
Langkah Cherry yang tergesa-gesa membuat nafasnya terengah-engah. Dia menuju toilet untuk bisa mengetahui apa yang dilakukan oleh badut tersebut.
Tiba-tiba matanya terbelalak ketika melihat seorang laki-laki yang membilas make up di wajahnya menggunakan air yang mengalir di wastafel.
Wajah laki-laki tersebut sudah bersih dari make up yang tebal dan terlihat susah payah dihilangkan dari wajahnya.
Wajah laki-laki tersebut sangat dikenali oleh Cherry, tapi pakaian yang dipakainya sekarang ini membuat Cherry sangat terkejut.
Apa ini? Cherry berkata dalam hatinya dengan menutup mulutnya karena kaget.
Hatsy! Hatsy! Hatsy!
Seketika laki-laki tersebut menoleh ke arah Cherry yang sedang kewalahan dengan bersinnya.
"Cherry?!" celetuk laki-laki tersebut yang terlihat sangat kaget mendapati Cherry berada tidak jauh dari tempatnya.
"Max, kamu–"
Hatsy! Hatsy! Hatsy!
Laki-laki tersebut adalah Max. Dia terkejut hingga tidak mampu berkata-kata ketika melihat Cherry berada di sana.
Seketika Max segera masuk ke dalam bilik toilet untuk mengganti pakaiannya agar Cherry tidak lagi bersin-bersin melihatnya.
Cherry yang terkejut masih saja belum beranjak dari tempatnya berdiri saat ini. Apalagi dengan bersinnya yang kini menyerangnya, dia sibuk dengan keadaannya saat ini.
Tidak lama setelah itu, Max keluar dari salah satu bilik toilet yang dimasukinya. Dia memandang Cherry yang kini juga memandangnya.
Mata mereka saling menatap. Sepertinya mereka saling berkomunikasi melalui mata mereka.
"Cher, aku–"
"Kamu membohongiku Max!" ucap Cherry dengan menahan kekesalannya.
Max melangkah maju, sayangnya Cherry melangkah mundur sehingga mereka tetap berjarak.
"Aku gak ada maksud bohongi kamu Cher. Aku hanya gak mau kamu menjauhiku karena aku lah yang menjadi badut saat itu," ujar Max dengan wajah mengiba pada Cherry.
Cherry merentangkan tangannya ke depan untuk menghentikan Max yang kembali bergerak mendekatinya seraya berkata,
"Stop Max!"
Cherry membalikkan badannya berniat akan meninggalkan tempat tersebut, sayangnya Max menghentikannya dengan kata-katanya.
"Aku berbohong karena aku gak mau kehilangan kamu Cher! Aku gak mau jauh darimu!"
__ADS_1
Mendengar perkataan Max, Cherry menoleh kembali menghadap Max dan berkata,
"Apa maksudmu Max?"
"Seperti yang aku bilang. Aku gak mau kehilanganmu. Sepertinya aku menyukaimu," tutur Max sambil tersenyum manis pada Cherry.
"Sepertinya?" sahut Cherry yang mempertanyakan keseriusan Max.
"Ya, aku rasa aku memang menyukaimu Cher. Apa kamu mau menjadi pacarku?" tanya Max dengan tatapan mata serius pada Cherry.
Cherry melongo tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia menatap Max dan berkata,
"Aku benar-benar gak nyangka jika setelah kebohonganmu terbongkar, kini kamu menyatakan perasaanmu padaku di toilet."
Sontak saja Max terkejut mendengar perkataan Cherry. Dia tidak sadar jika sedang berada di toilet dan menyatakan perasaannya pada Cherry.
"Emmm… maaf Cher, aku… nanti aku ulangi lagi ya Sayang, kamu bisa jawab nanti pada saat aku menyatakan perasaanku kembali padamu," ujar Max dengan kikuk dan malu.
"Gak perlu Max, kamu membohongiku dan aku gak suka itu," sahut Cherry dengan tegas.
Setelah itu Cherry berlari meninggalkan tempat itu menuju mobilnya.
Max terpaku mendengar perkataan Cherry yang terdengar menolak pernyataan hatinya.
Namun, beberapa detik kemudian dia tersadar jika dia harus mengejarnya dan menjelaskan padanya.
Dia berusaha untuk menghentikan mobil Cherry, sayangnya Cherry mengemudikannya dengan kecepatan tinggi sehingga tidak mudah dikejar oleh Max.
Dengan keahlian Max dalam mengemudi, dia yakin jika bisa menyusul mobil Cherry meskipun dengan kecepatan tinggi.
