa sadar. Dan dia pun juga merasa canggung. Tapi dia bisa menutupinya dengan baik. Max tersenyum manis pada Cherry sehingga Cherry tidak mengetahui kecanggungannya.


Suasana di meja tersebut menjadi hening. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring di meja itu.


"Max!"


Terdengar suara yang memanggil Max tidak jauh dari mejanya.

__ADS_1


Max, Lucas dan Cherry melihat ke arah tersebut. Mata Max terbelalak ketika melihat orang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.


__ADS_2