Mas Badut, I Love You!

Mas Badut, I Love You!
Bab 9 Calon menantu


__ADS_3

Seketika Max dan Cherry menoleh ke arah sumber suara. Di sana sudah ada Fahmi, papa Cherry yang sedang menikmati kopinya.


"Papa?! Bukannya Papa masih ada di kantor jam segini?" tanya Cherry yang merasa heran dengan papanya yang sudah berada di rumah pada saat ini.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka Papa berada di rumah?" tanya Fahmi seolah menuduh Cherry.


Seketika Cherry berjalan mendekati papanya dan memeluknya seraya berkata,


"Gak mungkinlah Cherry berry sweety nya Papa ini bisa tidak suka jika Papa berada di rumah."


Max menahan tawanya mendengar Cherry yang sedang merayu papanya saat ini. Dalam hati Max berkata,


Aku akan manfaatkan sikap dia yang seperti itu nanti. Lumayan, aku bisa mempunyai hiburan tersendiri mulai saat ini.


"Apa ini yang namanya Max, pacar kamu itu?" tanya Fahmi dengan tegas seolah dia tidak merespon rayuan dari putrinya.


Seketika Cherry melepaskan tangannya yang sedang memeluk papanya seraya berkata,


"Kan Cherry sudah bilang Pa. Max itu bu–"


"Benar Om. Perkenalkan, saya Max, pacar Cherry, putri Om," sahut Max sambil mengulurkan tangannya.


Mata Cherry terbelalak mendengar perkataan Max yang menyela ucapannya. Dia memelototkan matanya pada Max, berharap Max tidak berkata macam-macam pada papanya.


Sayangnya Max tidak peduli dengan peringatan dan ancaman dari Cherry. Dia tetap dengan rencananya sendiri.


Sialan si wajan datar Maxim ini. Kenapa dia jadi ngaku pacarku? Apa memang dia suka padaku? Eh, mana mungkin. Dia kan gak ada romantis-romantisnya sama aku. Atau mungkin dia mempunyai rencana lain? Tapi… apa ya? Cherry bertanya-tanya dalam hatinya.


Arini masuk ke dalam ruang tamu dengan membawa beberapa gelas minuman, snack dan juga kue. Kemudian dia duduk di kursi sebelah suaminya setelah meletakkan minuman dan juga kue serta snack tadi di atas meja.


"Bagaimana Max menurut Papa?" tanya Arini yang seolah menanyakan pendapat suaminya tentang calon menantunya.


"Ma, ini maksudnya apa?" sahut Cherry yang semakin bingung dengan situasi mereka saat ini.


"Papa hanya ingin bertemu dengan pacarmu," jawab Arini sambil tersenyum manis pada putrinya.


"Mama! Tapi kan Max itu–"


"Kapan kalian akan menikah? Atau paling tidak kalian harus bertunangan terlebih dahulu," sahut Fahmi dengan tegas dan menatap Max.


"Menikah? Tunangan? Apa-apaan ini?" tanya Cherry yang seolah tidak percaya dengan pendengarannya.


Max merasa heran dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh papa Cherry. Kemudian dia berkata,


"Maaf Om, kami baru saja pacaran, jadi kami belum memikirkan hingga ke arah per–"

__ADS_1


"Jadi kamu tidak serius dengan putri saya? Beraninya kamu mempermainkan putri kesayangan saya dengan menciumnya di depan rumah kemarin. Berapa kali kamu menciumnya?" tanya Fahmi yang sudah emosi mendengar jawaban Max.


Max terkejut mendengar pertanyaan papa Cherry yang mengatakan dia pernah mencium Cherry. Dia mencoba mengingat-ingat pertemuannya bersama dengan Cherry hingga saat ini mereka berada di rumah Cherry. Sayangnya ingatan Max tetap mengatakan jika dirinya tidak pernah mencium Cherry meskipun hanya sekali saja.


"Pa, kami tidak pernah berciuman," sahut Cherry mencoba menjelaskan kesalahpahaman itu pada papanya.


"Benar Om. Saya tidak pernah mencium Cherry sama sekali," ucap Max mencoba membela dirinya.


"Tunjukkan fotonya Ma," perintah Fahmi pada Arini.


Arini mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja dengan layar yang memperlihatkan foto Max saat berbisik pada Cherry kemarin malam di depan rumahnya. Hanya saja foto tersebut terlihat nyata seperti Max mencium pipi Cherry.


Cherry mengambil ponsel mamanya dan Max pun mendekat untuk melihatnya bersama dengan Cherry.


Seketika mata mereka terbelalak melihat foto mereka sendiri. 


"Ini… ini… kenapa ini jadi begini Max?" tanya Cherry bingung sambil menunjuk layar ponsel tersebut.


Max menggelengkan kepalanya pada Cherry. Dia sendiri tidak mengetahui mengapa dirinya tampak seperti sedang mencium pipi Cherry.


