
"Hah?! Tunangan?!"
"Tunangan?!"
Max dan Cherry berkata bersamaan. Mereka kaget mendengar perkataan dari Fahmi, papa Cherry.
Tentu saja Max tidak menduga jika dia harus bertunangan dengan Cherry. Dia memang merasa nyaman dan senang berada di dekatnya, tapi dia tidak merasakan cinta padanya. Entah belum atau Max yang tidak sadar meskipun dia sudah dua kali menempelkan bibirnya dengan bibir Cherry.
Cherry pun demikian. Dia memang tertarik pada Max, tapi dengan sikap Max yang mengesalkan itu membuat Cherry untuk berusaha tidak tertarik padanya.
"Pokoknya Papa dan Mama tidak mau tau. Lebih baik kalian bertunangan secepatnya," ujar Fahmi dengan tegas.
Sedangkan Arini, dia hanya diam saja menyetujui keputusan suaminya. Baginya Max dan Cherry memang lebih cepat bertunangan agar mereka sebagai orang tua bisa tebih tenang melepas Cherry ketika bersama dengan Max di mana pun itu.
"Cherry gak mau Pa," sahut Cherry dengan tegas.
Fahmi menatap Cherry dengan tatapan tegas yang terkesan sangat menakutkan dan berkata,
"Kenapa? Bukannya kalian pacaran?"
Cherry sangat panik, dia lupa jika status mereka pacaran jika di depan kedua orang tuanya dan di depan sahabat Max, serta di depan Bella.
"I-iya Pa. Tapi kan kita baru saja pacaran," jawab Cherry dengan gugup.
Fahmi mendengus kesal. Pasalnya putrinya sendiri yang menolak permintaannya. Padahal dia perempuan dan akan menjadi pihak yang merugikan jika dia terlalu lama berpacaran.
"Pacaran kalian sangat mengkhawatirkan. Kalian pulang malam dan ini, kalian sering berada dalam ruangan berdua, terlebih di dalam kamar. Papa tidak mau tau, pokoknya kalian harus secepatnya bertunangan," tutur Fahmi dengan tegas sambil melihat Max dan Cherry secara bergantian.
"Tapi Pa, kita gak ngapa-ngapain," sahut Cherry yang berusaha keras merubah keputusan papanya.
Fahmi melihat ke arah Max dan berkata,
"Max, saya tunggu kedatangan kedua orang tuamu secepatnya."
Setelah mengatakan itu, Fahmi segera meninggalkan ruangan tersebut diikuti oleh Arini yang tidak berkomentar apa pun.
"Pa! Papa! Cherry gak mau buru-buru nikah Pa! Papa! Jangan sekarang! Cherry gak mau nikah sekarang!" seru Cherry berusaha merubah keputusan papanya.
Namun, sepertinya keputusan Fahmi sudah bulat. Dia tidak mendengarkan ucapan Cherry yang terdengar sangat keberatan. Dia berlalu begitu saja tanpa menjawab apa pun.
Cherry menghela nafasnya dengan lemas. Dia berjalan ke arah Max dan duduk di dekat Max seraya berkata,
__ADS_1
"Bagaimana ini Max? Sekarang kita harus apa?"
Max menoleh ke arah Cherry dan tersenyum melihat wajah lesu Cherry saat ini. Tangan Max terulur dan mengusap lembut rambut Cherry seraya berkata,
"Tenang saja Cher, pasti nanti ada jalan keluarnya."
Cherry menoleh ke arah Max yang ada di sampingnya dan menatap tajam padanya. Kemudian dia berkata,
"Kenapa kamu gak berusaha merubah keputusan Papa?"
"Percuma saja Cher, Papamu sudah membuat keputusan dan aku rasa itu sudah tidak bisa dirubah," jawab Max sambil terkekeh.
Tatapan mata Cherry semakin menghunus padanya. Dia memicingkan matanya dan berkata,
"Sepertinya kamu sangat ingin sekali menikah denganku."
Max pun mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Cherry yang terlihat kaget saat itu. Max tersenyum manis dan bergerak mendekati pipi Cherry.
Seketika mata Cherry tertutup. Dia mengira Max akan melakukan hal lain saat itu, ternyata Max berbisik di telinga Cherry,
"Lebih baik kita pura-pura menerima keputusan Papa kamu dan kita harus bisa mengulur waktunya saja."