Kini terjadilah kejar mengejar antara mobil Max dengan mobil Cherry. Hingga pada saat mobil Cherry terjebak lampu merah, mobil Max berada di sampingnya.
Max menurunkan kaca jendela mobilnya dan berseru pada Cherry yang mobilnya ada di sebelah mobilnya.
"Cher, buka kaca jendelanya! Dengarkan aku!"
Semua pasang mata yang ada di sana memperhatikannya. Seruan Max membuat mereka mengira jika mereka berdua sepasang kekasih yang sedang bertengkar hingga berlanjut di jalanan.
Cherry merasa tidak nyaman dipandang oleh banyak orang ketika Max berseru padanya. Dengan berat hati Cherry membuka jendela kaca mobilnya dan menatap kesal pada Max.
"Sayang, dengarkan dulu penjelasanku. Sebaiknya kita berbicara di cafe," ujar Max yang dengan sengaja memanggil Cherry dengan sebutan sayang.
Cherry melihat semua orang yang masih saja memperhatikannya, dia menghela nafasnya karena kini dia merasa terpojok dengan keadaan yang ada. Akhirnya dia menutup kaca mobilnya dan melajukan mobilnya setelah lampu lalu lintas berganti menjadi hijau.
Mobil Cherry benar-benar seperti dikawal oleh mobil Max yang berada di sebelahnya, sehingga Cherry tidak bisa berbelok menuju jalan rumahnya.
__ADS_1
"Ck, pintar sekali dia. Harusnya aku tadi lebih waspada dan memikirkan jalan lainnya," gumam Cherry yang mencebik kesal karena gagal berbelok menuju jalan rumahnya.
Akhirnya Cherry pun menuruti keinginan Max untuk berbicara di cafe. Tidak ada kesempatan untuk lepas lagi. Mobil Max selalu menggiring mobil Cherry sehingga mobil Cherry tidak bisa lepas dari jangkauannya.
Sampailah mereka di cafe milik Max. Kini mereka berdua duduk berhadapan. Max menatap Cherry dengan tatapan mengiba. Sedangkan Cherry berusaha keras untuk tidak goyah dengan pendiriannya.
Cherry mengalihkan pandangannya pada jari tangannya yang sedang memainkan kuku-kukunya.
"Cher, apa kamu tidak mau melihatku?" tanya Max yang masih menatapnya dengan tatapan mengiba padanya.
Cherry pun dengan terpaksa memandang ke arah Max dan dia merasakan tatapan Max yang begitu berharap padanya.
"Ada apa? Cepatlah berbicara. Aku sangat lelah dan ingin segera beristirahat," ujar Cherry dengan sedikit gugup.
Max menghela nafasnya, dia terlihat frustasi melihat sikap Cherry yang tidak seperti biasanya.
Max beranjak dari duduknya dan berjongkok di depan Cherry seraya memegang tangannya dan berkata,
"Cher, maafkan aku. Kamu sudah tau alasanku. Aku harap kamu bisa memahaminya."
Cherry segera menghempaskan tangan Max seraya berdiri dari duduknya dan berkata,
"Aku sudah mendengarkan mu. Aku pulang sekarang. Permisi."
Dengan langkah cepatnya dan setengah berlari, Cherry meninggalkan Max menuju mobilnya.
Max hanya bisa memandang punggung Cherry dengan rasa kehilangan yang kini terasa menyakitkan hatinya.
Max baru menyadari jika memang dia merasa candu dengan kehadiran Cherry dalam hidupnya.
Dia masih saja menatap nanar pada punggung Cherry yang perlahan menghilang dari penglihatannya.
"Max, ada apa?"
Suara Lucas yang berjalan menghampirinya membuat Max menoleh ke arahnya.
"Gak ada apa-apa. Gimana promosi online nya? Lancar?" tanya Max untuk mengalihkan pembicaraan.
"Lancar dong. Kamu sendiri gimana?" tanya Lucas yang menatap Max dengan tatapan menyelidik.
Max tersenyum menanggapi pertanyaan dari Lucas. Kemudian dia berkata,
"Voucher nya sudah habis aku bagikan. Semoga saja mereka semua datang nanti atau besok untuk menggunakannya."
Lucas menangkap senyuman Max yang terlihat getir dan memaksa. Dia menatap curiga pada Max seraya berkata,
__ADS_1
"Ada apa Max? Apa yang terjadi? Apa ada hubungannya dengan Cherry yang tadi pergi tergesa-gesa?"