Glek!


Max menelan ludahnya ketika melihat Fahmi yang terlihat sangat marah padanya. Tatapan mata Fahmi seolah mengatakan tidak terima dengan apa yang diperbuat olehnya pada putrinya.


Max menghela nafasnya yang terasa sangat berat. Tanpa berpikir panjang lagi Max pun berkata,


Sontak saja Cherry menoleh ke arah Max. Dengan refleknya dia berkata,


"A-apa? Aku?"


"Bagaimana Cherry? Kamu tidak menganggap main-main hubungan kalian bukan?" tanya Fahmi dengan tegas. 


Dengan cepatnya Cherry menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau membuat papanya bertambah marah karena dia takut akan berpengaruh pada uang sakunya.


Fahmi oun tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Bagus… kalau begitu kami tunggu kedatangan kedua orang tuamu untuk membicarakan kelanjutan hubungan kalian."


Seketika badan Cherry dan Max terasa lemas. Mereka berdua yang hanya menganggap remeh ucapan Fahmi, kini mereka menanggung akibatnya. 


Mereka berdua saling menatap seolah saling menanyakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Tapi mereka berdua tidak ada yang tahu. Mata mereka berdua seolah mengatakan, sebaiknya kita jalani saja.


"Ayo diminum Max dan coba cicipi kue buatan Mama," ucap Arini untuk mempersilahkan Max menikmati suguhannya.


Cherry terkejut mendengar mamanya memanggilkan dirinya dengan sebutan mama untuk Max. Dia memicingkan matanya pada mamanya dan berkata,

__ADS_1


"Hah?! Mama? Sejak kapan Mama menjadi mamanya Max?" 


Dengan santainya Arini menanggapi pertanyaan putrinya itu dan berkata,


"Max kan calon mantunya Mama. Tidak mungkin Max akan selamanya memanggil Mama dengan sebutan Tante."


Sontak saja Cherry menghela nafasnya mendengar perkataan mamanya. Dalam hatinya dia berkata,


Kenapa malah jadi ribet gini sih?


"Benar kan Max?" tanya Arini yang mencari dukungan dari Max.


Max tersenyum kaku seraya menganggukkan kepalanya. Jujur saja, dia juga tidak mengerti mengapa dia seolah terjebak dengan kejahilannya sendiri. Dalam hati Max berkata,


Aku membuka cafe itu karena aku menolak perjodohan yang diajukan oleh orang tua wanita songong itu. Tapi, sekarang aku terjebak dengan gadis lucu ini. Apa sebenarnya rencana Tuhan untukku?


"Ayo kita makan dulu. Kebetulan Mama sudah memasak yang spesial buat kita semua," ajak Arini seraya beranjak dari duduknya.


"Tapi Ma, Max sedang bekerja. Dia tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaannya," sahut Cherry yang seolah mengusir Max saat itu juga.


Arini kembali duduk. Dia menatap Max dengan tatapan kecewa dan berkata,


"Benarkah Max?"


"Kamu bekerja di mana Max?" sahut Fahmi dengan rasa ingin tahunya.


"Maaf Ma, Pa. Maaf jika saya belum mengatakan pekerjaan saya. Saya mempunyai usaha cafe kecil-kecilan di sekitar sini. Dekat juga dengan kampus Cherry. Dan ini, saya bawakan makanan dari cafe saya," jawab Max sambil memberikan kantong plastik berwarna putih dengan label dan tulisan cafe milik Max dan di dalamnya terdapat beberapa box makanan.


Arini terlihat sangat senang menerima kantong plastik tersebut. Kemudian dia berkata,


"Wah, kami selalu bangga dengan anak muda yang berani punya usaha sendiri tanpa mengandalkan orang tuanya. Benar kan Pa?" Arini bertanya pada suaminya untuk mendapatkan dukungannya.


"Benar sekali. Papa lebih mengapresiasi anak muda yang berani berkreasi daripada hanya mengandalkan harta orang tuanya. Papa bangga sama kamu Max," tukas Fahmi dengan senyumannya.


Cherry tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dalam hati dia menggerutu,


Kenapa jadi begini? Mama dan Papa sepertinya sudah menganggap Max sebagai calon menantunya. Bagaimana ini? Lebih baik aku bawa Max pergi sekarang juga agar pembicaraan mereka tidak lebih jauh lagi.


"Ayo Max, kita berangkat. Aku kan jadi kasir di cafe kamu," ucap Cherry seraya menarik tangan Max agar cepat berdiri dari duduknya dan pergi dari rumahnya.


Max pun berdiri dari duduknya dan berkata,


"Sebentar Cher, belum pamit sama Mama dan Papa."


"Ma, Pa, kita berangkat…!" seru Cherry seraya menarik dengan sekuat tenaga tangan Max agar ikut dengannya.

__ADS_1


 


__ADS_2