Sontak saja mata Cherry terbuka setelah mendengar bisikan dari Max. Dia merutuki kebodohan dirinya yang seolah Max akan melakukan hal yang lain padanya.
Max menahan senyumnya. Dia tahu jika Cherry saat ini sedang gugup karena ulahnya.
Max kembali mendekatkan bibirnya pada telinga Cherry dan berbisik kembali,
"Kita cari alasan yang tepat setiap Papa dan Mama bertanya masalah pertunangan kita."
Cherry menoleh ke arah Max sehingga bibir Max menabrak pipi Cherry. Keduanya terlihat sangat kaget dan terpanah dengan saling menatap mata mereka.
Mata mereka berdua saling terkunci sehingga selama beberapa menit mereka saling menatap.
Akhirnya mereka tersadar ketika terdengar suara dering telepon dari ponsel Max.
Mereka berdua terlihat sangat gugup dan salah tingkah. Entah mengapa mereka seperti itu. Padahal mereka hanya saling menatap dan tidak berciuman.
Sepertinya mereka saling menyelami mata yang mereka tatap sehingga mereka salah tingkah dan gugup setelahnya.
"Sepertinya aku harus kembali ke cafe," ucap Max sambil memperlihatkan layar ponselnya yang tertera nama Lucas di sana.
__ADS_1
Cherry hanya menganggukkan kepalanya dam berkata,
"Hati-hati Max."
Max yang sudah berdiri dari duduknya tersenyum seraya berkata,
"Iya Sayang."
Seketika rona merah tersirat pada wajah Cherry. Kali ini dia tidak bisa menutupi kegugupannya. Dia hanya mengalihkan pandangannya dengan melihat ke lain arah.
"Jangan khawatir soal tadi. Besok aku akan memberitahumu," tutur Max sambil terkekeh.
Kemudian dia berjalan keluar dari kamar tersebut tanpa ditemani oleh Cherry. Bahkan Cherry tidak mau memandangnya. Dia masih melihat ke lain arah.
"Huuufffttt….," Cherry menghela nafasnya sembari mengipas-kipaskan kedua tangannya di depan wajahnya.
Merasa masih tetap panas dan gerah, Cherry segera berlari masuk ke dalam kamar mandinya. Dia membasuh wajahnya menggunakan air yang mengalir dari kran wastafel berkali-kali. Setelah itu dia memandang dirinya pada cermin yang ada di depannya.
Bayangan Max yang mencium bibirnya kini hadir kembali. Bahkan bayangan pada saat Max tidak sengaja mencium pipinya pun kini terbayang dengan jelas pada cermin tersebut.
"Aiisssh… apa-apaan aku ini. Malu-maluin aja," gerutu Cherry sambil membasuh kembali wajahnya berulang kali, berharap agar bayangan Max lenyap dari matanya.
Begitu pula dengan Max. Dia merasa jika bayangan Cherry selalu menyertainya. Bahkan dia tersenyum-senyum sendiri mengingat tingkah Cherry yang terlihat lucu dan menggemaskan di matanya.
"Apa yang akan aku lakukan jika papanya Cherry memintaku untuk membawa Mama dan Papa saat itu juga untuk menemuinya?" gumam Max sembari melihat ke arah langit-langit yang ada pada kamarnya.
Memikirkan hal itu membuat Max tidak sengaja tertidur. Sepertinya badan dan pikirannya sama-sama capek saat ini.
Keesokan paginya, Max dikejutkan dengan pesan yang dikirim oleh papanya. Pesan itu mengatakan bahwa Max diminta hadir untuk makan siang bersama dengan Bella.
Max yang baru saja bangun tidur mendapatkan pesan seperti itu, dia merasa kesal. Dia melempar ponselnya ke tempat tidurnya seraya berkata,
"Ck, dasar belek si tukang rusuh. Bikin mood pagiku hancur saja."
Max segera berpikir untuk mencari akal agar dia bisa lepas dari acara tersebut. Selama beberapa menit dia memikirkannya, hingga dia teringat sesuatu.
"Ahaaa… Cherry berry sweety!" seru Max sambil menjentikkan jarinya dan tersenyum lebar.
Dengan segera dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Cherry.
Di dalam kamarnya, Cherry merasa enggan berangkat ke kampusnya. Tiba-tiba saja terdengar suara notifikasi pesan dari ponselnya.
__ADS_1
Segera diambil ponselnya itu dan dibacanya.
"Apa ini?"